
Terdengar suara cekikikan di sebelah ku "dokter lucu" kesal ku.
"Orang yang mengirim bunga sebanyak ini pasti tukang kebun bunga karena dia memindahkan kebunnya di kantor kamu" ucap dokter sambil tertawa-tawa.
Nindi yang mulai masuk ke ruangan pun menahan tawanya mendengar ucapan dokter "Nindi jelaskan?" tanyaku.
Nindi pun memberikan satu amplop kepada ku "apa ini?"
"Tadi orang yang menghiasi ini memberikan ini untuk ibu" jawabnya sehingga dengan cepat aku membuka amplop itu.
Aku membuka isi amplop itu ternyata sebuah surat, isi surat itu mengatakan aku harus segera datang ke cafe tarian pukul 7 malam.
Dengan ekspresi bingung membaca surat itu pun aku segera meremukkan dan melempar surat itu.
Dokter yang melihat aku melemparkan surat itu pun segera mengambil surat itu dan membacanya "Wahhhh, wah, wah ini mah fans berat kamu Hiara" ejeknya kepadaku.
"Nindi cepat kumpulkan semua bunga-bunga ini karena aku akan mengembalikan bunga ini secepatnya malam nanti" perintah ku.
"Tapi Bu."
"Tapi kenapa?"
"Ini akan memerlukan banyak mobil bu, karena semua bunga-bunga ini sudah sangat banyak terlewatkan batas."
Aku pun terdiam memikirkan ucapan Nindi yang benar itu "ya sudah kalau begitu kamu buang saja bunga-bunga itu" kesalku.
"Tidak bisa Bu karena tong sampah di depan kantor mana bisa menampung ini semua."
Dokter yang saat itu pun berpikir "lebih baik bunga-bunga ini di manfaatkan sesuatu, tapi apa" ucap dokter sambil duduk di kursi ku.
"Bagus, kamu memang cerdas jadi aku tidak salah mengajak kamu. Kalau begitu semua bunga-bunga yang ada di ruanganku ini cepat segera dibawa keluar karena aku sudah tidak suka pemandangan yang aneh seperti ini."
Nindi pun mengangguk kepalanya segera keluar dari ruangan untuk mengajak semua staff kantor, aku pun segera menarik tangan dokter yang asik duduk di kursi ku "apaan" kesal dokter.
"Semuanya, hari ini tinggalkan kerja kalian dan bagikan secara sukarela kepada seluruh orang di Jakarta ini. Besok ingat jadwal kalian padat" ucapku membuat mereka semua mengiyakan.
"Karena hari ini libur kerja, ya udah ayo ikut aku membagikan ini semua."
"Tidak, jangan mengajakku untuk urusan yang membuat aku lelah serta membuat aku malas. Aku pulang ke klinik saja."
Mendengar ucapan "nggak usah banyak rencana untuk membantu orang, pokoknya hari ini dokter akan tetap ikut aku ."
Feri yang baru datang ke kantor pun di buat kaget juga dengan bunga yang sedang di angkat ke mobil "ada apa ini Nindi?" tanya Feri saat melihat Nindi mengatur semuanya.
"Feri, kamu sudah lihat kan apa yang terjadi. Ada seseorang memindahkan kebun bunganya ke mari sehingga membuat Ibuu Hiara sangat kesal." jawabnya.
"Siapa yang melakukan ini."
"Tidak tau, tapi di surat itu nanti malam ibu Hiara harus ke kafetaria" ucap Nindi sehingga membuat Feri untuk berpikir mengikuti Hiara nanti malam.
"Siapa yang berani sekali mengganggu Hiara dengan cara licik seperti ini, malam nanti aku akan mencari tahu dan kasih pelajaran kepada orang tersebut" ucap Feri dari dalam hatinya.
Feri segera pergi mencari ku yang berada di kantin kantor bersama dokter "Hiara" sapanya langsung duduk di meja kami.
Dokter yang melihat itu segera berceloteh "heii kamu ngapain langsung duduk di sini, kami tidak menyuruh mu makan bersama kami. Cari tempat lain" usirnya.
"Aku tidak ada urusan dengan kamu, aku hanya perlu dengan Hiara, jadi kamu tidak perlu repot-repot mengusir aku" jawab Feri dengan nada ketus kepada dokter.