Oplas

Oplas
bab 59



Aku yang melihat kejadian itu segera mengambil tasku dan mengeluarkan uang 10 juta "ini, ini uang untuk bayar hutangnya Erik. Sekarang hutang Erik lunas dan kalian bisa pergi dari sini, awas ya kalau kalian berani ganggu Erik aku tidak akan diam dan melaporkan kalian ke kantor polisi" ucapku membuat preman itu pun tersenyum.


Preman tersebut mencium uang tersebut "terima kasih, oke kami tidak akan mengganggu Erik karena hutangnya sudah lunas tapi ingat kami tidak akan menerima Erik lagi bekerja kepada kami" ucapnya dalam keadaan marah kepadaku.


"Sekarang pergi" aku mengusir mereka sehingga mereka pun pergi dari tempat itu.


Ayah Erik yang saat itu pun berterima kasih kepadaku, aku tersenyum menjawab ucapan laki-laki tua itu.


"Ayo kita harus segera berangkat sekolah" saat itu Erik segera menggantikan pakaiannya dan mengikuti untuk berangkat sekolah.


Aku pun mengantar Erik dan Hito untuk ke sekolah bersama-sama mereka, aku juga mengantar Mama mertua dan ibu ke klinik dokter Nando.


"Kamu kenapa turun?" tanya Mama saat aku ikut turun.


"Kenapa? aku cuma mau menyapa dokter di dalam" jawabku.


"Enggak boleh, kamu harus kerja masuk ke dalam mobil" mama pun menarik aku masuk ke dalam dan menutupi pintu mobil.


Ibu yang melihat tingkah mama itu hanya menggelengkan kepala dan pergi meninggalkannya.


Mobilku pun pergi meninggalkan mama dan ibu "Aku akan buat Hiara untuk tidak sering bertemu dengan dokter itu" ucap mama dalam hati sambil tersenyum, saat mama menoleh mama melihat ibu sudah tidak ada lagi d sampingnya.


"Loh kemana wanita norak ini tadi" tunjuk ibu sambil pergi masuk mencari ibu.


Aku yang masuk ke kantor pun di sambut oleh Nindi yang sudah berada di luar ruangan ku bersama Feri "masuk" ucapku sehingga mereka berdua masuk ke ruangan bersama-sama.


"Bu, hari ini ada jadwal tender ke perusahaan Singapura tapi kita punya satu saingan yaitu perusahaan magic" ucap Nindi membuat aku tertawa.


"Perusahaan apa itu jelek sekali" ucapku.


Feri yang melihat aku tertawa pun segera berucap "Hiara kita harus membatalkan tender kita ke pada perusahaan Singapura."


"Kenapa?"


"Perusahaan magic adalah perusahaan yang sangat kejam dan kasar dengan saingannya, selama ini papa selalu menolak apa bila magic ikut serta dalam tender. CEO nya bernama Lira Wiguna arahja terkenal dengan sifat seperti anjing buas"


Ucapan Feri itu membuat aku bersemangat "tidak, aku akan bersaing dengannya. Aku tidak takut dengan sikap kejam dan kasar pemiliknya karena aku juga akan menghancurkan pemiliknya apabila dia berani mencari gara-gara kepada kita."


Nindi pun tersenyum "baik lah Bu, pukul 10 kita harus persentase dan ini file yang sudah saya buat sesuai ke inginan ibu kemarin."


"Terimakasih, kalian berdua silahkan keluar. Kita harus siap-siap memenangkan tender besar ini" ucapku sehingga mereka segera keluar dari ruangan ku.


"Kamu kenapa masuk ke perusahaan ini?" tanya Nindi kepada Feri saat di keluar ruangan ku.


"Aku akan mengejar cintaku dan mengubah semuanya menjadi semula lagi" ucap Feri segera pergi meninggalkan Nindi.


