Oplas

Oplas
bab 53



"Aku cuma mau mengantar kamu ke kantor" ucapan Feri itu membuat aku tersenyum.


"Tidak perlu aku sudah ada sopir" mendengar jawaban ku itu pun Feri hanya diam, sebelum Feri selesai berbicara lagi aku pun segera pergi meninggalkannya.


Feri yang hanya melihat aku berjalan pergi meninggalkannya, Meri pun tiba-tiba saat itu melihat kejadian itu segera menghampiri Feri. "Kakkkkkk" Feri pun kaget mendengar panggilan adiknya itu.


Feri pun menoleh "kenapa?"


"Pokoknya kakak tidak perlu bercerai dengan Kak Hiara" ucapan Meri membuat Feri tersenyum "kakak sudah menandatangani berkas-berkas perceraian dan itu pun akan keluar dalam beberapa minggu lagi. Kami juga akan resmi bercerai" jawab Feri.


"Pokoknya tidak, kakak harus punya ide agar bisa membuat Kak Hiara mengubah pikirannya itu untuk bercerai dan kakak tenang saja aku akan bantu Kakak. Jadi kakak tidak boleh berpisah, okey" ucap Meri segera pergi meninggalkan Feri.


Feri pun tersenyum mendengar ucapan adiknya itu dalam hatinya "aku akan berusaha untuk mengambil hati Hiara lagi karena aku sudah menyadari cintaku hanya untuk Hiara."


Saat aku sampai di kantor Lidia pun datang menghampiri aku yang baru turun dari mobil dengan nada emosi dia pun berteriak "kamu, apa maksud kamu" sambil menunjuk ke arahku.


Aku hanya diam mendengar ucapannya itu "kamu mengambil Nindi terus orang-orang yang yang bekerja sama bersamaku semuanya" ucapannya itu membuat Nindi mendengar pada saat itu Nindi baru sampai di kantor.


Nindi pun segera menghampiri aku dan Lidia, Nindi melihat Lidia dengan emosi dan menunjuk-nunjuk aku "penghianat, kamu kerjasama dengan dia meninggalkan aku karena aku sekarang sudah miskin kan" Lidia pun menunjuk ke arah Nindi.


Nindi menjawab "kamu salah, Lidia sekarang ayo ikut aku" Nindi pun segera menarik Lidia pergi dari hadapan ku.


Aku yang saat itu melihat tingkah laku mereka berdua segera pergi meninggalkan mereka, aku masuk ke dalam kantor dan mulai memperkenalkan diriku sebagai CEO kantor sekarang menggantikan papa mertua.


Semua orang mengucapkan selamat tapi aku sangat hapal siapa orang yang menyukai aku dan tidak menyukai aku di kantor "hari ini aku akan merubah struktur kantor beserta jabatan, yang suka boleh kerja dan yang tidak suka mau mengundurkan diri silahkan karena aku akan segera menggantikan dengan yang lain" aku segera berjalan masuk ke ruangan ku di dampingi oleh HRD yang ikut masuk.


"Hari ini seluruh nama pegawai dan pekerjaannya berikan pada ku, aku akan memanggil mereka satu persatu untuk wawancara" laki-laki setengah baya itu pun mengangguk pergi mencari dokumen yang aku pinta.


Lidia dan Nindi sedang berbicara di taman kantor itu pun penuh dengan emosi "Kenapa kamu pegang-pegang tanganku" sambil melepas genggaman Nindi.


"Kamu itu yang kenapa marah-marah kepada Ibu Hiara" teriak Nindi


"Aku sudah mengatakan kepada kamu kemarin aku yang menginginkan ini, aku memutuskan untuk tidak bekerja dengan kamu lagi karena ini yang terbaik Lidia" ucap Nindi.


"Terbaik kamu bilang, terbaik. Kamu itu penghianat jadi mana ada penghianat bilang ini yang terbaik" mendengar teriakan Lidia itu Nindi pun kesal.


