
"Ibu kenapa sih rese banget harus cubit tangan segala" kesalku kepada ibu.
"Habisnya kamu bukannya puji ibu malah ngomelin Ibu melulu" Aku pun segera pergi meninggalkan ibu.
"Dasar anak nakal" ibu pun menghadap cermin sambil menatap wajahnya yang sudah perawatan itu.
Aku pun segera masuk ke kamar kakek, saat aku melihat ternyata Kakek sedang tertidur pulas melihat kakek yang tertidur itu pun aku tersenyum dan keluar dari kamar.
Bik Ija pun berada di depan pintu kamar melihat aku "non Kakek baru saja tidur."
"Iya bik nggak apa-apa, kalau gitu aku langsung berangkat aja."
"Mau ke mana non?"
"Aku mau ke tempat rumah makan barunya Ayah, mau lihat-lihat persiapannya."
"Ya udah hati-hati non, Oh iya non" ucap Bik Ija.
"Kenapa bik?"
"Nggak, nggak apa-apa tadi salah sebut aja."
Aku pun tersenyum segera pergi meninggalkan Bik Ija, Bik Ija yang berada di depan pintu pun sepertinya ragu ingin mengatakan sesuatu kepada Hiara "kalau aku ceritakan pada non Hiara nanti bagaimana nasib nyonya dan tuan atas kelakuan Non Meri, Santi dan Sinta" ucap Bik Ija dalam hatinya.
Aku pun pergi menaiki taksi untuk berangkat ke tempat ayah, sesampai di sana aku melihat ayah sedang sibuk sekali "ayahhhhhhh" panggilku.
Ayah pun menoleh ke arahku "kamu nggak kerja?" tanyanya.
"Sudah yah, udah selesai semuanya. Aku mau bantu ayah di sini."
"Boleh tapi kamu mau bantu apa."
"Ayah ini lagi ngapain."
"Ayah mau masak untuk tukang-tukang yang bekerja, yang sudah membantu kita."
"Kalau gitu aku yang akan bantu ayah masak."
Ayah mengangkat jempolnya tanda setuju, kami pun memasak bersama-sama untuk tukang. Tinggal satu masakan lagi "Gula dan Garam habis, coba deh Hiara belanja di minimarket sebelah sana" ucap ayah sambil menunjuk ke minimarket seberang toko.
Saat hendak menyeberang tiba-tiba dari kejauhan ada mobil sangat ngebut, sehingga aku pun menoleh dan berteriak "aaaaaaa" namun mobil itu tiba-tiba berhenti pas di hadapanku tanpa menyentuh tubuhku.
Aku yang masih gemetaran pun memegang wajahku "aku masih hidup" seseorang di dalam mobil pun terdiam saat melihat ke arahku di depan mobilnya.
Aku pun spontan dengan marah memukul pintu mobil orang tersebut, saat pengendara mobil tersebut keluar ternyata dia adalah Lira.
Melihat aku yang ada di hadapannya "kamu nggak papa, apa ada yang luka. Gimana kalau kita ke rumah sakit saja" dengan kesal aku pun menampar wajahnya sampai ia pun kaget.
"Kamu sengaja mau mencelakai aku, ngak lucu" aku pun pergi meninggalkannya masuk ke dalam minimarket, Lira pun tersenyum ikut masuk ke dalam minimarket.
"Kamu ngikutin aku?" tanyaku kepada Lira.
"Enggak, aku mau beli air es dingin untuk mengompres wajahku. Sakit sekali tamparan yang sudah kamu berikan kepadaku" Aku pun tidak memperdulikan Lira sehingga aku mengambil gula dan garam serta membayarnya.
Aku langsung pergi Lira pun tetap mengikuti aku dari belakang, saat aku menyebrang ternyata mengikuti aku juga.
Saat ingin masuk aku pun marah berteriak kepadanya "kamu itu sengaja ikutin aku, aku ngak suka di ikutin. Pergi sana" usirku kepadanya.
Mendengar aku yang berteriak itu Ayah pun keluar dan menghampiri aku "Hiara ada apa ini?" tanya ayah.
Aku pun menunjuk ke arah Lira, ayah yang melihat orang itu pun tersenyum dan berjalan mendekatinya "Apa kabar pak, kenapa Bapak kemari?" tanya ayah sehingga membuat aku terdiam.
"Hiara kemari" Ayah pun memanggilku sehingga aku pun berjalan mendekati mereka. "Perkenalkan ini adalah Lira ,dia adalah orang yang sudah memberikan suntikan dana untuk rumah makan kita ini karena dia ingin bekerja sama dengan kita" jelas ayah.
"Apaaaa dia" tunjukku "kenapa ayah bisa-bisanya bekerja sama dengan ayah" ucapku dalam hati, sambil melotot ke arah.
Lira pun tersenyum "apa yang saya lakukan hari ini hanya ingin melihat sudah berapa persen selesainya usaha ini, karena kan besok ada launching pertama pembukaan rumah makan ini" Lira sambil tersenyum ke arahku.
"Apa yang diinginkan laki-laki ini, sepertinya dia merencanakan sesuatu" ucapku dalam hati.
"Oh iya pak ini adalah Hiara anak kandungk?" tunjuk ayah ke arahku.
"Enggak usah diperkenalkan ayah, aku udah kenal sama laki-laki aneh ini. Julukannya ini adalah kucing penakut" sehingga membuat Ayah pun tertawa "Hiara kamu jangan suka berbicara sembarangan, Pak Lira ini orangnya sangat baik apa lagi dipanggil kucing itu kan kebalikan dari orang-orang memanggilnya."
"Ya udah deh aku nggak mau banyak cerita, mau lanjut aja masak cukup" pergi meninggalkan ayah.
Selesai sholat pun "Ayo Pak masuk ke dalam" ajak ayah ke dalam sehingga Lira pun mengikutinya.