
Ibu yang melihat ekpresi mama kesal segera tertawa dan melakukan tos kepada Hito, aku, papa, kakek dan ayah segera pergi dari meja makan menuju ke ruang tv.
Ibu dan Hito pun berbisikan dan segera pergi mengikuti mereka ke ruang tv "kakek istirahat di kamar aja langsung minum obat, ayo" ajakku mengantar kakek.
"Pak Heru gimana kita duduk di teras saja sambil mengobrol" ajak papa sehingga ayah pun mengangguk setuju.
Ibu dan Hito mengambil remote tv segera menonton siaran mereka namun suara tv sangat keras terdengar oleh mama yang saat itu ingin santai "siapa sih nonton tv berisik banget" celoteh mama sambil keluar dan melihat ibu dan Hito sedang tertawa menonton tv.
Mama yang kesal mengambil remote tv di meja dan mematikannya, ibu dan Hito pun menoleh "hei kenapa di matikan" teriak ibu.
"Kalian sudah gila yah, ini jam berapa nonton tv besar sekali" teriak mama.
"Apa gila, kamu tidak ada sopan santun langsung mematikan saja. Cari gara-gara haaa" aku yang mendengar teriakan itu segera datang menghampiri.
"Berhenti, ibu ayo ikut aku dan Hito kembali ke kamar" kami pun segera pergi dari tempat itu.
"Dasar manusia-manusia norak" celoteh mama langsung kembali ke kamar.
Aku yang saat itu masuk ke kamar di temani oleh ibu segera memeluk ibu "ibuuuu bagus banget hari ini" ucapku tertawa.
Ibu pun ikut tertawa "gimana cara ibu membuat mereka kesal keren kan."
"Ibu harusnya lebih santai dan lebih hati-hati lagi jangan sampai ayah marah dan papa jadi kesal, kalau ibu mau cari masalah harusnya jangan ada ayah, papa dan kakek. Okeh!" langsung memberikan kedua jempol ku.
"Okey" ibu pun ikut memberikan kedua jempolnya.
"Sekarang ibu ke kamar, aku mau istirahat karena besok akan banyak kejutan untuk semua orang" ucapku.
"Baik lah, mereka orang-orang jahat harus menerima pelajaran karena sudah membuat putriku menderita selama ini" ucap ibu.
"Terimakasih Bu sudah mau membantu aku, tapi setelah aku sukses aku akan mengembalikan harta kakek seluruhnya tapi saat ini aku butuh ini agar mereka yang menertawakan aku tidak berani lagi melihat wajahku."
"Sama-sama nak, ibu akan selalu ada untuk kamu. Ibu juga tidak butuh hidup mewah yang penting ada kamu, Hito dan ayah sudah cukup seperti dulu" aku pun memeluk ibu lagi selesai berbincang ibu segera keluar dari kamar dan kembali ke kamarnya.
Ayah yang saat itu sudah ada di kamar duluan "ayah kenapa tiba-tiba, eh ayah kangen yah" ledek ibu.
"Apaan sih, ayo tidur ayah capek kejadian hari ini" ayah segera menutup tubuhnya dengan selimut.
Keesokan paginya aku sudah berdandan rapi dan cantik keluar dari kamar "mau kemana kak?" tanya Hito yang mempersiapkan barangnya untuk ke sekolah.
"Suatu kerjaan? Kenapa kamu beres-beres di luar, harusnya di kamar."
"Barang ku belum di beres kak dari semalam" celotehnya sambil merapikan buku-buku miliknya.
Aku pun membuka tas mengambil dompet mengeluarkan uang 200 ribu "ini" Hito pun mengambil uang itu.
"Untuk aku kak."
"Iya, untuk kamu sekolah" aku pergi ke kamar kakek berpamitan dengannya dengan dilanjuti oleh ayah dan papa mertua.
Mama mertua yang masih sinis kepadaku mengacuhkan ucapanku, hendak berjalan keluar aku bertemu ibu dan bik Ija yang baru pulang belanja "ibu."
"Ibu bosan di rumah jadi ibu akan belanja setiap hari bersama bik Ija, kamu kan tahu ibu hapal sekali belanja semua ini dengan murah" celotehnya.
Sesampai di rumah sakit aku berjalan di lihati oleh semua orang "wah itu kan artis yang viral oplas itu" tunjuk salah satu pasien di sana.
"Benar, aku juga mau cantik gitu dengan wajah tua begini" celoteh mereka semua panjang lebar di sekeliling ku.
Pada saat itu aku berpapasan dengan papa dokter "calon mantu" panggilnya yang membuat semua orang di sana mendengarnya kaget sehingga menambah pemikiran orang-orang di sekitar.
"Aduh aku lupa kalau ada profesor di sini" ucapku dalam hati, aku pun tersenyum saat profesor menghampiri aku.
"Mau ketemu Nando?" aku pun mengangguk dengan pertanyaan itu "ayo aku yang akan antar karena kebetulan sekali ada yang ingin aku katakan pada kalian berdua" profesor pun menarik tangan ku sehingga posisi kami seperti sedang bergandengan.
Saat kami masuk ke ruangan dokter ada pasien yang baru keluar, perawat pun di larangnya untuk memanggil pasien lagi.
Dokter yang melihat kami masuk bingung "papa dan Ara kenapa di sini."
Profesor segera menjentikkan jarinya ke kening dokter "Awwww" teriak dokter.
"Hem rupanya dokter memiliki bakat seperti itu dari papanya suka menjentikkan kening orang" ucapku dalam hati melihat tingkah mereka.
"Kamu itu harusnya tertawa bahagia karena calon mantu dan papa datang."
"Iya pa, tapi kan ini buat aku kaget mendadak begini."
Aku pun hanya diam melihat papa dan anak yang bertengkar tiada henti hanya karena hal sepele, karena sudah tidak tahan lagi akhirnya aku pun berteriak "Hentikannnn."
Mereka berdua menoleh ke arahku "masih mau bertengkar, kalau gitu aku tunggu di luar dulu sampai papa dan anaknya berhenti" ocehku sambil melangkah keluar.
Dokter dan papanya pun tertawa terbahak-bahak "berhenti nak" panggilnya membuat langkah kaki berhenti.
"Kamu bingung yah melihat ini semua" ucap profesor sambil menarik tanganku.
"Tapi selama ini aku tidak pernah melihat kalian seperti ini" ucapku.
"Hem, udah lah tidak usah bahas ini aku dan papa selalu begini makanya aku tidak mau tinggal bersama papa" celoteh dokter sambil melihat ke arah profesor. Melihat profesor yang ingin mengeluarkan kata protes aku pun memegang pundak dokter.
"Profesor boleh kah aku bicara berdua bersama dokter, kalau gitu kami pamit" aku menarik dokter keluar dari ruangan menghindari profesor.
Melihat kami yang keluar terburu-buru profesor pun tertawa "benar-benar calon mantu yang pas buat anakku" celotehnya.
Aku pun duduk di kantin rumah sakit bersama dokter, dokter membawakan aku minuman meletakkannya di atas meja.
"Kamu kenapa?" tanyanya.
"Aku mau minta tolong satu kali lagi" jawabku.
"Apa."
"Pengacara, aku mau pengacara yang dapat di percaya untuk kasus ini serta harta warisan yang aku dapat."
Dokter pun tersenyum "itu mudah tapi kamu harus membantu ku juga" ucap dokter membuat ku bingung.
Dokter pun membisikkan rencananya kepada ku "okey" kami pun saling berjabat tangan untuk memulainya dari awal.