Oplas

Oplas
New Job



Sebemum memulai makan, Demian membahas tentang tujuan pertemuan malam ini pada Keanu.


"Aku ingin mengenalkan Wilona sebagai calon istriku. Kami ingin meminta restu kalian," ucap Keanu.


"Papa setuju saja jika itu pilihanmu. Gimana mom?" Tanya Demian pada Hara.


"Momy juga, momy merestui kalian," ucap Hara.


"Kau Juno, menurutmu bagaiman?" Tanya Demian.


Juno mengangkat bahunya tak acuh. "Terserah dia saja," ucap Juno.


"Baiklah, nanti kau atur saja kapan acara lamarannya digelar," simpul Demian.


"Kami ingin langsung menikah pa, tanpa melakukan lamaran," sanggah Keanu.


Demian terkekeh.


"Sepertinya kau sudah tidak sabar. Baiklah, kau atur saja sebagaimana mestinya."


"Terimakasih pa."


"Terimakasih om," ucap Wilona.


"Ayo dimakan," ucap Hara mempersilahkan.


Hara menyendokan nasi serta beberapa lauk-pauk lainnya untuk Anette.


"Kau harus banyak makan makanan bergizi supaya cepat sembuh," ucap Hara sembari mengusap punggung Anette.


Anette tersenyum. "Terimakasih mom."


...


Juno mengantarkan Anette pulang ke rumah gadis itu. Anette disambut khawatir oleh sang ibu.


"Ya Tuhan, An apa kamu baik-baik saja? Nak Juno bilang kamu sakit," ucap Rachel sambil meneliti tubuh Anette.


Anette terkekeh. "An sudah membaik buna. Juno yang menolong An," jelas Anette.


"Syukurlah," Rachel beralih menatap Juno. "Terimakasih ya nak sudah menolong An. Maaf merepotkan."


Juno menggeleng, "An sama sekali tidak merepotlan tante."


"Kala begitu aku pamit tante," Juno seraya mencium punggung tangan Rachel.


"Hati-hati," ucap Anette.


Junomengangguk, diuusapnya kepala Anette. "Cepat sembuh," ucap Juno sebelum beranjak pergi.


...


Di rumah miliknya, Keanu sedang menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Laki-laki itu menatap layar ponsel di tangannya yang menampilkan potret dirinya dan Anette di suatu kafe. Kedua sudut bibirnya tertarik saat mengingat segala tingkah polos Anette yang menggemaskan tanpa dibuat-buat.


Jujur saja, ada rasa tidak rela melihat kedekatan Anette dengan Juno. Keanu juga merasa khawatir saat ibunya mengatakan bahwa mantan kekasihnya tersebut sedang sakit.


"Maaf," itulah yang Keanu rapalkan dalam hati setelah pertemuannya dengan Anette tadi.


"Eghhh," erang seorang wanita yang sedang tidur di samping Keanu.


Wanita itu adalah Wilona. Wilona perlahan membuka matanya menatap Keanu.


"Kee," panggil Wilona seraya membenarkan letak selimut yang menutupi tubuh polosnya.


Keanu memiringkan tubuhnya menghadap Wilona. Satu tangannya terulur mengelus sisi wajah wanita itu.


"Kenapa hmm?" Tanya Keanu.


"Peluk," pinta Wilona.


Keanu terkekeh. Ia membawa tubuh calon istrinya tersebut ke dalam pelukannya. Entah kenapa Keanu merasakan suatu yang berbeda dengan hatinya saat bersama Wilona. Padahal sebelumnya ia sudah sangat yakin bahwa dirinya sangat mencintai wanita dalam pelukannya tersebut.


"I love you," ucap Wilona.


"I love you too," balas Keanu seraya mengecup Kening Wilona.


...


Drama dalam lalu lintas di Ibu Kota Jakarta pasti ada di setiap harinya. Seperti saat ini, Anette dihadapkan oleh dua orang pengendara bermotor yang dua-duanya merupakan seorang ibu-ibu. Mereka bertengkar hanya karena salah satu dari mereka merasa tersinggung saat diingatkan lampu sennya masih menyala.


"Ya ampun bu, saya kan cuma mengingatkan," kata si ibu berbaju Biru.


Si ibu berbaju pink terlihat tidak terima, "Ya suka-suka saya, motor-motor saya!"


Ulah mereka membuat bus yang anette tumpangi terhalang oleh motor mereka. Mereka benar-benar tidak mempedulikan suara klakson dan teriakan para pengendara lainnya agar minggir ke tepian.


Untung saja dua orang polisi lalu lintas yang sedang berpatroli datang melerai keduanya. Kendaraan mereka dipinggirkan ketepian, membuat pengemudi lain dapat melanjutkan perjalanan yang sempat tersendat.


