
Sepulangnya dari tempat gym Anette lanjut singgah ke kediaman Juno. Anette meneliti setiap sudut ruangan unit apartemen itu. Semuanya masih tertata rapih di tempatnya. Lalu untuk apa Juno menyuruhnya ke sini.
Manusia menyebalkan.
Anette berniat untuk menghampiri menghampiri Juno. Namun baru saja membalikkan badannya, ternyata laki-laki itu sudah berada di hadapannya. Reflek Anette terperanjat kaget. Pasalnya Juno hanya mengenakan celana boxer hingga mengekspose sebagian besar tubuhnya.
Sebagai gadis normal kebanyakan, apalagi belum pernah melihahat pemandangan seperti itu di hadapannya secara langsung. Tentu saja itu membuat Anette kaget sekaligus kagum.
Anette menggelengkan kepalanya saat tersadar akan tujuannya. Apalagi jika bukan untuk mengajukan protes. Entah mengapa jika bersama Juno karakternya yang pendiam dan lemah lembut hilang begitu saja.
"Semuanya masih rapih," ucap Anette, berharap mendapat jawaban.
Juno mengangkat kedua bahunya tak acuh lalu berjalan menuju balkon. Anette membelalakan matanya tidak percaya. Gadis itu mengikuti langkah Juno sambil berkomat-kamit tanpa suara. Sebenarnya apa yang direncanakan laki-laki satu ini.
Juno berdiri di dekat pagar pembatas. Beton-beton pencakar langit dan padatnya kendaraan di bawah sana menjadi pemandangan yang ia lihat setiap harinya. Bahkan lelaki berumur 21 tahun tersebut menghapal helm salah satu pengendara roda dua di bawah sana, karena warnanya yang nyentrik dan selalu berada di jam yang sama.
"Temani aku," ucap juno memerintah tanpa mengalihkan pandangannya.
Tidak bisa menolak, Anette menurut saja dengan berdiri di samping Juno.
Juno menoleh pada Anette. "Ayo berteman, aku lelah bertengkar," ucapnya
Anette menatap Juno heran. Berteman?
"Apa maumu sebenarnya?" Tanya Anette curiga.
"Ck, kau selalu menganggap buruk niat baikku."
"Karena kau sangat memyebalkan," timpah Anette.
"Baiklah-baiklah aku minta maaf, bisakah mulai sekarang kita berteman?" Juno mengulurkan jari kelingkingnya.
"A-apa rahasiaku tetap aman?" Tanya Anette yang khawatir dengan rahasianya.
"Aku bukan ibu-ibu tukang gosip, rasasiamu aman," ucap Juno meyakinkan.
Anette tersenyum, perlahan ia membalas uluran jari kelingking Juno hingga jari kelingking mereka saling berkaitan.
"Termaafkan," ucap Anette.
"Jadi, mulai saat ini kita berteman?" Tanya Juno meyakinkan.
"Ya, kau adalah teman ke-tigaku."
Tautan jari mereka terlepas.
"Ke-tiga? lalu siapa temanmu yang lainnya?" Nada bicara Juno sedikit kecewa, bisa-bisanya ia kecolongan hingga menjadi urutan teman yang kesekian.
"Pak Robi sekretaris Pak Keanu, lalu temanmu Sam," jawab Anette seadanya.
"Kakakku tidak termasuk?" Tanya Juno lagi.
Anette menggelengkan kepalanya, "dia boss-ku."
"Bagus," juno menusap kepala Anette yang tingginya sejajar dengan dadanya.
Anette yang diperlakukan seperti itu hanya terdiam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Tiba-tiba perut Juno berbunyi, menandakan sang empunya sedang kelaparan. Tangan yang tadinya mengelus kepala Anette kini berpindah menggaruk tenguknya sendiri.
Memalukan.
Di sisi lain Anette mengalihkan pandangannya kesembarang arah. Berusaha menyamarkan bibirnya yang berkedut menahan tawa.
...
Lewat jendela bus kota Anette dapat menikmati keindahan lagit senja yang mulai berlalu. Memang tersisa sedikit awan mendung, namun tidak begitu berpengaruh.
Anette sedang dalam perjalanan pulang. Tadi ia menolak tawaran Juno untuk mengantar pulang. Sempat terjadi perdebatan kecil, namun karena Juno tidak ingin pertemanan mereka yang baru berusia 3 jam kembali rusak, jadilah ia menuruti keinginan Anette.
Bus sudah sampai di halte yang Anette tuju. Aroma pasca hujan seakan myenyambutnya yang baru saja menapakan kakinya di dataran halte.
Perumahan tempat tinggal Anette tidak jauh dari halte. Hanya perlu waktu sekitar 8 - 10 menit untuk sampai ke rumahnya.
Salah satu kebahagiaan Anette saat ini adalah, ketika dirinya bisa berjalan normal tanpa menunduk mengenakan topi dan masker yang menutupi wajahnya. Terdengar aneh, tapi inilah yang dirasakan Anette saat ini.
Para tetangganya bahkan baru dapat melihat wajah Anette beberapa minggu terakhir setelah pemulihan pasca operasi. Tidak ada seorang pun yang tahu dirinya melakukan operasi pada wajahnya, kecuali ibunya dan Juno.
sesamlainya di depan rumah, Anette menyipitkan matanya melihat mobil milik Keanu berada di depan gerbang rumahnya. Tidak ada sopir di dalamnya, sepertinya boss-nya tersebut menyetir sendiri.
Anette memasuki rumahnya. Di ruang tamu ada Keanu yang sedang berbincang dengan ibunya. Sama seperti yang Juno lakukan tadi pagi.
"Panjang umurnya, baru saja kita bicarakan ya nak Keanu," ucap Rachel saat melihat kedatangan Anette.
Keanu terkekeh mendengarnya.
"Selamat malam Pak Keanu," ucap Anette menyapa Keanu dengan tubuhnya yang sedikit dibungkukan.
"Malam," balas Keanu seperti biasa dengan senyumnya.
"Kalau begitu ibu tinggal ke belakang dulu ya nak," Rachel bangkit dari duduknya meninggalkan putrinya dengan keanu.
Anette duduk di sofa seberang Keanu yang dibatasi oleh meja kayu.
"Maaf sebelumnya, ada perlu apa ya pak? Apa ada sesuatu yang harus saya kerjakan?" Tanya Anette.
"Tidak ada, aku hanya ingin berkunjung, apa kedatanganku mengganggu?"
Anette menggelengkan kepalanya cepat
"Bu-bukan begitu pak, bapak sama sekali tidak mengganggu. Hanya saja saya terkejut melihat kedatangan bapak," jelas Anette.
Keanu terkekeh, "sebaiknya jangan memanggilku 'bapak' ketika di luar jam kantor, itu membuatku merasa tua hahaha."
"Maaf."
"Sudahlah tak apa."
"Jadi, bolehkah saya memanggil anda dengan sebutan kakak?" Tanya Anette.
"Terserah kau saja."
Tiba-tiba terdengar suara Rachel dari arah dapur, "An, ayo ajak nak Keanu makan malam bersama."
"Ayo bap-eh kak kita makan, kak Keanu tidak keberatan kan?"
"Tentu tidak, ayo."
Saat jalan beriringan menuju meja maka, tiba-tiba tangan keanu bertengger di punggung Anette.
Tadi sore Juno yang mengelus kepalanya, sekarang Keanu merangkul punggungnya. Ada apa dengan adik kakak tersebut?
Bisa-bisanya membuat Anette yang memang tidak terbiasa berkontak fisik dengan lawan jenis menjadi salah tingkah.
...
Yang cantik mah selalu di depan.