
Hari ini kesabaran Anette benar-banar diuji. Mulai dari keanu yang menolak makanan buatannya, marah-marah tidak jelas, hingga mengabaikannya.
"Kak," panggil Anette.
"Aku boss-mu, bicaralah yang sopan," ucap Keanu datar.
Ucapan Keanu membuat Anette merasa ada ribuan jarum menusuk hatinya.
Anette menundukan kepalanya. "Maaf, a-aku hanya ingin menyelesaikan masalah kemarin."
Keanu tetap diam dengan wajah datarnya. Pandangannya tetap mengarah pada laptop sambil terus menggerakan kursor di tangannya.
"Aku dan Juno tidak ada hubungan apa pun, kami hanya berteman."
"Lalu untuk apa kau berada di sana, hmm?" Tanya Keanu tanpa mengalihkan pandangannya.
"Untuk membantunya merapikan apartemen," jawab Anette jujur.
"Kau bekerja untukku An, bukan padanya!" Bentak Keanu.
"Maaf," lirih Anette seraya menundukan kepalanya.
Keanu menghampiri Anette dan memegang kedua bahunya.
"Benar hanya untuk itu?" Tanya Keanu memastikan.
"Iya."
Keanu memeluk tubuh Anette. "Maaf, aku hanya tidak suka milikku diganggu."
Anette membalas pelukan Keanu.
"Jangan mengulanginya, aku tidak suka," ucap Keanu.
Anette mengangguk. "Iya, aku janji."
Keanu mengecup kepala Anette.
Di jam makan siang Keanu bilang ia ada urusan mendadak. Laki-laki tersebut datang ke sebuah restauran seorang diri tanpa Anette atau pun Pak Robi yang biasa menemaninya.
Keanu menghampiri seorang wanita berambut sebahu yang tengah menyesap secangkir kopi.
"Oh hi Kee, silahkan duduk," ucap wanita tersebut.
Bukannya duduk, Keanu malah memeluk wanita itu dengan erat. Wanita berambut sebahu itu ikut berdiri dan membalas pelukan Keanu.
"Aku merindukanmu Wilona, sangat!" Lirih Keanu dengan suara paraunya.
"Me too baby," balas wanita bernama Wilona tersebut.
For your information, saat ini mereka berada di ruangan privat.
Keanu membelai sisi wajah Wilona. Menatapnya dalam sebelum menciumnya dengan penuh rasa rindu.
*Keanu sedang dalam perjalaman pulang setelah mengantar Anette. Amarah masih menyelimuti hatinya pasca menyaknsikan kekasihnya berada di kediaman adiknya sendiri.
Baru saja memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya, sebuah nomor tidak dikenal memanggilnya.
"Ya hallo."
"Kee ini benar-benar kau?" Tanya perempuan di seberang sana dengan suara parau.
"Ya, ada apa?"
"Aku merindukanmu Kee," lirihnya perempuan itu.
Keanu mengernyitkan keningnya. Jantungnya berdetak dengan cepat. Ia mulai menyadari suara wanita itu.
"Wilona, apa itu kau?" Tanya Keanu memastikan.
"Iya Kee, ini aku."
"Apa kau baik-baik saja? Mengapa kau menghilang beritu saja?"
"Sebaiknya kita bertemu Kee, apa besok kau sibuk?"
"Tidak-tidak, aku tidak sibuk. Baiklah, besok kita bertemu. Kau atur saja tempatnya."
"Baiklah, aku sangat merindukanmu Kee."
"Aku pun begitu," balas Keanu*.
Di ruangan Keanu, Anette yang merasa bosan melihat-lihat buku -buku yang tersusun di rak khusus. Anette mengetuk-ngetuk teriap pinggiran buku hingga pandangannya tertarik pada sebuah buku binder bercover biru muda.
Anette membuka buku tersebut. Pada halaman pertama terdapat foto Keanu yang sedang berciuman dengan dirinya? Wajah gadis yang dicium keanu sangat mirip Anette. Namun Anette yakin itu bukan dirinya. Pasalnya foto tersebut terlihat sudah cukup lama.
Anette kembali membuka lembar selanjutnya. Di sana terdapat foto hitam-putih wanita tadi yang sedang tersenyum ke kamera, berlatarkan jendela besar yang menampilkan gedung-gedung tunggi.
Di bawah foto tersebut ada sebuah tulisan tangan.
Senyum terakhirmu yang dapat kulihat, aku merindukanmu Wilona.
Begitulah isi tulisannya.
Anette meraba wajahnya. Lalu ia membuka aplikasi kamera di ponselnya untuk membandingkan wajahnya dengan sosok wanita yang berada di foto tersebut.
"Aa karena wajah ini Kak Keanu memilihku?" lirih Anette.
Reflek Anette menyembunyikan buku tadi di balik tubuhnya. Secara diam-diam Anette kembali menyelipkan buku tersebut di antara buku-buku yang tersusun di rak.
"Hi An, sedang apa?" Tanya Keanu menghampiri Anette.
