
Dengan mengenakan baju non formal, untuk pertamakalinya Anette kembali menginjakan kakinya di perusahaan B&D. Tidak banya perubahab setelah beberapa bulan meninggalkan tempat tersebut. Banyak yang menyapanya sejak mulai memasuki pintu utama.
Setelah mengonfirmasi tujuannya pada resepsionis dan disetujui oleh Keanu di seberang telphone sana, Anette bergegas menuju ruang kerja laki-laki tersebut.
"Siang Pak Robi," sapa Anette pada Pak Robi yang sedang berkutat dengan komputernya.
"Eh-An, kau ada di sini," balaa Pak Robi.
"Iya pak ada sedikit urusan, permisi."
"Ya, silahkan."
Anette mengetuk pintu terlebih dahulu sebelun memasuki ruangan.
'Tok tok tok'
Di sana Keanu sedang duduk di sofa dengan sekotak makanan cepat saji di meja. Rupanya laki-laki tersebut sedang makan siang. Tumben sekali Keanu memakan makanan cepat saji yang setahu Anette sangat dihindari oleh mantan boss-nya tersebut.
"Selamat siang kak," sapa Anette.
"Hi An, sini duduk," saut Keanu menepuk sofa di sisinya.
Anette tidak mengikutinya. Ia malah mendudukan dirinya di single sofa.
"Ada apa An, tumben sekali kau ke sini?" Tanya Keanu.
"Ada yang harus aku bicarakan. Menyangkut Kak Wilona," jawab Anette.
"Silahkan."
"Aku tidak bermaksud ikut campur dalam persoalan rumah tangga kalian. Namun karena namaku terlibat, aku merasa ini menjadi urusanku juga. Apa benar Kak Keanu ingin menceraikannya karena aku?"
"Apa saja yang dia bicarakan padamu?" Ucap Keanu yang malah balik bertanya dengan suara datarnya. Wajahnya berubah menjadi dingin.
"Jawab kak!" Tuntut Anette.
"Ya, aku mencintaimu. Aku baru menyadarinya sebelum hari pernikahanku," ucap Keanu.
Anette terkejut mendengarnya.
"An.. aku sudah berusaha merelakanmu dengan Juno, namun itu sangat sulit. Aku selalu gagal!" Lanjut Keanu.
"Kak Wilona butuh kakak. Ia mengalami stress berat. Setidaknya apa kakak tidak mengkhawatirkan anak kalian?" Ucap Anette.
"Aku tidak yakin janin itu anakku. Dia bukan wanita baik-baik An."
"Apa kakak sudah membuktikannya?!" Tanya Anette menantang.
"Sepertinya kakak harus tahu jika gadis yang berada di hadapan kakak saat ini juga bukan gadis baik-baik." Anette menunjuk wajahnya sendiri.
"Wajah ini hasil operasi plastik!"
Keanu mengerutkan keninganya lalu terkekeh. "Tidak usah menjelekkan dirimu untuk membelanya An."
"Aku serius!"
Anette membuka ponselnya lalu membuka galeri foto. Tidak banyak foto di sana, karena Anette kurang percaya diri memotret dirinya sendiri. Anette menunjukan layar ponselnya yang menampilkan foto wajahnya, sebelum dan sesudah dioperasi.
Keanu hanya hanya bisa diam terpaku melihat foto tersebut. Anette kembali memasukan ponselnya ke dalam tas. Ia berjak berdiri.
"Hanya itu yang ingin aku sampaikan, permisi," ucap Anette sebelum berbalik pergi.
Anette bingung saat ingin membuka pintu namun tidak kunjung terbuka. Astaga! Anette mengingat sesuatu, pintu ini bisa dikendalikan dengan remot dan-.
"Kau mencari ini?" Tanya Keanu dari balik tubuh Anette.
Anette membalikan tubuhnya menghadap Keanu. Laki-laki tersebut memutar-mutar remot di tangannya sambil tersenyum licik.
"Kak, tolong buka pintunya!"
Keanu melangkah mendekati Anette. Anette terus mundur hingga punggungnya membentur pintu.
"Kau terburu-buru sekali," Keanu semakin merapatkan dirinya pada Anette. "Apa kau tidak merindukanku, hmm?"
