Oplas

Oplas
bab 73



"Siapa orang yang memberi nama anjing gila ini, udahlah lebih baik aku coba masuk lagi ya siapa tahu orangnya masih ada" ucapnya berjalan cepat di depan pintu ruangan Hiara saat masuk tadi,


Pada saat membuka pintu ruangan itu Feri dan Lidia pun datang menghampirinya "dokter" teriak Lidia sehingga Dokter Teguh melepaskan tangannya untuk membuka pintu tersebut "kamu kenapa" tanya Dokter Teguh.


"Yang harus bertanya itu aku, dokter ke sini mau ngapain. Ini malah mau masuk ke ruangan itu" ucap Feri membuat Dokter Teguh gelagapan.


"Enggak, nggak, nggak masuk ruangan ini. Ya udah ayo kita pulang aja" langsung menarik tangan Lidia untuk pergi.


"Aku pulang bersama Feri saja, aku nggak mau pulang sama dengan kamu" ucap Lidia sehingga membuat Feri kesal "tidakkkk, kamu tidak boleh bersamaku. Sekarang lebih baik kamu pergi bersama dokter itu" Feri pun melihat tidak ada Hiara sekelilingi itu.


"Hiara pasti sudah pulang" ucap Feri dalam hatinya langsung pergi keluar disusul dengan Lidia dan dokter.


"Tunggu sayang, kamu itu harus antar aku pulang" teriak Lidia memegang erat tangan Feri.


Dokter Teguh pun segera pergi masuk ke dalam mobilnya melihat sepasang sejoli itu bertengkar "lepasin, kita sudah tidak ada hubungan lagi Lidia dan aku tidak ingin berdekatan lagi sama kamu" Feri melepaskan pegangan Lidia dan masuk ke dalam mobil.


Mendengar kata-kata kasar Feri itu pun Lidia kesal "kamu boleh seperti ini hari ini, tapi aku akan buktiin kalau kamu akan tekuk lutut lagi di hadapanku seperti dulu lagi ingat itu" celoteh Lidia sambil melihat mobil Feri pergi sampai ke jauhan di hadapannya.


Aku yang saat itu di perjalanan pulang bersama dengan dokter Nando dan Jaya "Kak Ayo dong Kak ceritain?" tanya Jaya dengan nada yang sangat-sangat penasaran.


"Emangnya apa yang harus aku ceritain."


"Kakak bilang tadi mau ceritain semuanya, itu siapa sih Kak dan terus ada apa sebenarnya" Sifat Jaya memaksa pun tidak bisa aku tolak.


"Oke, oke, oke, oke aku akan menceritakan semuanya itu. Di dalam ada anjing gila" belum melanjutkan ucapan ku, aku dan Dokter Nando di buat kaget oleh Jaya yang menghentikan mobilnya mendadak.


"Anjing gila, kak gimana ada yang luka tangan dan kaki kakak digigit sama anjing gila itu" ucap Jaya sambil menoleh ke belakang dan memegang tanganku, melihat Jaya memegang tangan ku Dokter Nando pun segera berpura-pura batuk "Hem, ehem, ehem" langsung menjitak kepala Jaya.


Jaya pun melepas pegangan tangannya dari ku "Aku tidak apa-apa, anjing gila itu adalah sebutannya sehingga semua orang takut sama dia. Tapi aku tidak takut, dia memberikan aku satu kebun bunga di kantor. Karena dia ingin mengucapkan terima kasih kepadaku sebab waktu itu aku membantunya, tapi tenang saja karena aku sudah tahu siapa dia dan dia juga tidak punya perasaan apapun dengan aku niatnya hanya untuk mengucap terima kasih jadi kalian berdua tidak perlu khawatir" Jaya pun bernapas lega.


"Untung saja" Dokter Nando pun menjitak kepala adiknya lagi sampai berteriak kesakitan.


"Apanya yang untung, kamu bawa mobil rem mendadak membuat jantung lepas dari gantung" kesalnya membuat aku tertawa.