Oplas

Oplas
bab 48



"Aku tahu pa kesalahanku sangat besar aku juga pantas menerima hukuman tapi apa ini yang terbaik pa, berpisah dengan Hiara seperti ini" papa tersenyum memegang pundak anaknya itu.


"Kamu sudah menghianati Hiara berarti kamu tidak menyukai dia, jadi lepaskanlah dia nak biarkanlah dia menemukan seseorang menyukai dia dengan tulus" mendengar jawaban papa pun Feri segera mengambil pena menandatangani surat itu.


"Terima kasih nak, secepat besok kamu akan bebas dan papa akan memberikan surat ini kepada pengacara Hiara."


"Iya Pa, terima kasih karena papa sudah mau membantu Feri" mereka pun saling mendukung.


Feri yang berjalan masuk ke dalam sel pun segera menggenggam erat besi sel itu "papa tidak tahu kalau aku benar-benar mencintai Hiara sekarang, tapi aku harus bebas dulu agar bisa merebut hati Hiara Najwa seperti dulu lagi" ucap Feri dalam hatinya sambil tersenyum memikirkan Hiara.


Aku, ibu, mama segera berjalan masuk ke dalam mobil. Hito pun menyusul berjalan masuk di sertai oleh Meri yang langsung duduk di depan sekali.


"Kak aku ikut" ucap Hito merebut tempat duduk di sebelah ku sehingga mama dan ibu pun duduk di belakang.


"Meri kamu kenapa sudah duduk di depan" teriak Mama.


"Aku juga mau ikut" jawab Meri santai.


"Hei, kamu itu harus kuliah kan."


Meri pun membuka isi tasnya mengambil henset meletakkan di telinganya, melihat tingkah laku Meri itu ibu tertawa terbahak-bahak "anakmu itu sama kaya kamu pemalas" ledek ibu.


Mama hanya diam tidak membalas ledekan itu dengan wajah kesal "wanita norak ini kalau bicara selalu benar bikin kesal saja" ucap mama dalam hati.


Kami semua sampai di butik ternama, semua turun dari mobil dan segera masuk ke dalam butik tersebut.


Dalam butik semuanya sibuk mencari barang-barang mereka sedangkan aku hanya diam dan tersenyum melihat pemandangan itu sambil chat kepada Dokter Nando, Hito yang sudah menemukan sepatu keinginannya berjalan mendekati aku "Kak" panggilnya.


"Kenapa?" jawabku sambil melihat ke layar hp yang aku pegang.


"Kok nggak beli atau nggak cari-cari sesuatu gitu?"


"Emangnya kenapa?"


"Kakak kan perempuan sedangkan perempuan semuanya pada suka yang shoping kayak gini."


Aku pun hanya tersenyum mendengar ucapan adikku itu "kakak nggak tertarik yang kayak gini bagi Kakak melihat kalian bahagia hanya karena ini saja sudah senang banget" mendengar jawaban ku pun Hito memelukku.


"Ini baru kakakku, lihat kak itu bukan ibu ku seluruh baju di coba. Dan Kak Meri seperti kucing di kasih ikan asin lahap betul semuanya dimasukkan ke dalam tas belanjaan" tunjuk Hito sehingga aku pun melihat semua tingkah ke 3 orang tersebut.


"Biarkan saja Hito nanti kamu di cakar kucing kalau berani masuk ke dalam tingkah mereka bertiga" Hito pun tertawa mendengar ucapan ku.


ibu yang asyik memilih-milih pada saat itu selintas memikirkan aku "Hiara pasti enggak belanja mendingan aku cari 1 buah baju untuk anak itu" celoteh ibu sambil melirik kesana kemari.


Ibu melihat 1 buah baju yang menurutnya keren untuk digunakan oleh ku, bergegas ibu berlari mengambil baju itu namun pada saat bersamaan baju itu juga ditarik oleh seseorang sehingga mereka saling rebutan "tolong lepaskan" teriak Ibu, laki-laki itu pun hanya diam tetap menarik baju itu.


"Kamu tahu enggak sih ini itu aku duluan yang dapat bukan kamu" Ibu dan laki-laki tersebut tetap memegangnya.


"Kembali kan baju ini untuk putriku" teriak Ibu, "bukan kamu saja yang suka baju ini, baju ini untuk mantuku" teriak laki-laki itu mereka tidak berhenti saling tarik-menarik sehingga karyawan disana pun datang menghampiri untuk menghentikan mereka "nanti bajunya rusak Bapak dan Ibu sehingga kalian nggak bisa memilikinya" sambil menarik baju itu ke tangannya.


Laki-laki itu pun bertanya pada karyawan tersebut "apakah baju ini masih ada."


"Maaf baju ini hanya ada satu di butik ini karena setiap bentuk dan variannya di butik ini hanya ada satu atau dua, tidak bisa lebih" ucapan itu pun membuat laki-laki itu menariknya dari tangan karyawan tersebut.


Ibu pun dengan sigap menarik baju itu dan memeluknya dari tangan laki-laki tersebut sehingga sampai laki-laki itu tidak bisa untuk mengambil lagi baju tersebut "kamu itu perempuan apaan sih, masak galak sekali itu punya aku kembalikan" Ibu pun tersenyum.


"Hei laki-laki itu harus mengalah pada perempuan ini punyaku" ucap Ibu itu sehingga membuat laki-laki kesal.


"Kami itu ya bener-bener nyebelin seperti perempuan norak" Ibu pun menginjak kaki nya setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya "sakitttt" teriaknya sambil memegang kakinya yang di injak ibu.


"Kamu tahu ya anakku kalau menggunakan baju ini pasti sangat cantik karena anakku itu cantik banget."


"Aku nggak peduli sama anak kamu aku mau itu untuk calon mantu, karena mantu ku itu sangat cantik jika menggunakan baju itu."


"Idih kalau anak perempuan ku punya mertua seperti kamu bakal ku suruh tolak karena enggak banget besanan sama laki-laki aneh."


"Idih siapa juga yang mau besanan seperti kamu norak, kasar amit-amit. Untung saja anak laki-laki ku punya pacar cantik, baik, pinter."


Ibu pun segera pergi meninggalkan laki-laki itu, laki-laki itu berjalan dengan wajah kesal hendak keluar butik namun bertabrakan dengan Hito yang berlari kesana kemari.


Aku yang melihat Hito terjatuh segera menghampirinya membantu Hito berdiri "Calon mantu" teriaknya, aku pun menoleh "Profesor, eh om" ucapku.


"Siapa?" menunjuk Hito. "Ini Hito adik kandung ku om" jawabku profesor pun langsung memegang kepala Hito.


"Om belanja juga?" tanyaku.


"Kebetulan om kesini mau membeli baju baru untuk kamu, tapi tadi om ketemu sama perempuan norak yang mengambil baju itu untuk kamu."


"Kenapa membeli untuk aku om?"


"Karena ada acara dari rumah sakit om ingin kamu datang dengan elegan bersama dengan anak ke sayangan om Nando, sehingga om memutuskan membeli baju serasi untuk kalian."


"Ngak usah repot-repot om, baju lama ku masih banyak."


"No, no, no aku yang akan pesankan baju seragam kalian berdua."


"Tapi."


"Enggak boleh nolak, kalau gitu om pamit untuk mencari baju seragam untuk kalian" Profesor pun segera pergi dari hadapanku menuju ke parkiran luar butik.