
Di sebuah sekolah menengah atas Juno dan Anette sedang melakukan pemotretan preweding menggunakan seragam putih abu-abu. Ini semua atas ide Juno yang ingin mengenang tempat di mana mereka bertemu untuk pertama kalinya. Hubungan mereka semasa satu sekolah tidak begitu baik, maka dari itu Juno ingin menebusnya dengan menjadikannya sebagai tema preweding.
Kemarin mereka juga telah melakukan pemotretan di sebuah bangunan klasik bernuansa vintage. Kalau yang ini merupakan ide dari Anette, gadis itu terlihat sangat bersemangat saat menyampaikan ide konsep yang diinginkannya pada sang Photografer. Juno baru mengetahui jika calon istrinya itu menyukai dunia fotografi.
Sekarang Anette dan Juno sedang megikuti arahan pose yang diberikan oleh photografer. Dengan berlatar lorong koridor kelas, Anette memegang dada Juno dengan kedua tangannya dengan kaki berjinjit. Sedangkan Juno melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping Anette. Jarak mereka begitu dekat. Saling menatap dan melempar senyum.
Pemotretan berlanjut hingga beberapa sesi. Dari mereka yang hormar di depat tiang bendera seakan sedang mendapat hukuman sambil saling melirik. Sampai bermain basket bersama di lapangan menggunakan seragam olahraga.
Semua sesi pemotretan berlangsung lancar dan menyenangkan karena semua konsepnya benar-benar berasal dari ide kreatif sepasang kekasih tersebut.
...
Tepuk tangan dan sorakan kebahagiaan penuh haru dari para tamu undangan mengiringi sepasang pengantin baru yang sedang berciuman di atas altar sana. Kedua mempelai pengantin tersebut tak kuasa menahan air mata haru di sela ciumannya.
"Happy birthday sayang," bisik sang mempelai laki-laki.
"Terimakasih Juno," balas Anette sambil menunjukan senyum manisnya.
Ya, pernikahan mereka diadakan di hari ulang tahun Anette yang ke-20 tahun.
Tidak jauh dari mereka Hara dan Rachel berpelukan.
"Kita sudah resmi menjadi keluarga besar," ucap Hara.
"Iya, semoga mereka bahagia sampai akhir hayat," balas Rachel.
Acara terus berlanjut. Mulai dari memotong kue pengantin bersama-sama, sungkeman, hingga kini kedua mempelai pengantin bersiap melempar sebuket bunga dengan membelakangi para tamu dan. Dalam hitungan ketiga mereka melempar buket bunga tersebut ke arah para tamu yang sudah bersiap-siap menangkap bunga tersebut.
Hap, bunga tersebut berhasil di tangkap oleh Jamie. Laki-laki tersebut meloncat bahagia.
Acara pernikahan dilaksanakan secara privat di balroom salah satu hotel bintang lima di Jakarta. Hanya para kolega bisnis dan kerabat terdekatlah yang menjadi tamubundangan. Para media yang ingin meliput hanya bisa menunggu di depan pintu masuk hotel karena penjaan yang begitu ketat.
Acara hanya berlangsung selama 3 jam, karena setelahnya Juno dan Anette langsung terbang ke Korea Selatan untuk berbulan madu. Barang barang mereka sudah disiapkan beberapa hari sebelum acara pernikahan.
Banyak yang iseng menggoda jika Juno terlalu terburu-buru ingin berbulan madu. Bukannya tersipu malu, pengantin baru tersebut malah terang-terangan jika dirinya memang sudah tidak sabar untuk mencetak keturunan.
...
Memasuki akhir tahun Korea Selatan di sambut oleh musim dingin. Udara dingin seperti menusuk ke dalam tulang siapa pun yang berada di luar bangunan. Tapi itu semua seakan tidak mempan pada sepasang pengantin baru yang masih berlindung di balik selimut.
"Aku ingin ke tempat-tempat tradisional. Kalau suasana kota aku sudah bosan melihatnya di Jakarta," ucap Anette sambil memainkan jarinya di dada Juno.