Keanu mengelus bibir Anette, lama-lama elusannya turun ke leher dan punggung gadis tersebut. Tubuh Anette bergetar hebat. Ia berusaha mendorong dada Keanu namun tidak kunjung berhasil.
"Lepaskan kak! Bukankah kakak sendiri yang melepaskanku, kakak juga lah yang mengatakan jika aku berhak bahagia dengan orang yang tepat. Juno lah yang-,"
"Aku tarik kata-kataku! Persetan dengan wajah lamamu!" Bentak Keanu seraya meninju pintu di sisi kepala Amette.
Anette yang terkejut memejamkan matanya ketakutan. Ia memberanikan dirinya untuk membuka mata dan menatap tajam Keanu.
"Pecundang!" Desis Anette.
Keanu tersenyum sinis. Laki-laki itu seperti kehilangan akal sehatnya.
"Aku merindukanmu sayang," ucap Keanu yang kemudian mengangkat tubuh Anette seperti karung beras.
Keanu membanting tubuh Anette di atas sofa. Ia melepaskan dasinya untuk mengikat tangan Anette di atas kepala gadis itu. Tubuh Anette sulit bergerak karena Keanu menindih tubuhnya.
"Hiks kak lepaskan," lirih Anette dalam tangisnya.
"Tidak usah terlalu naif An, nikmati saja."
Saat Keanu akan menciumnya, Anette menolehkan wajahnya hingga laki-laki itu hanya mencium rahangnya.
"Lepaskan!" Teriak Anette.
"Jangan jual mahal An."
"Hiks kumohon lepaskan..," lirih Anette yang terus berusaha memohon pada Keanu.
"Tenang saja, aku akan melepaskanmu, tapi setelah kita bersenang-senang," bisik Keanu tepat di telinga Anette.
"********!" Teriak Juno.
Keanu tidak diam saja, ia membalas pukulan adiknya tersebut. Mereka bergumul cukup sengit sampai bergulingan di atas lantai. Kini posisinya Juno yang berada di atas Keanu sambil terus melayangkan pukulannya pada wajah Keanu.
Di pojok sofa sana Anette memeluk lututnya ketakutan. Bahkan pak Robi tidak berani ikut campur di ambang pintu.
Keanu tidak bisa melawan lagi saat pukulan di perutnya semakin menjadi-jadi. Tangannya yang terkepal berniat untuk memukul Juno namun kembali jatuh ke lantai.
Juno menghentikan pukulannya saat tak lagi mendapatkan balasan. Ia bangkit dari atas tubuh Keanu, lalu berjalan menghampiri Anette yang masih menangis ketakutan. Juno membawa Anette ke dalam dekapannya.
"Ssstt aku di sini," bisiknya tepat di telinga Anette.
"Hiks pulang.." lirih Anette sambik mengeratkan pelukannya.
Juno melepaskan pelukannya. Ia melepas hoodie kemudian memakaikannya pada tubuh Anette. Hoodie tersebut sudah cukup untuk menenggelamkan tubuh kecil Anette. Setelahnya Juno menggendong Anette seperti koala keluar dari ruangan tersebut.
"Tolong urus dia," bisik Juno pada Pak Robi saat berpapasan di ambang pintu.
Mereka menjadi pusat perhatian saat keluar dari lift sampai keluar dari gedung tersebut. Juno membantu Anette masuk ke kuri penumpang bagian depan, tak lupa ia memasangkan seat belt-nya. Juno mengitari mobil lalu masuk ke pintu kemudi. Ia melajukan mobilnya meninggalkan gedung perusahaan milik keluarganya tersebut.
Di kursinya, tubuh Anette meringkuk memeluk lututnya. Air matannya belum juga berhenti mengalir. Ia masih sangat shok atas apa yang menimpa dirinya.
Dalam diam Juno menahan amarahnya. Ia menyesal telah mengizinkan Anette mendatangi Keanu demi kakak iparnya, Wilona.
*Anette datang ke kantor Keanu ditemani Juno. Namun saat akan keluar mobil Anette menahan Juno.
"Kamu tunggu di sini saja. Biar aku sendiri yang ke dalam," ucap Anette.
"Tapi An.."
"Please.. hanya sebentar," ucap Anette seraya memegang lengan Juno.
"Baiklah.. tapi hanya sepuluh menit, jika lebih dari itu aku akan menyusulmu," ucap Juno pada akhirnya.
