Oplas

Oplas
bab 67



Nindi yang saat itu keluar dari rumahnya hendak pergi ke kantor di hadang oleh seseorang di hadapannya, Nindi menatap wajahnya "Lidia, kenapa" membuat wanita di depannya itu pun berekspresi kesal.


"Kenapa, aku ke sini mau kasih perhitungan dengan kamu. Karena kamu sudah menghianati aku" tunjuknya.


"Maksud kamu apa Li."


"Aku aku akan membuat kamu dipecat dari kantor wanita oplas itu sehingga kamu akan menjadi pengangguran."


"Maaf Lidia terserah kamu mau bicara apapun tapi kamu tidak akan mudah membuat aku dipecat karena ibu Hiara sangat percaya denganku 100%" Lidia yang mendengar ucapan Nindi itu pun segera meletakkan tangannya di pundak Nindi.


"Kamu baru kerja kantoran saja dan jabatan tinggi langsung bicara sombong seperti itu."


"Aku tidak mau kita bermusuhan, aku ingin kita selalu berteman dan kamu harus tahu aku bekerja bersama dengan Ibu Hiara itu bukan keinginan tetapi itu kewajibanku sebagai seorang tulang punggung keluarga" ucap Nindi menjelaskannya.


"Au tidak peduli dan ingat aku akan membuat kamu dipecat agar kamu merasakan apa yang aku rasakan" ucapkan Lidia itu membuat Nindi hanya menggelengkan kepalanya.


Nindi tidak menjawab lagi debat sehingga langsung meninggalkan Lidia dan masuk ke dalam taksi online yang sudah berada di hadapannya itu "Wanita kepala dua aku tahu kalau jabatannya tinggi tapi aku juga akan membuat dia percaya kalau aku bisa lebih dari wanita operasi itu" ucap Lidia di dalam hatinya dan berjalan sambil menatap di daerah sekitar.


Sesampai di praktek dokter aku pun bersiap untuk membuat video mempromosikan alat yang sudah dokter ciptakan, baru saja selesai membuat video suara HP ku pun bergetar.


Aku melihat panggilan dari ayah sehingga aku mengangkat teleponku, Ayah pun mengajakku untuk segera menemuinya di rumah makan sore nanti.


"Kenapa?" tanya dokter.


"Ayah menyuruh aku ke rumah makannya jam 03.00 sore nanti, tapi karena ini sudah jam makan siang aku harus segera makan dan balik lagi ke kantor."


"Baik lah aku antar kamu."


"Dokter sudah membuang waktuku sangat banyak hari ini, semua pekerjaan baru ku di handle kan ke sekretarisku. Kamu tahu kan dokter kalau waktu itu adalah uang jadi kamu sedang membuang-buang uangku hari ini" tunjukku kepada dokter sehingga dokter yang mendengar ucapanku itu pun tertawa terbahak bahak.


"Kalau berhasil, kalau tidak aku rugi jauh."


"Udahlah sekarang ayo saya antar kekantor."


Tiba di kantor pun aku melihat banyak sekali karangan bunga yang berada di luar kantor "Ini ada apa ya" ucap dokter membuat aku hanya berpikir yang aneh-aneh.


"Mana ku tahu" jawab ku pun.


Kami berjalan masuk bersama dokter "dokter pulang aja, selesai kan antarnya" usirku membuat dokumen menggelengkan kepalanya.


"Enggak, aku masih penasaran dengan bunga-bunga ini. Aku akan ikut kamu untuk cari tahu siapa yang sebanyak ini kasih kamu."


"Terserah deh."


"Kamu sok cantik banget sih sampai-sampai harus diberikan bunga sebanyak ini."


"Memang aku cantik kok, dokter saja yang selalu manggil aku wanita gendut tapi laki-laki lain tetap memandang aku wanita cantik."


Dokter pun menggelengkan kepalanya tapi para karyawan yang sedang pergi bersama-sama ke arah ruangan ku "Ini ada apa?" tanya ku bingung.


Semuanya karyawan menoleh ke arahku melihat itu pun mereka menjawab "Tadi Bu ada dari toko bunga banyak banget di sini, kami pun mengusir mereka agar tidak merangkai bunga itu bersama ibu Nindi tapi mereka tetap ingin merangkainya terus, bahkan ada yang mengancam kami bahwa mereka akan membakar kantor ini kalau kami melarang mereka untuk meletakkan bunga-bunga ini di sini. Akhirnya kami pun tidak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa menonton."


"Siapa pelaku yang memberikan bunga sebanyak ini, oh iya kamu panggil Nindi masuk ke ruangan saya" perintah ku, sehingga karyawan itu mengangguk dan pergi meninggalkan aku.


Aku yang masuk ke dalam ruangan ku sangat kaget melihat semua bunga-bunga yang banyak seolah sedang berlibur di taman bunga.