Juno mengeratkan pelukannya pada Anette yang bersandar di dada bidangnya.
"Buat saja daftar tempat yang ingin kamu kunjungi, biar nanti kita kunjungi tempat-tempat tersebut," balas Juno.
"Terimakasih Juno."
"Panggil aku sayang!" Tuntut Juno.
Anette menghela nafasnya, "iya sayang."
"Tapi itu semua tidak gratis sayang.. lets make a baby!"
Juno kembali menyerang Anette. Melanjutkan aktivitas seperti yang telah mereka lakukan selama 4 jam tadi.
..
Anette duduk di tepian ranjang. Satu tangannya terulur mengusap sisi wajah Juno.
"Sayang bangun yu..," bisik Anette lembut di telinga Juno.
Juno mengerang dan merenggangkan tubuhnya. Ia membalikan tubuhnya, hingga kini wajah Anette tepat berada di depan wajahnya dengan jarak yang cukup dekat. Juno mengangkat kepalanya lalu mengecup bibir Anette.
"Morning kiss," ucap Juno dengan cengiran lebarnya membuat Anette ikut tersenyum.
Anette menyisir rambut Juno yang berantakan akibat ulahnya semalam, menggunakan jari-jarinya.
"Mandi sana, aku sudah menyiapkan daftar tempat yang akan kita kunjungi," ucap Anette dengan senyuman manisnya.
Tangan Juno terulur mencubit gemas puncak hidung Anette. "Emm baiklah istri kecilku." Juno berjalan memasuki kamar mandi.
Tidak lama kemudian Juno keluar dari kamar madi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Habis ini kita sarapan di bawah saja ya," ucap Anette seraya menyerahkan pakaian pada Juno.
Juno mengangguk sambil tersenyum. Tanpa rasa malu ia memakai pakaiannya di hadapan Anette, membuat istrinya tersebut memalingkan wajahnya.
Setelah rapih keduanya turun ke restaurant hotel. Juno dan Anette membawa koper masing-masing karena selesai sarapan mereka langsung chek out dari hotel tersebut menuju tempat-tempat yang Anette inginkan.
Anette hanya mengambil sedikit makanan dari buffet. Yaitu sosis, pompom, dan sayuran.
"Kok kamu makannya sedikit?" Tanya Juno yang merasa heran.
"Aku sedang mencoba diet, segini sudah cukup kok."
"Tidak! Pokoknya tidak ada diet-dietan. Sini piringnya biar makanannya aku tambah."
"Tapi-"
Ucapan Anette terhenti karena piringnya keburu di ambil oleh Juno. Juno menambahkan beberapa sosis, sayuran, serta semangkuk cream soup.
Juno meletakan piring tersebut di hadapan Anette. Ia kembali duduk di kursinya. Diraihnya tangan Anette lalu mengusapnya dengan lembut.
"Tubuhmu sudah kecil sayang, lagi pula aku malah senang jika kamu berisi. Aku tidak suka wanita terlalu kurus seperti mereka." Juno melirik ke arah sekitaran mereka, di mana banyak perempuan yang berlalu-lalang di restautant hotel tersebut.
Anette tersenyum dengan raut bersalah. "Maaf," bisiknya.
Juno membalas senyuman Anette. "Makanlah, kamu sudah tidak sabar mengunjungi tempat-tempat impianmu bukan?"
Anette mengangguk semangat. Ia memakan makanannya dengan lahap. Juno terkekeh melihatnya. Kalau dipikir-pikir untuk apa Anette melakukan diet. Selama ini istrinya itu makan banyak namun tubuhnya tetap setara dengan anak SMP, apalagi jika diet. Juno tidak ingin tubuh istri kecilnya itu menyusut menjadi anak SD.
...
**Enak ya orang cantik kalau pendek dibilang mungil, lah aku dibilang bantet.
Adakah yang merasakan hal yang sama**?