"Terimakasih," ucap Anette lalu keluar dari mobil.
Akhirnya Juno menunggu di dalam mobil. Ya, hanya 10 menit dan Anette akan kembali. Ia mengamati detik demi detik pergerakan waktu di jam tangannya. Sudah 10 menit namun Anette tak kunjung kembali. Juno beralih menatap pintu masuk perusahaan. Firasatnya tidak enak. Akhirnya Juno berinisiatif untuk menyusul Anette.
"Anette masih di dalam?" Tanya Juno pada Pak Robi.
"Iya Juno, Anette masih di dalam," jawab Pak Robi.
Juno sudah mengetuk sampai menggedor pintu ruangan Keanu namun tak kunjung mendapatkan jawaban. Dengan sekuat tenaga ia mendobrak pintu kokoh tersebut belasan kali hingga berhasil terbuka.
Benar saja, di sana Keanu hampir saja melecehkan gadisnya dengan. Untung saja ia datang tepat waktu. Jika tidak memandangnya sebagai kakak, tak tanggung-tanggung Juno akan menghabiskan laki-laki brengsek tersebut*.
Sesampainya di rumah Anette, Juno kembali menggendong Anette seperti tadi. Rachel dan Wilona yang sedang berbincang di ruang tamu bangkit menghampiri keduanya.
"Ada apa nak?" Tanya Rachel pada Juno.
"Nanti akan kuberitahu tante. Aku izin membawanya ke kamar," ucap Juno.
"Silahkan."
Untuk pertama kalinya Juno memasuki kamar milik Anette. Ia membaringkan gadis tersebut di ranjang dengan hati-hati. Juno mendudukan dirinya di pinggiran ranjang.
"Tenangkanlah dirimu, aku yakin kau butuh waktu sendiri," ucap Juno seraya mengusap kepala Anette.
Saat akan bangkit dari duduknya tangan Juno di tahan oleh Anette.
"Maaf, aku terlalu lemah untuk melindungi diriku sendiri," lirih Anette.
Juno menggelengkan kepalanya. "Tidak, itu bukan salahmu. Aku keluar dulu ya."
Juno beranjak keluar dari kamar. Ia menuju ruang tamu menghampiri Rachel dan Wilona yang sudah menunggunya. Juno berlutut di hadapan Rachel.
"Maafkan saya tante," ucap Juno dengan penuh rasa bsrsalah.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Anette?" Tanya Rachel khawatir.
Juno menundukan kepalanya. Ia mulai menjelaskan awal kronologinya. Rachel dan Wilona membekao mulutnya terkejut.
"Aku hampir telat menyelamatkannya. Maafkan aku.." lirih Juno.
Rchel menggelengkan kelanya. "Tidak, itu bukan salahmu. Terimakasih telah menyelamatkannya," ucap Rachel di sela tangisnya.
Tiba-tiba Wilona ikut berlutut di sisi Juno. Ia meraih tangan Rachel dan menggenggamnya.
"Aku minta maaf. Semua permasalahan ini berasal dariku. Maaf aku selalu menyusahkan kalian.." ucap Wilona.
Rachel memegang kedua bahu Wilona. "Anette menyayangimu seperti kakaknya sendiri. Wajar jika dia membelamu, apa lagi dia juga ikut terlibat dalam peemasalahan rumah tanggamu. Jadi jangan lagi menyalahkan dirimu sendiri."
Rachel menarik Wilona ke dalam pelukannya. Ia mengusap-usap punggung wanita hamil tersebut.
...
Wilona mendudukkan tubuhnya di ranjang. Di sebelahnya Anette sudah tidur meringkuk dengan wajah sembabnya. Wilona membenarkan letak selimut Anette.
"Maafkan aku. Jika saja saat itu aku tidak kembali, mungkin hubunganmu dengan Keanu masih baik-baik saja," ucap Wilona.
Wilona membaringkan dirinya membelakangi Anette. Tanpa sepengetahuannya, di balik tubuhnya Anette membuka matanya. Ia menatap sendu punggung Wilona.
Justru akulah perusak hubungan kalian, lirih Anette dalam hatinya.
Tuhan membolak balikan hati manusia bukan tanpa maksud. Salah satunya untuk menguji manusia agar bisa konsisten dengan pilihannya.
...
kalian gak salah, Author yang salah!