Oplas

Oplas
Happy Birthday Juno



Juno mengantarkan Anette ke depan tenda yang akan ditempati gadis itu.


"Istirahatlah, jika ada apa-apa panggil aku saja," ucap Juno.


Anette mengangguk. "Aku masuk ya."


Juno mengangguk. Anette segera memasuki tendanya lalu menutupnya. Juno menghela nafas panjang. Ia juga segera memasuki tendanya yang bersebelahan dengan tenda Anette.


Di pagi harinya Juno mengajak Anette untuk pulang, padahal acara masih berlangsung hingga besok. Mereka berjalan menuju pintu keluar dari hutan tersebut.


"Juno, mengapa kita pulang sekarang. Bukankah kau bilang acaranya sampai besok?" Tanya Anette.


"Tidak apa-apa, acaranya terlalu membosankan."


"Bukan karena-"


"Itu mobil jeputan kita," potong Juno menunjuk ke arah mobil yang terparkir di dekat pntu masuj hutan.


Juno jalan mendahului Anette menuju mobil. Di dalam mobil yang telah melaju pergi meninggalkan kawasan hutan, tidak ada suara lain selain suara radio mobil.


Juno terlihat sibuk dengan game online di ponselnya, sedangkan Anette diam-diam memperhatikan laki-laki tersebut. Anette merasa ada yang berbeda dari Juno.


...


Sesampainya di rumah, Anette terus memeluk ibunya yang sedang menonton berita di TV. Rachel meengusap-usap rambut Anette. Wanita paruh baya itu sudah paham akan tingkah puterinya. Jika sudah seperti ini, pasti ada sesuatu.


"Ada apa An, Keanu? Juno?" Tebak Rachel.


"Juno," ucap Anette pelan.


Anette mengubah posisinya menjadi berbaring dengan kepala yang di tempatkan pada pangkuan ibunya.


"Kami putus," ucap Anette.


"Karena?"


"An belum siap untuk jatuh cinta lagi. Luka lama An belum reda bun," jelas Anette.


"Kalau boleh buna tahu, apa tanggapan Juno?"


"Juno yang memutuskan hubungan kami bun, dan aku menerimanya. Juno juga minta maaf jika keputusannya selama ini membuat An tertekan."


"Lalu.. apa selama ini An merasa tertekan?" Tanya Rachel untuk kesekian kalinya.


Anette menggeleng, "tidak buna, justru Juno sangat baik. Ha-hanya saja An belum siap." Anette menatap sendu ibunya. "An jahat ya bun?"


Kali ini Rachel yang menggeleng.


"An kan sudah jujur dan Juno punĀ  memahaminya. Sekarang saatnya An yang berusaha memahami Juno," ucap Rachel.


Rachel mengusap sisi wajah anak sematawayangnya tersebut.


"Anak buna sudah besar. Sudah punya dua mantan kekasih," ucap Rachel menggoda Anette.


"Ih buna.." rengek Anette.


...


"Mulai hari ini sebaiknya kau diam di sini saja An," ucap Juno yang sedang memasang tali sepatu, bersiap untuk berangkat ke kampus.


"Tapi jika berdiam di sini apa yang harus aku lakukan? Semuanya masih rapih," ucap Anette.


"Terserah kau saja," ucap Juno sebelum benar-benar mengilang di balik pintu.


Membosankan.


Anette membuka ponselnya untuk bermain game. Saat mengetik pasword ponselnya tanpa sengaja Anette melihat tanggal yang tertera hari ini. Astaga besok Juno berulang tahun. Anette yakin, ia masih mengingatnya sedari SMA.


karena tak ada hal-hal yang harus dikerjakan, Anette segera pergi ke mall dekat apartemen. Anette ingin menjadi orangpertama yang memberikan surprise pada Juno. Ia membeli kue ulang tahun, lilin, dan balon warna warni. Tak lupa Anette memberikan sebuah kado untuk Juno.


Di apartemen Anette mulai mendekor kamar Juno. Balon warna warni ia tebar di ranjang dan lantai. Kuenya diletakan di tengah ranjang.


Sambil menunggu tanpa sengaja Anette tertidur pulas di sofa. Beberapa jam kemudian Anette terbangun, ia melihat ke arah jam dinding yang telah menunjukan pukul 8 malam. Seketika Anette terperanjat kaget. Ia memeriksa semua ruangan namun tidak menemukan keberadaan Juno.