"Eh- aku hanya beres-berek kak," kilah Anette.
"Owh baiklah."
Keanu duduk di kursi kebesarannya sambil mengetikan sesuatu di ponselnya. Iaki-laki itu tersenyum ketika mendapat balasan pesan dari sebrang sana.
Anette lanjut berpura-pura merapikan susunan buku. Sesekali ia meliri ke arah Keanu yang terlihat bahagia sekali dengan ponselnya.
...
Kali ini Anette pulang dengan menaiki bus. Tadi Keanu beralasan ada acara keluarga di rumahnya hingga tidak bisa mengantarkan Anette pulang. Padahal ada hal yang ingin Anette tanyakan.
Setiba di halte Anette langsung berjalan menuju rumahnya. Saat tinggal melewati beberapa rumah lagi, tiba-tiba sebuah motor sport berwarna hitam menghadang jalannya. Si pengendara tersebut turun dari motornya dan menghampiri Anette.
"Juno-"
"Ikut aku," Juno langsung menarik tangan Anette agar menaiki ke motornya. Tak lupa laki-laki dengan tinggi 188 cm tersebut memakaikan helmet ke kepala Anette.
Juno melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Anette yang takut terhuyung ke belakang otomatis memeluk erat pinggang Juno.
"Juno aku takut Kak Keanu melihat kita," ucap Anette sedikit mengeraskan suaranya.
"Tenang saja," balas Juno.
Tak butuh waktu lama mereka telah sampai di sebuah club malam di pusat Kota Jakarta. Anette memegang ujung jaket Juno dan berlindung di balik tubuh besar tersebut.
Seperti club malam pada umumnya, tempat tersebut minim pencahayaan disertai musik keras. Aroma alkohol dan asap rokok seakan menjadi aroma khas dari termpat tersebut.
"Juno kenapa kita ke sini?" Tanya Anette.
Juno tidak menjawab dan membawa Anette ke table yang telah ia pesan. Di sana sudah ada teman-teman Juno. Dua laki-laki dan dua perempuan.
"Hi guys," sapa Juno pada teman-temannya seraya bertos ria.
"Akhirnya kau datang juga, eh- siapa gadis itu?" Ucap teman Juno yang berambut keribo.
"Kenalkan, dia Anette kekasihku," ucap Juno dengan entengnya.
Anette yang berada di sebelah Juno menatap laki-laki tersebut penuh tanya dengan kening mengkerut.
"Hi," sapa semuanya.
"Aku Jamie," ucap si laki-laki berwajah oriental.
"Aku Gia," ucap perempuan berwajah western dengan dress sexynya.
"Aku Monnie," ucap perempuan berambut keriting sepinggang dengan baju yang tak kalah sexy dari Gia.
Anette tersenyum kepada mereka. Di sebelahnya Juno sedang menghisap sebatang rokok lalu mengepulkan asapnya. Membuat Anette yang tidak terbiasa dengan asap rokok terbatuk-batuk.
Melihat Anette yang terbatuk hebat, Juno segera mematikan rokoknya di atas asbak. Laki-laki itu mengusap-usap punggung Anette. Anette menepisnya.
"Hahaha sepertinya dia gadis baik-baik," ucap Bimo sambil tertawa.
"Tentu saja," balas Juno.
"Apa kau juga masih perawan?" Tanya Monnie pada Anette.
"Iya," jawab Anette polos.
"Pfftt hahaha," Monnie dan yang lainnya tertawa.
Kecuali Juno. Laki-laki tersebut menatap tajam ketiga temannya.
"Oke-oke sorry, sebaiknya kita ke dance floor guys. Biarkan pasangan baru ini bersenang senang," ajak Monnie pada Bimo dan Gia.
Saat ini di table hanya tersisa Anette dan Juno. Manusia berbeda jenis yang tadi dikira sepasang kekasih.
"Sebenarnya apa tujuan kau melakukan ini?" Tanya Anette.
"Untuk memperkenalkan kamu sebagai kekasihku," Juno lalu menyesap seloki minuman.
Anette menatap Juno tak percaya, "aku kekasih kakakmu Juno."
Juno melempar ponselnya pada Anette. Ia kembali menuang minuman ke gelasnya.
"Buka file video!" Perintah Juno yang kemudian kembali menyesap minumannya.
Dengan bingung Anette membuka file video, di sana hanya terdapat satu video. Anette segera memutar video tersebut.
Baru separuh video tersebut diputar Anette segera melempar ponsel tersebut pada si empunya. Gadis itu berlari keluar dari bangunan tersebut. Juno segera mengejarnya.
Anette berlari dengan air mata berjatuhan. Hingga sebuah tangan menariknya ke dalam pelukan. Kepalanya membentur dada bidang Juno.
Awalnya Anette memberontak, tapi lama kelamaan gadis tersebut luluh lemas. Ia mengeluarkan tangisnya sepuas mungkin. Berharap tangisannya dapat menguapkan rasa sakit yang menggerogoti hatinya.
...
Kenapa nih?