Di tempat perusahaan magic pun sangat antusias saat mengetahui bahwa CEO Perkasa Jaya ikut serta dalam tender dari perusahaan Singapura. Apa lagi mereka sudah tahu kalau CEO Roberto Kurniawan sudah di ganti oleh anak menantunya.


Pukul 09.55 aku dengan cepat berangkat bersama Nindi dan Feri, aku yang saat itu merasa gelisah karena baru pertama kali untuk debat saat sampai segera pergi ke toilet terlebih dahulu.


Namun ucapan Feri itu di dengar oleh Lira CEO magic "Masih pagi sudah ke toilet, belum mulai sudah takut duluan" ledeknya tertawa membuat Feri dan Nindi hanya terdiam tanpa berkata apa pun.


Aku yang berada di toilet pun segera menelpon Dokter Nando menceritakan apa yang akan aku lakukan hari ini, dengan cepat dokter pun meledeki aku dan membuat aku harus tetap menatap wajah lawan serta pihak perusahaan Singapura itu.


Aku pun menarik nafas dalam-dalam menghembuskannya serta keluar dari toilet dengan yakin bisa, pihak perusahaan magic duluan memberikan persentasenya.


Aku dengan percaya diri masuk ke dalam persentase itu segera duduk ke sebelah Feri dan Nindi, semua mata tertuju ke pada ku sedangkan Lira yang saat itu sedang persentase diam "wanita itu, dia" ucap Lira dalam hatinya sehingga konsentrasinya hilang dalam sekejap.


Giliran ku saat itu persentase membuat Lira hanya menatap tanpa berbicara sedikit pun, saat itu asisten Lira memegang Lira hingga dia tersadar "pakkk, ada apa?" tanyanya penasaran melihat bosnya itu tidak melakukan hal seperti biasanya.


Saat di umumkan ternyata perusahaan kami yang menang tender, aku pun meloncat ke girangan dan mengucapkan terimakasih.


Saat itu perusahaan Singapura sudah pergi keluar meninggalkan kami, Feri yang saat itu melihat ke arah Lira langsung berceloteh "sepertinya orang yang ke toilet pagi hari lebih bercahaya dari pada orang yang meledeki orang lain."


Lira pun kesal dan hendak memukul tangannya ke arah Feri, Aku yang mendengar perkataan Feri itu segera berjalan ke arah mereka.


Aku dengan tersenyum berhadapan langsung dengan Lira "kamu yang orang bilang anjing gila itu" tunjukku.


Lira pun langsung menggenggam tangan ku sambil tersenyum "awwwwww" teriak Lira saat aku langsung menginjak kakinya.


"Itu bukan anjing gila tapi kucing garong gila" omelku segera pergi meninggalkannya.


Feri dan Nindi pun segera mengikuti aku dari belakang, Lira pun ikut mengejar aku bersama asistennya.


Aku yang hendak berjalan masuk ke mobil pun di hadang olehnya "tunggu, jangan pergi" ucap Lira kepadaku.


"Hei kamu jangan cari gara-gara, pergi kami mau pulang" teriak Feri.


"Diam aku tidak bicara pada kamu" tunjuk Lira sambil berteriak.


Aku yang melihat perdebatan itu segera masuk ke dalam mobil di ikuti Nindi.


"Jalan pak" ucapku meninggalkan mereka sehingga mereka yang melihat itu kaget.


Feri pun segera merapikan jas nya "ingat jangan cari gara-gara pada Hiara" tunjuk Feri sambil pergi menaiki taksi.


"Pak ada apa?" tanya sekretaris Lira lagi.


"Ini bukan urusan kamu, untuk tender ini kita mengalah dulu dan buat kerja sama dengan perusahaan Perkasa Jaya."


"Tapi pak, mereka itu saingan kita bukan rekan bisnis kita."


"Diammm, jangan pernah membantah" teriak Lira marah.


"Baik pak."


Mereka pun segera pergi dari tempat itu.