"Aku udah nggak mau melihat kamu di sini, mendingan kamu pulang. Kamu ingat Lidia kalau Hiara itu bisa saja memenjarakan kamu lagi, baru kemarin kamu minta maaf sama dia sekarang kamu mau cari gara-gara. Kalau kamu masuk penjara tidak akan ada orang yang bisa membantu kamu lagi untuk keluar dari sana, Sekarang hiduplah dengan lurus jangan pernah mencari gara-gara" Nindi pun segera merapikan tasnya dan pergi meninggalkan Lidia sendirian.


Lidia yang sendirian Itu pun berteriak "Akhhhhhh" sambil mengucek rambutnya "aku akan membalas kamu Hiara" Lidia pun pergi dari tempat itu.


Saat Lidia berjalan pulang ke rumah sudah ada pihak bank yang berdiri di depan rumahnya, Lidia yang bingung itu pun segera menghampiri "apa ada apa ya" tanya Lidia sambil berjalan mendekati kepada laki-laki yang berdiri di depan rumahnya itu.


"Saya mencari pemilik rumah rumah ini yang bernama Lidia" ucapnya..


" Saya sendiri" jawab Lidia.


"Kami dari pihak bank, ibu belum membayar semua cicilan Ibu sudah menunggak selama 8 bulan. Kami akan menyita seluruh barang-barang yang sudah Ibu pakai ini" mendengar ucapan itu pun Lidia mulai emosinya "Pikir kalian aku tidak bisa membayar semua cicilan ku, aku mau membayar semuanya tapi tidak bisa sekarang karena aku perlu waktu untuk berpikir" teriak Lidia kepada mereka.


"Maaf buk kami tidak bisa menunggu waktu serta alasan ini, Ibu sudah terlambat kami akan menyita seluruhnya. Kalau Ibu sudah membayarnya maka kami akan mengembalikan semuanya sekarang, mana kunci mobil" mereka pun mengambil kunci mobil Lidia beserta mengunci rumah itu dengan lambang sita.


Lidia itu pun dia hanya diam dan tidak bisa berbuat apa-apa pihak bank pun segera pergi meninggalkan dia dan mengguna kan mobilnya pergi, Lidia pun segera duduk di depan rumahnya "sial, sial, sial, sialllll ini semua karena wanita jelek itu dia sudah mengambil orang kepercayaanku, mengambil kerjaanku, dia juga mengambil kekasihku dan sekarang dia hidup enak menjadi bos sedangkan aku kesusahan. Dia wanita pembawa sial aku tidak bisa seperti ini aku harus pulang ke rumah papa, tapi bagaimana caranya kakak pasti akan menginjak harga diri ku serta menyiksa perasaan aku lagi" celoteh Lidia.


Lidia pun membuka isi dompetnya dia melihat masih ada uang sehingga Lidia pergi naik taksi dari rumahnya itu, Lidia berhenti di depan rumah seseorang dengan cepat Lidia berjalan masuk ke rumah itu dan ternyata pada saat dia ingin masuk Lidia sudah bertemu dengannya "Kamu kenapa di sini?" tanya Dokter Teguh.


"Dokter harus bantu aku" Dokter Teguh pun bingung.


"Maksudnya?"


"Aku sekarang sendirian dokter rumahku, teman-temanku, kekasihku semuanya pergi meninggalkan aku gara-gara wanita itu. Aku ingin tinggal di sini bersama dokter" mendengar ucapan Lidia itu Dokter Teguh pun bingung "No, no, no tidak bisa kalau kamu tinggal di sini, apa yang aku dapatkan?" tanya Dokter Teguh.


"Oke, tenang saja aku akan memulai lagi dari nol. Aku akan membantu mempromosikan klinik dokter karena aku juga pasien tetap dokter kan, dokter yang sudah merubah aku menjadi seperti ini otomatis orang-orang akan percaya dan beralih ke tempat dokter" dengan percaya dirinya Lidia berkata.