
Anette POV
Aku terbangun dari tidurku. Eh- mengapa aku tidak bisa menggerakan tubuhku, terasa ada yang menindih perut dan kakiku. Dengan mata yang masih terpejam aku meraba sesuatu yang menindih perutku menggunakan jariku. Sebuah tangan besarlah yang aku rasakan melingkar di perutku. Apa ini tangan buna? Tapi tangan ini terlalu besar.
Perlahan aku membuka mata dan menyesuaikan pengelihatanku dengan cahaya sekitar. Hal pertama yang kulihat adalah dada bidang berbalut kaos hitam polos. Reflek aku mendengakan kepalaku untuk melihat wajah orang tersebut.
Astaga Juno! Ingin rasanya memberontakan tuhuhku. Namun apa daya, untuk menggerakan tangan saja rasanya sendi-sendiku sangat linu. Ya Tuhan, aku tidak lumpuh bukan?
"Jun, juno.." panggilku dengan suara serak khas bangun tidur. Aku mengetuk-ngetuk lengannya menggunakan jari telunjukku.
Juno mulai mengerjabkan matanya. Laki-laki tampan itu menguap seraya mengucek matanya seperti anak kecil.
"Eh-An, maaf," Juno segera membebaskanku dari rengkuhannya dan beranjak duduk.
Juno menatap jam tangannya. "Sudah jam 10, kau tetaplah istirahat. Aku akan keluar sebentar untuk membeli makanan dan obat untukmu," ucap Juno.
Juno beranjak ke toilet terlebih dahulu sebelum pergi meninggalkanku di apartemen ini seorang diri. Aku memaksakan tubuhku untuk beranjak duduk dan berhasil. Oh Tuhan, selama mens baru kali ini Aku merasa sesakit ini.
Aku beranjak dari kasur menuju kamar mandi dengan langkah gontai. Aku membasuh wajah dan mengganti pembalutku. Karena tidak ada sikat gigi aku hanya berkumur menggunakan obat kumur milik Juno.
Baru saja aku kembali mendudukan diri di ranjang, tiba-tiba ada suara seorang wanita memanggil Juno.
"Juno!"
Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar. Di ambang pintu sana seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Hara, ibunda Juno. Ia menatapku kaget lalu menghampiriku.
"An, mengapa kau bisa ada di sini, di mana Juno?" Tanyanya.
Ya Tuhan.. apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin Nyonya Hara berpikir yang tidak-tidak.
"A-aku-"
"Loh momy ada di sini," ucap Juno yang baru datang dengan dua kantong plastik di tangannya.
Tiba-tiba Nyonya Hara menjewer telinga Juno, membuat Juno meringis kesakitan. Aku hanya bisa menatap Juno prihatin.
"Mengapa bisa ada seorang gadis di kamarmu hmm. Apalagi dia kekasih kakakmu sendiri Juno!" Ucap Nyonya Hara memarahi Juno.
"Aww sakit mom, aku bisa jelaskan."
Nyonya Hara menghentikan jewerannya.
Juno mengusap-usap telinganya yang memerah. Ia menghampiriku dan duduk disisi ranjang.
"Sekarang Anette telah menjadi asistenku mom. Dia sedang sakit, aku hanya ingin menolongnya," jelas Juno.
Juno mebuka sekotak bubur ayam untukku.
"Lalu bagaimana dengan kakakmu, bagaimana jika dia tahu?" Tanya Nyonya Hara.
"Ka-kami sudah putus nyonya," ucapku pelan sambil menundukan kepala.
"Makanlah An, jangan lupa minum obatnya," Juno mengusap kepalaku. Astaga, apa ia tidak melihat jika ibunya sedang mengawasi.
Juno beranjak menghampiri ibunya. Tangannya merangkul wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda tersebut.
"Ayo mom, ada yang ingin mom bicarakan bukan?" Ajak Juno.
Nyonya Hara mengangguk, beliau menoleh searahku sambil tersenyum sebelum keluar dari kamar.
Aku memegang dadaku yang berdepar dengan cepat. Apakah jantungku baik-baik saja di dalam sana? Ya Tuhan, rasanya aku seperti pasangan yang sedang tertangkap basah selingkuh.
...
Juno POV
Tadi aku benar-benar terkejut saat mendapati momy berada di kamarku yang mana juga ada Anette di sana. Gadis itu terlihat tegang sekali. Hahaha, menggemaskan.
Aku meletakan segelas air putih di hadapan momy lalu duduk di seberangnya. Saat ini kami berada di meja makan.
