Oplas

Oplas
bab 51



Aku memegang pundak Feri "aku sudah memaafkan kamu tapi aku tidak bisa melupakan kejadian itu" ucapku segera berjalan masuk ke dalam mobil.


Dokter yang melihat aku hendak masuk ke dalam mobil segera mengatur posisi duduknya seperti semula.


Dokter segera menghidupkan mobilnya dan kami segera pergi dari tempat itu, dokter pun menghentikan mobilnya di depan kliniknya "dok kita kenapa ke sini" tanya ku kepada dokter.


Dokter pun melentikkan jarinya ke keningku "ini otak selalu saja lupa kan, sudah aku bilang kemarin kalau hari ini aku akan mempraktekkan ke kamu alat untuk penurun berat badan. Ayo masuk" dengan posisi yang malas aku pun segera keluar dari mobil berjalan mengikuti dokter.


"Dokter alatnya gimana sakit nggak?" dokter pun tersenyum "yang namanya sakit-sakit itu kamu kan sudah biasa, ingatkan berapa puluh jarum yang di tancapkan pada ujung kaki sampai ujung kepala kamu."


"Itu kan dulu dok, tapi sekarang aku udah nggak mau lagi."


"Wah, wah ratu oplas ini sekarang sudah insaf. Yang namanya oplas tidak akan bertahan waktu lama kalau kamu tidak bisa menjaga kondisi tubuh kamu dengan benar "ucapan dokter."


Aku mengikuti langkah kakinya masuk di ruangan tertentu "sekarang duduk" aku pun segera duduk saat dokter mengambil sesuatu di lemarinya.


"Coba kamu timbang berat badan kamu" aku berdiri menimbang lagi berat badanku, saat di lihat angkanya masih sama seperti semalam.


"Berarti belum turun, apa kamu tadi makan makanan yang banyak karbo" mendengar ucapan dokter aku pun tertawa"hehehe" aku meledek kan bibirku kepada dokter.


"Sudah ketahuan, seharusnya kamu hentikan makan karbo kalau semalam sudah makan banyak banget" dokter mengocehi aku hingga aku hanya bisa diam.


Dokter pun mengeluarkan alatnya, aku melihat alat itu "lucu banget" sambil memegang alat itu.


Dokter memukul tangan ku "lepas" ucapnya "sekarang berbaring, tarik baju mu ke atas"aku pun menarik sedikit bajuku.


Dokter memasangkan alat itu ke perutku dan saat itu pun aku merasakan ada yang aneh seperti ada yang menyedot perutku saat dokter menggosok-gosokkan perutku, begitu banyak keringat yang keluar dari tubuhku karena alat itu.


"Selesai" dokter membersihkan keringat yang ada di perut ku.


Aku pun berdiri menimbang berat tubuh ku, aku melihat timbangan itu sampai kaget "wah turun 2 kilo" teriakku.


"Yessss, berhasil" dokter kegirangan "berarti aku harus meningkatkan daya tekniknya agar aman di gunakan untuk menurunkan berat badan secara cepat" saat itu pun aku hanya tersenyum melihat dokter yang kegirangan seperti itu.


"Kalau gitu aku bisa makan banyak dong" sambil memegang alat itu lagi.


"Telingaku kamu dengar baik-baik ya, alat Ini percobaan kalau kamu menggunakannya setiap hari akan berefek samping untuk reproduksi. Alat ini baru percobaan jadi jangan ambil efek sampingnya, aku tahu apa yang ada di otak kamu" teriaknya kepadaku.


"Berarti ini cocok untuk laki-laki" senyumnya sambil menjulurkan lidahnya.


"Terus kamu mau apa?" sambil mengembalikan hp ku.


"Proses perceraian ku sebentar lagi juga selesai jadi aku akan segera menendang dia dari rumah" ucap ku.


"Ya udah terserah kamu, sekarang ayo pulang" dokter pun mengajak aku pulang, namun saat kami hendak pulang tiba-tiba "profesor, eh om" sapaku.


Dia pun tersenyum sumringah "kebetulan" ayo langsung menarik tangan kami berdua "papa mau ke mana" teriak Dokter Nando.


"Udah cepetan ikuti aku" ucapnya mempercepat langkah kakinya.


Kami berdiri di depan mobilnya, om pun mengambil sesuatu di mobilnya serta memberikan "ini" kami memegang masing-masing satu.


"Ini apa pa" tanya Dokter Nando.


"Loh apa kamu ngak lihat, satu untuk mantu dan satu untuk kamu" tunjuknya.


"Iya aku tahu tapi ini apa isinya?" tanya Dokter Nando lagi.


"Lihat, lihat, lihat ini" om pun mengambil tas itu dan memperlihatkan isi di dalamnya "ini baju satu untuk kamu dan satu lagi untuk mantu, ini dipakai untuk acara besok ya. Maaf ya mantu kebetulan sekali kamu ada di sini sebenarnya Om ke sini langsung menemui Nando untuk mengajak ke rumah kamu mengantar baju ini tapi kebetulan kamu ada di sini makanya langsung kasih. Jadi besok kalian harus pakai baju yang sama dan harus menjadi couple yang paling keren di acara besok" aku pun hanya mengangguk mendengar ucapan Om tersebut.


"Ya udah sekarang kamu mau pulang kan, Nando kamu antar mantu jaga dia baik-baik ya. Papa mau ke dalam mau memeriksa bagaimana klinik baru kamu ini" ucapnya berjalan meninggalkan kami.


"Makasih om" teriakku sehingga dia pun melambaikan tangannya, kami pun segera pergi dari tempat tersebut.


Dokter pun mengantar aku pulang ke rumah, aku yang keluar dari mobil "Makasih ya dokter."


"Sama-sama" jawab dokter aku pun masuk kedalam rumah, semua orang menoleh ke arah ku. Aku yang saat itu berjalan mendekati mereka melihat Feri sedang duduk disana bersama mereka.


Ibu yang saat itu melihat ke arah ku segera menarik tangan ku "kamu lihat ini dia datang ke rumah ini" ucap Ibu menunjuk Feri.


Mama pun langsung berdiri "Kamu tidak boleh berbicara seperti itu, ini kan juga rumah anak ku jadi dia berhak kemari dan Hiara juga belum bercerai dengan Feri" ucap mama mertua, aku pun tersenyum mendengar jawaban Mama mertua itu.


"Dia ini kan jahat sama seperti mamanya, jadi kamu usir aja dia" ucap ibu hingga mama pun emosi mendengar ucapan Ibu tersebut "Hei kamu ya sukanya cari gara-gara wanita norak, anakku ini tidak mungkin pergi meninggalkan rumahnya" mereka pun akhirnya bertengkar.


"Hentikan" teriakku sehingga mereka pun berhenti "silakan dia tinggal di sini, dia boleh tidur di kamar tamu yang kosong. Aku dan dia sedang mengurus surat perceraian dan Feri pun sudah menandatangani surat itu sehingga kami tinggal menunggu surat dari pengadilan bahwa aku dan dia sudah resmi bercerai, sebelum surat itu datang dia boleh tinggal di sini tapi saat surat itu keluar aku ingin dia angkat kaki dari rumah ini, karena rumah beserta isi semuanya sudah menjadi milik ku. Ayah, papa dan kakek sudah menjadi saksi atas semua warisan ini" mendengar ucapanku pun itu pun mama, Meri dan Feri pun terkejut.


"Ya udah aku capek, aku mau masuk ke kamar" aku pun pergi meninggalkan mereka Ibu, Ayah dan Hito pun segera menyusul ku dari belakang.