Oplas

Oplas
bab 57



Aku yang selesai makan pun bergegas berdiri "Kek Hiara berangkat" ucapku pada kakek.


"Ayah ikut yah karena ayah hari ini mau membeli bahan-bahan untuk rumah makan" aku pun tersenyum.


"Baik lah, Hito ayo sekolah" ucapku Hito pun segera berlari mengambil tas nya.


Saat aku keluar semua orang sudah siap-siap di luar "kalian semua mau pergi, kakek siapa yang jaga" tanya ku "ibuuuuu" teriakku pada ibu.


"Hiara hari ini ibu mau ketemu calon mantu, ayah pergi, Hito sekolah, Meri kuliah, Feri kerja dan yang harusnya jaga kakek itu wanita itu" tunjuk ibu kepada mama mertua.


"Mamaaaa mau kemana" tanyaku yang membuat mama kaget.


"Mama mau ke klinik Dokter Nando juga donk, enak aja dia perawatan cantik sendiri" jawabnya.


"Hei kamu itu sirik kalau aku cantik kan makanya kamu mau ikut kemana arah ku" teriak ibu.


Ternyata mama menguping pembicaraan ibu dengan Dokter Nando di telpon untuk jadwal hari ini, Mama mendengar kalau ibu membuat rencana kepada Dokter Nando bahwa hari ini ingin melakukan perawatan di kliniknya dokter Nando pun dengan terpaksa menerima Ibu walaupun dokter tahu jadwal di rumah sakit lagi padat.


Ibu pun memaksa dokter sehingga dokter pun menyetujui itu, mendengar ucapan di telepon Ibu akhirnya Mama pun tersenyum dan memutuskan untuk mengikuti ibu besok ke klinik dokter.


Aku yang pusing mendengar debatan ibu dan mama pun segera masuk ke dalam rumah lagi menemui kakek, aku sambil tersenyum berkata "gimana sudah minum obat kakekku" kakek sambil tersenyum menjawab"sudah."


Kakek pun dengan bingung "kenapa Hiara kamu masuk lagi, harusnya kamu kerja."


"Hari ini Hiara nggak kerja aja kek karena kakek ngak ada teman, semuanya pada pergi ninggalin kakek jadi mendingan Hiara aja yang nemenin kakek untuk hari ini."


Kakek pun tertawa"Nggak usah, pokonya nggak usah. Kamu kerja aja soalnya kamu sekarang CEO jadi jadwal kamu hari ini akan padat, harus profesional Hiara."


"Tapi kek, Hiara nggak" sebelum selesai aku melanjutkan ucapanku "Non silakan kerja, di sini non percayakan kakek pada bibik. Bibik yang akan menjaga kakek seharian ini" aku pun menoleh ke arah Bik Ija.


"Baiklah" aku pun berteriak memanggil Santi dan Sinta, mendengar teriakan ku pun mereka bergegas mendekati "apa non?" tanya Santi.


"Hari ini pekerjaan rumah kalian yang kerjakan, Bik Ijah aku fokuskan untuk mengurus kakek hari ini karena di rumah tidak ada siapapun yang menemani kakek."


"Baik non" jawab mereka bersama-sama, aku pun segera pergi keluar dari rumah dan melihat hanya ada Mama, Ibu dan Hito yang berada di luar "Ayah ke mana?" tanya ku.


"Ayah udah berangkat sana naik ojek tadi" jawab ibu.


"Naik ojek, Kenapa nggak barengan sama Hiara aja atau enggak barengan sama Mama dan ibu."


"Tujuannya kan beda, Ibu juga mau nebeng kamu. Lagian ibu dan ayah enggak bisa bawa mobil."


"Kamu kenapa? Kamu nyari Feri ya" ledek mama.


Ibu yang mendengar pun langsung menjawab "mana mungkin anakku cari anakmu, anakku itu tidak akan pernah mau mencari anak kamu" dengan nada tinggi.


"Dasar wanita nyebelin" celoteh ibu.


"Ya udah ayo kita masuk" ajakku.


"Nanti dulu, kamu harus tahu kalau Feri berangkat sama Meri mereka mengendarai mobil yang ada di bekasi. Kan di sana banyak mobil nggak dipakai jadi tadi ibu kasih dia kunci mobilnya" ucap Ibu.


"Ibu gimana sih, Kenapa tidak kasih tahu sama aku. Semua yang di sini kan punya aku jadi biarkan aku yang memutuskan semuanya" kesalku.


"Ibu tahu itu tapi apa kamu mau kalau Feri itu nebeng sama kamu, apa kamu juga mau barengan terus sama anaknya dia" ucap ibu sambil menunjuk ke arah mama. Mendengar perkataan ibu aku hanya mengangguk.


"Dasar penghalang" ucap mama dalam hatinya mendengar ucapan ibu itu.


Kami pun berangkat bersama-sama "kak, sebelum kita ke tujuan kita ke tempat alat tulis dulu ya kak" ucap Hito.


"Baik lah adikku" aku pun mengelus rambut adikku itu.


Sesampai di toko alat tulis aku dan Hito turun dari mobil, Hito berlari dengan cepat membeli yang dia inginkan.


Dari jauh aku melihat anak kecil berlari bersembunyi ke arah ku, dia di kejar oleh seorang preman.


Preman itu kebingungan mencarinya, aku yang melihat itu pun segera mendekati preman itu "hei kalian berdua menghadangi jalan ku" teriakku marah saat mereka hampir mendekati anak yang bersembunyi itu.


"Eh maaf neng cantik, kami mau tanya apa tadi neng lihat bocah lewat sini?" tanya mereka.


"Tidak, aku di sini dengan adikku. Itu" tunjukku ke arah Hito.


"Mungkin dia ke arah lain" bisik mereka berdua dan segera pergi meninggalkan aku.


"Dasar preman kampung, ucap terimakasih kek, atau puji aku dulu kek bukan langsung kabur" teriakku namun di belakang ku anak itu mendekati aku.


"Kak, terimakasih" ucapnya hingga membuat aku tersenyum.


"Sama-sama, itu siapa kenapa kamu di kejar" tanyaku penasaran.