"Apa yang ingin momy bicarakan?" Tanyaku.
"Nanti malam datanglah untuk makan malam. Kakakmu bilang ia akan membawa orang spesial. Momy kira orang itu adalah Anette, tapi.. yasudahlah itu urusan mereka," ucap momy yang masih terlihat tak percaya.
Momy memang tipikal ibu yang membebaskan anak-anaknya untuk mengambil keputusan. Apalagi momy juga tidak suka mencampuri urusan orang lain, termasuk anak-anaknya.
Aku beranjak dari kursi untuk menghampirinya. Aku berlutut di sisinya lalu meraih tangannya untuk kugenggam.
"Mom, Anette gadis yang baik," ucapku.
Sudut bibir momy tertarik berlawanan hingga membentuk senyuman yang amat cantik.
"Lalu?" Tanyanya dengan alis ditaikan sebelah.
"Aku mencintainya. Sangat!" Ucapku dengan yakin.
Momy terkekeh. Kedua tangannya menakup wajahku dan mengelusnya dengan sayang.
"Memangnya Jujun sudah tahu apa itu cinta, hmm?" Jujun adalah panggilan kesayangannya saat aku kecil.
"Aku sudah besar mom, jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi," ucapku merengek, membuat momy tertawa.
"Aku cemburu saat ada laki-laki yang berusaha mendekatinya mom. Apalagi saat Kak Keanu lebih dulu mendapatkannya. Aku sangat kacau mom," ucapku jujur mencurahkan apa yang aku rasakan selama ini.
Momy mengusap-usap rambutku.
"Anak momy sudah besar ternyata. Momy merestuimu dengan siapa pun itu asal kamu bahagia dengan pilihanmu. Emm-masalahnya sekarang, memangnya Anette menyukaimu?" Ck, dibalik kata-kata manisnya masih saja ada celaan. Ibu-ibu tetaplah ibu-ibu.
Aku menggaruk-garuk tengukku yang sebenarnya tidak gatal.
"Juno akan berusaha mom. Juno pasti bisa!" Ucapku dengan yakin dan lantang.
Kami berpelukan erat. Jujur aku merindukan pelukan ini. Akhir-akhir ini momy sibuk menemani papa yang gila kerja.
"Kalau bisa nanti malam kamu ajak Anette," bisik momy.
Duh, bagaimana ini?
...
Author POV
Juno memapah tubuh Anette memasuki mansion keluarganya. Saat ini Anette mengenakan dress hitam selutut. Rambut panjangnya digerai dengan sebuah jepitan ala Korea yang menghiasi rambut indahnya. Sedangkan Juno, laki-laki jangkung itu tampak gagah dengan tuxedo hitamnya.
Tadi pagi ibunya memang berpesan untuk berpakaian formal.
Di meja makan sudah ada Hara, Demian, Keanu, dan seorang wanita cantik yang tak lain adalah Wilona.
Juno mengeratkan rangkulannya pada pinggang Anette saat sudah sampai di meja makan.
"Selamat malam," sapa Juno.
Anette tersenyum dan sedikit menundukan tubuhnya sebagai pada mereka.
"Hi An, ayo duduk di sini momy," Hara seraya menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.
Juno membantu Anette untuk duduk.
"Terimakasih," ucap Anette.
Keanu terlihat terkejut melihat kedatangan Anette. Sedangkan di sisinya, Wilona juga tampak terkejut melihat gadis yang wajahnya sangat mirip dengannya tersebut.
Anette menunduk sopan saat pandangannya bertemu dengan Keanu. Ia berusaha untuk tidak menagis melihat pemandangan menyakitkan di hadapannya.
Mengapa Juno mengajaknya ke acara ini, apa ia sengaja melakukannya untuk menunjukan pada Anette bahwa ada seseorang yang lebih pantas bersanding dengan Keanu?
Tiba-tiba tangan Juno menggenggam tangan Anette yang sedang memilin ujung dressnya. Anette juga merasakan laki-laki tersebut mendekatkan wajahnya pada telinganya.
"Tunjukan jika kau bahagia tanpanya," bisik Juno yang dianggukki pelan oleh Anette.
Juno mengecup singkat pelipis Anette sebelum menjauhkan wajahnya. Hal tersebut tak luput dari perhatian yang lainnya. Juno tersenyum sinis pada sang kakak.
Pipi Anette bersemu merah. Juno benar, ia harus menunjukan pada Keanu bahwa dirinya kuat dan sudah merelakan laki-laki tersebut.
...
Hi mantan, oh iya aku gapunya😆