Apa Juno belum pulang hingga jam segini?


Anette mengirim pesan pada ibunya jika ia akan pulang terlambat. Ia kembali menunggu Juno pulang di kamar.


Lama menunggu namun Juno tak kunjung pulang. Anette merasa cemas, apa Juno baik-baik saja di luar sana? Anette kembali melihat jam dinding. 10 menit lagi jam 12 malam.


Anette tidak mengurungkan niatnya menanti kepulangan Juno. Ia menatap kue ulang tahun di hadapannya, lilinnya sudah hampir habis meleleh. Waktu terus berjalan, membuat Anette menagis. Ia takut kejutannya akan gagal.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, menampilkan Juno yang berjalan memasuki kamar. Anette mengusap air matanya dan menampilkan senyumannya.


Judo duduk di samping Anette yang bersila di tengah ranjang. Laki-laki tersebut tersenyum dengan wajah berseri.


"Terimakasih An."


"Maaf ya lilinnya sudah lumer, kau si lama," ucap Anette.


Anette memeluk Juno dengan melingkarkan kedua tangannya pada leher laki-laki tersebut. Juno membalasnya.


"Tidak apa-apa, terimakasih surprisenya," ucap Juno lembut.


Anette melepaskan pelukannya. Ia memberikan sebuah kotak kecil pada Juno.


"Ini apa?" Tanya Juno.


"Kado untukmu," ucap Anette bersemangat.


"Aku buka ya?" Tanya Juno yang diangguki Anette.


Juno membuka bungkusan kado tersebut. Ia tersenyum saat mendapati sebuah pematik gitar dari dalam sana.


"Maaf aku hanya bisa memberikan itu," Anette menundukan kepalanya.


Juno meraih dagu Anette agar menatapnya. "Aku bisa membeli apa pun yang kumau, tapi kau tahu apa yang kubhtuhkan. Aku memang sedang membutuhkan benda ini."


Anette mengembangkan senyumnya, "benarkah?"


"Ya."


Juno memotong sedikit kue ulang tahunnya lalu menyodorkannya pada Anette.


"Suapan pertama untuk gadis spesial-ku, a.."


Anette menerima suapan tersebut dengan wajah merona. Juno kembali memeluk Anette dengan gemas.


"I love you An."


'DUARRRR'


Suara sambaran petir membangunkan Anette dari tidurnya. Jadi tadi hanya mimpi, mengapa terasa begitu nyata?


Di tengah ranjang lilin yang tertancap di atas kue sudah melumer habis. Ternyata tadi ia kembali ketiduran.


Tiba-tiba terdengar bunyi bel. Itu paati Juno. Namu saat membuka pintu, bukan Juno yang didapat melainkan Monnie.


"Hi Monnie."


"An Juno kecelakaan, saat ini keadaannya kritis!" Ucap Monnie to the point.


Tubuh Anette mematung. Tatapan matanya pun kosong dan berkaca-kaca.


"Ayo kita ke rumah sakit," ajak Monnie menarik tangan Anette.


Sesampainya di rumah sakit Anette mendapati kedua orang tua Juno, Keanu, dan teman-teman laki-laki tersebut.


Anette menghampiri Hara dan memeluknya.


"Juno An.." lirih Hara.


"Juno pasti kuat mom," ucap Anette dalam isakannya.


"Silahkan masuk nak, Juno pasti senang menunggu kehadiranmu," ucap Demian seraya mengusap punggung Anette.


Anette melepaskan pelukannya pada Hara. "An masuk dulu ya," pamit Anette.


Anette masuk ke dalam ruangan menggunakan baju steril, masker, dan penutup kepala. Anette tidak dapat menahan tangisnya melihat tubuh Juno yang terbaring lemah di atas brankar rumah sakit dengan alat-alat yang terpasang pada tubuh lemah itu.


Anette duduk di kursi yang berada di samping brankar. Ia merai tangan Juno yang terbebas dari infus lalu menggenggamnya.


"Juno aku di sini," lirih Anette.


"Aku yakin kau kuat. Lihat! Tubuhmu masih kekar. Buktikan jika otot-otot yang kau banggakan ini sepadan dengan semangat hidupmu."


Anette menempelkan telapak tangan Juno di pipinya. Tangan tersebut terasa dingin.


"Happy birthday Juno. Aku memberikanmu kejutan, tapi nyatanya kau yang lebih dulu memberiku kejutan hiks."


..


Instagram @fanizea21