Oplas

Oplas
bab 65



Ibu pun tersenyum mendengar cerita Bik Ija "nyonya tidak marah" tanya Bik Ija.


"Aku punya rencana untuk mereka, Bibik tenang saja anakku itu setelah menjadi cantik dia juga menjadi cerdas sekarang" ibu pun membisikkan rencananya.


Keesokannya saat Santi dan Sinta mengantar baju serta makanan ke kamar Meri, ibu pun mengintip dari celah pintu sambil tertawa kecil.


Meri yang saat itu selesai mandi pun segera menggantikan bajunya, selesai mengganti baju pun dia duduk dan ingin memakan makanan yang sudah di sediakan oleh Santi dan Sinta, tapi pada saat meminum Sedikit susu tiba-tiba Meri merasakan gatal di seluruh tubuhnya.


Sinta yang saat itu melihat Meri menggaruk segera bertanya "ada apa Non?"


"Kenapa gatel ya" ucapnya "bukannya non baru selesai mandi" potong Santi.


Meri ingin mengunyah makanannya itu pun segera memuntahkannya "kalian ini apa-apaan sih" ucap Meri sambil berteriak.


"Ada apa Non?" tanya Sinta ketakutan pada saat melihat Meri mengeluarkan makanannya.


"Ah sekarang kalian mau meracuni aku, makanan apa yang kalian buat ini rasanya benar-benar asin tidak enak."


"Nasi goreng itu tadi dimakan sama kita berdua tidak apa-apa."


"Apa jadi kalian makan ini dulu dari pada aku, kalian benar-benar keterlaluan" Meri yang memarahi kedua pembantunya itu terdengar oleh kami yang mau siap untuk sarapan.


Aku kakek dan mama pun yang mendengar suara itu segera berjalan ke arah kamarnya Meri, ibu yang melihat kami mendekatkan segera bersembunyi di dekat sana.


Aku melihat di kamar tertumpahan nasi goreng dan Meri menggaruk tubuhnya "ada apa ini?" tanya marah kesal.


"Ini non, non Meri bilang kalau masakan nasi gorengnya asin tidak enak dan juga non Meri merasakan seluruh tubuhnya gatal" jawab Santi.


"Apa baju ini, ah kalian berdua apa-apaan sih kenapa bisa bajuku ini membuat aku menjadi gatal. Kalian benar-benar keterlaluan" saat Meri hendak marah pun kakek segera mengulurkan tongkatnya memukul tangan Meri hingga berteriak kesakitan.


Kami melihat ke arah kakek "kenapa kakek pakai itu memukul ku" celoteh Meri.


Tongkat kakek pun sampai memukul Santi dan Sinta "aduh kakek maaf."


"Kalian ini mengganggu sarapan pagiku di pagi hari dengan teriakan dan kamar yang penuh berantakan seperti ini, kamu Meri mulai hari ini kamu tidak boleh lagi makan di kamar dan harus makan di luar."


"Tapi kakek aku lebih nyaman makan di kamar dari pada di luar" potong Meri saat kakek belum selesai berkata.


"Meri kalau kamu mau makan di kamar kakek akan segera mengusir kamu dari kamar ini dan kamu bisa cari kamar tidur di luar sana, Kamu harus ingat ya kamu kalau mau makan di meja makan bukan di kamar dan terus Kalian berdua ini jangan pernah layani Meri lagi. Biarkan dia sendiri, dia bisa mencuci bajunya sendiri dia bisa makan makanannya sendiri Kalian tidak perlu melayani Meri. Kalian berdua itu digaji bukan untuk melayani Meri tetapi untuk melayani seluruh yang ada di rumah ini terutama Hiara dan kakek karena pemilik rumah ini adalah Hiara dan kakek" oceh kakek sehingga membuat Meri, Sinta dan Santi pun tertunduk.


"Maaf kek kami tidak akan melakukannya lagi"ucap Santi dan Sinta berbarengan.


"Sekarang kalian berdua keluar dari kamar ini" usir Kakek membuat mereka keluar dari kamar Meri.


Ibu pun sambil tersenyum senang mengintip kejadian itu, Hito yang saat itu melihat ibu tertawa sendiri segera mendekati "ini ulah ibu?" tanya Hito membuat ibu segera menutup mulut anaknya itu.


"Ayo kita pergi" ajak ibu sambil menarik Hito jauh dari tempat itu.


Meri sambil menggaruk tubuhnya pun segera memegang tangan kakek "ini kek, Meri nggak bisa untuk bersih-bersih atau apalagi cuci baju sendiri seperti itu" kakek pun memukulnya lagi dengan tongkat sambil memegang kakinya yang dipukul itu pun Meri menoleh ke arah mama, Namum mama hanya diam tidak bisa berkata apa-apa yang di ucapkan kakek.


"Kamu harus bisa mandiri, kamu pikir hidup kamu akan selalu seperti ini kalau suatu saat kamu menjadi orang miskin apa kamu bisa melayani diri kamu, kamu harus bisa belajar mandiri mulai sekarang kalau kamu tidak mau menuruti kata kakek kamu bisa pergi dari rumah ini sekarang" usir ku membuat Meri melepaskan pegangan tangannya.