
Di depan cermin kamar mandi Anette memperhatikan tubuhnya yang saat ini hanya terbalutkan lingerine.
Tadi Anette telah menelphone ibunya dengan alasan, bahwa ia menginap lantaran harus menjaga Juno yang baru keluar dari rumah sakit. Anette merasa bersalah, bagaimana jika ibunya tahu jika anak gadis sematawayangnya ini melakukan sesuatu yang paling dilarang. Tapi Anette tidak ingin Juno melakukan hal tersebut pada wanita lain.
Setelah benar-benar meyakinkan dirinya, Anette keluar dari kamar mandi. Ia menghampiri Juno yang sedang bersandar di kepala ranjang. Laki-laki tersebut terlihat fokus dengan laptop di pangkuannya sampai-sampai tidak menyadari keberadaan Anette yang telah berdiri di sampingnya.
"Juno," panggil Anette pelan.
"Iy-astaga!" Juno terperanjat kaget hingga sedikit memundurkan dirinya. Bulu-bulu halus di tenguk Juno meremang.
"An, a-apa yang kamu lakukan?" Tanya Juno gugup.
saat Anette akan mendekatinya, Juno meraih selimut lalu melilitkannya di tubuh Anette.
"Juno..!"
"An jangan memancingku, atau kamu akan menyesal sayang!" Ucap Juno memperingati.
Hidung Anette kembang kempis menahan tangis. "Apa kamu tidak tertarik padaku?" tanyanya dengan suara bergetar.
Kini posisinya Anette berdiri di hadapan Juno yang duduk di tepi ranjang.
Juno menatap Anette dalam. Laki-laki itu menghela nafas panjang. Juno bangkit berdiri, dibawanya tubuh mungil yang terlilit selimut di hadapannya itu ke dalam pelukannya.
"Mengapa kamu ingin melakukannya, hmm? Tahu dari mana kau tentang hal seperti ini?" Tanya Juno mengintrogasi.
"Ka-kata Monnie dan Gia-"
"Ohh jadi mereka yang mempengaruhimu," potong Juno mengeram kesal. Bisa-bisanya kedua temannya tersebut mempengaruhi Anette sampai seperti ini.
"Aku takut kamu melakukannya dengan wanita lain. Me-mereka bilang laki-laki butuh-"
Lagi-lagi Juno memotong ucapan Anette, "Aku mencintaimu An, aku tidak mungkin melakukannya sebelum kita menikah. Walau memang tidak mudah untuk menahannya, tapi aku berusaha untuk tidak melakukannya lebih."
Juno mengecup pipi chuby Anette. Ia melepas pelukannya pada tubuh Anette.
"Terimakasih Juno," ucap Anette.
"Jangan mengulanginya lagi. Kali ini mungkin aku bisa menahannya, tapi tidak tahu jika nanti kamu melakukannya lagi," ucap Juno.
Juno mendekatkan bibirnya ke. telinga Anette lalu berbisik, "tubuhmu indah, aku menyukainya."
"Dasar laki-laki!"
Anette menggunakan kepalanya untuk memukul punggung Juno.
"Hahaha," Juno malah tertawa. "Kamu tahu? Saat ini kamu terlihat seperti ulat daun pisang, hahaha."
"Juno!"
...
Di rumah besarnya, Keanu sedang membuatkan susu ibu hamil untuk istrinya yang sedang menunggu di ruang keluarga. Wilona sedang melewati masa trimester awal yang begitu berat. Jika ibu hamil lainnya bertambah gemuk karena kehamilannya, tubuh Wilona malah terlihat semakin kurus.
Sejak satu bulan acara resepsi mereka, hubungan keduanya justru terlihat semakin merenggang. Sikap Keanu semakin kesini semakin dingin. Wilona merasa suaminya tersebut hanya memberikan perhatiannya pada jabang bayi yang sedang tumbuh di rahimnya.
Keanu berjalan menghampiri Wilona. Ia memberikan segelas susu pada Wilona.
"Terimakasih Kee," ucap Wilona.
Wilona selalu menampakan senyum manisnya walau garis-garis kelelahan sangat kentara di wajahnya.
Tangan wilona bergerak mengelus perutnya yang mulai sedikit membuncit.
"Jangan khawatir, kami mencintaimu," ucap Wilona pada anaknya di dalam sana.
Wilona beranjak pergi ke kamar. Di sana Keanu sedang bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponsel. Wilona bergabung menyenderkan tuhuhnya di kepala ranjang.
"Kee," panggil Wilona.
"Hmm?" Keanu hanya berdehem tanpa menolehkan kepalanya.
Wilona meraih ponsel Keanu lalu meletakannya di atas meja nakas.
"Naa!"
"Aku ingin bicara," ucap Wilona.
"Bicaralah."
"Aku merasa kamu semakin jauh."
"Itu hanya perasaanmu saja," kilah Keanu.
"Ini nyata Kee, sikapmu semakin dingin padaku. Aku minta maaf jika aku berbuat kesalahan. Please.. jangan diam terus," lirih Wilona.
Dengan gerakan tiba-tiba Keanu mengcengeram wajah Wilona dengan satu tangannya.
"Ya, aku menyesal telah menikah denganmu!" Keanu melepaskan cengkramannya dengan kasar.
Keanu menunjuk ke arah perut Wilona. "Anak itu, aku masih ragu jika itu anakku. Setelah pertemuan kita, aku baru melakukannya sekali!" Seru Keanu.
"Demi Tuhan! Ini anak kamu Kee, hiks. Aku tidak pernah melakukannya dengan laki-laki mana pun," ucap Wilona ditengah isakannya.
"Setelah anak itu lahir aku akan melakukan tes DNA. Jika dia bukan anakku kita akan bercerai," sungut Keanu sebelum keluar dari kamar.
"Hiks, demi Tuhan Kee.. demi Tuhan ini anak kamu," ucap Wilona dalam tangisnya.
Hati wanita mana yang tidak sakit jika dituduh yang tidak-tidak oleh suaminya sendiri. Dengan tubuh lemasnya Wilona berjalan menuju walking closet. Ia memasukan baju-bajunya ke dalam koper miliknya secara tidak beraturan.
Wilona sudah tidak bisa menahan kesabarannya. Ia tidak ingin semakin stress dan kembali berimbas pada kandungannya. Kemarin tanpa sepengetahuan Keanu Wilona pergi ke dokter kandungan karena mengalami pendarahan kecil. Dokter bilang ia tidak boleh stress karena membahayakan kandungannya.
Wilona menyeret kopernya keluar dari kamar. Ia sedikit kesusahan saat menuruni anak tangga. Wanita hamil tersebut berjalan melewati Keanu yang sedang berbaring di sofa tanpa menghiraukan suaminya tersebut.
Keanu yang melihat Wilona melaluinya sambil membawa koper besar segera berjalan cepat mengjampirinya. Ia menahan lengan wanita tersebut hingga berbalik menghadapnya.
"Mau kemana kau?" Tanya Keanu sambil mengerutkan keningnya.
"Aku butuh waktu sendiri. Aku akan pulang ke apartemenku," jelas wilona.
"Biar kuantar," ucap Keanu yang dibalas helengan kepala oleh sang istri.
"Aku ingin sendiri, permisi."
Wilona melepaskan lengannya dari tangan Keanu. Ia berjalan keluar dari rumah menuju garasi mobil. Wilona mengendarai mobil miliknya sendiri. Air matanya kembali tumpah.
...
Bau-bau pakboy menyeruak