Saat ini Anette dalam perjalanan menuju apartemen Juno. Setelah dua hari beristirahat total akhirnya Anette memutuskan untuk menerima perintah Juno untuk menjadi asisten laki-laki tersebut. Entahlah apa fungsi dirinya nanti sebagai asisten, karena Juno sendiri masih berstatus sebagai mahasiswa.


Jika di tempat kerja sebelumnya ia diharuskan mengenakan setelan rapih khas kantoran. Kini Anette hanya mengenakan sepatu skets, celana training, dan hoodie.


Anette membangunkan Juno dengan menepuk-nepuk punggung lebar Juno.


"Jun kau ada kelas pagi, ayo bangun," ucap Anette.


"Eghh lima menit lagi," balas Juno dengan suara seraknya.


Karena dengan cara halus gagal, akhirnya Anette memutuskan untuk mengelitiki ketiak dan pinggang Juno secara brutal.


"Juno nanti kau terlambat. Ingat kata momy kau tidak boleh membolos lagi!"


"Hey haha astaga An! Sudah ampun-ampun!" Teriak Juno.


Dengan sekali tarikan Juno berhasil membekuk tubuh Anette ke dalam pelukannya.


"Aaaa Juno lepaskan!" Teriak Anette.


"Kau yang memulai An," ucap Juno mengingatkan dengan mata memicing.


"Itu karena kau susah bangun," balas Anette tidak terima.


"Nyawa dibayar nyawa, maka kelitikan dibalas kelitikan!"


Juno mengelitiki pinggang Anette, membuat gadis itu bersorak kegelian.


"Juno lepaskan hahaha sudah! Ampun!" Anette tidak bisa menggerakan tubuhnya sedikit pun.


Juno menghentikan kelitikannya, namun tidak dengan rengkuhannya. Keduanya sama-sama terengah-engah.


Anette berusaha membebaskan dirinya. "Cepat mandi, jangan sampai telat! Semalam momy bilang kau tidak boleh membolos lagi!" Ucap Anette dengan nada mengintimidasi versi gadis tersebut. Seperti anak kecil yang sedang memprotes orang tuanya.


"Lima menit lagi," ucap Juno.


"Tidak ada lima menit lima menit, ayo!"


Dengan iseng Juno membekap wajah Anette dengan ketiaknya sebagai salam perpisahan sebelum berlari ke kamar mandi.


"Juno!!" Teriak Anette.


Anette menata sup ayam, orek tempe, dan nasi yang ia bawa dari rumah di meja makan. Ia sudah bercerita pada ibunya jika dirinya sudah berpindah boss. Entah kenapa ibunya malah terlihat senang menanggapinya.


Juno sudah rapih dengan ransel hitam yang bertengger di sebelah punggungnya. Ia menghampiri Anette yang sudah menunggu di meja makan.


"Buatanmu?" Tanya Juno yang mulai memakan makanannya.


"Buatan buna," ucap Anette jujur.


"Juno, apa tugasku selanjutnya?" Tanya Anette


"Ikuti aku kemanapun aku pergi," ucap Juno yang masih fokus dengan makanannya.


"Termasuk ke kampus?"


"Ya."


Anette mengehela nafasnya.


...


Selama Juno mengikuti kelas, Anette menunggu laki-laki tersebut di kanti. Anette memperhatikan para mahasiswa yang berseliweran. Ada yang berkelompok, ada juga yang menyendiri.


Anette sempat membayangkan jika dirinya menjadi salah satu dari mereka. Menjadi seorang mahasiswi.


Anette menyeruput jus jeruk miliknya. Tiba tiba tiga orang laki-laki menghampirinya. Satu di sebelah kanan Anette, dan dua lagi di hadapan Anette yang dibatasi oleh meja.


"Hi, sendirian saja," sapa laki-laki yang berada di sebelah Anette.


"I-iya," jawab Anette gugup. Ia merasa tidak nyaman.


"Namamu siapa?" Tanyanya laki-laki tadi.


"Aku An-"


"An kau di sini rupanya," ucap Juno yang tiba-tiba sudah berada di sebelah kiri Anette.


Syukurlah, Juno datang di waktu yang tepat. Anette segera bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Juno seakan meminta perlindungan. Juno yang paham pun melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Anette.


"Jangan pernah janggu dia lagi," ucap Juno datar dan mengimintidasi.


Juno membawa Anette menuju parkiran. Mereka menjadi pusat perhatian dari banyak pasang mata, apalagi saat melewati koridor kampus. Ada beberapa dari mereka yang merekam dan mengungnggahnya ke sosial media.


"Jun, sepertinya mulai besok aku menunggu di mobil saja," bisik Anette.


"Kau tenang saja, mulai besok tidak akan ada yang mendekatimu lagi," balas Juno.


...


Gimana-gimana?