Oplas

Oplas
Nyata



Semenjak menjadi seorang ibu Anette menjadi semakin dewasa. Sikap dan cara bisaranya selalu dijaga. Anette ingin menjadi contoh yang baik untuk si kecil Jeno yang baru saja memasuki usia 2 tahun.


Tapi berbeda jika hanya berduaan saja dengan Juno. Ia akan menjadi Anette yang manja, seperti yang suaminya tersebut inginkan.


"Mama.. mama..," panggil Jeno.


Anette yang sedang mencuci piring merasakan sepasang tangan kecil memeluk kakinya.


"Tunggu sebentar ya nak," balas Anette lembut.


Anette membilas piring terakhirnya. Selesai mengelap tangannya ia langsung mengangkat tubuh kecil Jeno ke dalam gendongannya. Diciumnya pipi gembul Jeno, membuat balita tersebut tertawa kegelian.


"Hmm Jeno kok sendirian, papanya mana?" Tanya Anette.


"Papa bobo. Tu sendili (aku sendiri)," kata Juno sambil memainkan hidung ibunya dan sesekali menciumnya.


Anette melangkah menuju kamarnya. Ibu muda tersebut menghela nafasnya melihat Juno yang tertidur di antara mainan Jeno yang berserakan di lantai. Suaminya tersebut terlihat pulas meringkuk sambil memeluk boneka dinosaurus milik Jeno.


Anette berlutut lalu menepuk-nepuk pelan pipi Juno. "Sayang.. pindah ke ranjang yuk."


Juno mengucek matanya. Ia menurut untuk pindah ke ranjang.


"Peluk..," rengek Juno yang sudah berbaring di ranjang.


"Jeno mau bobo siang atau masih mau main sayang?" Tanya Anette.


"Main mama."


"Ya sudah, jangan lupa nanti kalau sudah selesai mainannya masukin ke dalam keranjang ya," ucap Anette memberikan peringatan. Ia selalu membiasakan Jeno menjadi anak yang bertanggung jawab.


"Ya mama, tu lapii (aku rapihin)."


Anette menurunkan Jeno di atas karpet berbulu. Balita tersebut langsung bercengkrama dengan mainan-mainannya. Anette mengecup pipi gembul Jeno. Setelah itu ia ikut berbaring di samping Juno. Juno langsung memeluk tubuh Anette. Menyandarkan kepalanya di dada istrinya tersebut.


Anette menyisiri rambut Juno dengan jari-jari tangannya.


"Sayang, nanti malam ikut aku yuk," bisik Juno.


"Kemana?"


"Ke rumah baru Monnie. Nanti biar Jeno kita titipin ke momy."


"Kenapa tidak diajak saja?"


"Acaranya sampai tengah malam, nanti Jeno tidak nyaman," jelas Juno.


"Baiklah."


...


Anette memandangi rumah mewah di hadapannya dengan tatapan takjub. Seperti rumah impiannya yang sempai ia sampaikam pada Juno. Di sebelahnya Juno merangkul pinggang Anette.


"Ayok masuk," ajak Juno.


"Kok sepi ya mas?" Tanya Anette seraya melihat ke sekitar. Hanya ada mobil Juno yang terparkir di pelataran rumah tersebut.


"Mungkin belum datang."


Sesampainya di depan pintu Anette dibingungkan oleh Juno yang yang membuka pintu menggunakan kunci yang dikeluarkan dari saku kemejanya.


"Loh, kok kuncinya bisa sama kamu?" Tanya Anette bingung.


Juno tidak menjawab. Ia hanya tersenyum manis lalu kembali merangkul pinggang Anette memasuki rumah tersebut. Di dalam sana sepi. Hanya ada suara instrumen romantis yang mengisi kesunyian.


Juno membawa Anette ke halaman belakang. Wanita tersebut membekap mulutnya terkejut saat melihat apa yang berada di hadapannya saat ini. Kolam renang yang sudah di dekorasi secantik mungkin. Di tepi kolam ada meja makan serta makanan yang telah tersaji di sana.


"Happy weding aniversery sayang," ucap Juno.


Anette langsung memeluk suaminya tersebut.


"Terimakasih mas. Maaf aku lupa," ucap Anette.


"Tidak apa-apa, justru itu membuat kejutan yang kubuat berhasil."


Juno merenggangkan pelukannya. Ia menakup lembut sisi wajah Anette.


"Terimakasih sudah menjadi istri yang baik untukku dan ibu yang baik untuk Jeno. Maaf jika akhir-akhir ini aku menjadi lebih sibuk. Itu karena aku menyiapkan rumah impian kita ini," ucap Juno.


"Jadi ini bukan rumah Monnie?" Tanya Anette.


Juno terkekeh, "Rumah ini milikmu, atas kepemilikanmu. Aku membangunnya sejak dua tahun yang lalu. Namun karena sempat terkendala biaya jadi baru selesai seminggu yang lalu."


"Aku harap kamu menyukainya," lanjut Juno.


Mata Anette berkaca-kaca.


"Terimakasih mas. Tapi.. mengapa atas namaku, ini semua kan hasil kerja kerasmu," ucap Anette.


Juno kembali membawa Anette ke dalam pelukannya.


"Ini sebagai penghargaan dariku untukmu. Selama empat tahun menikah kamu menemaniku merintis karir dari nol. Kita sempat Hidup pas-pasan saat aku baru merintis karir. Kamu selalu menerima berapa pun nafkah yang aku berikan walau aku tahu itu sangat kurang. Tidak sedikit pun kamu mengeluh saat kita hanya bisa makan sepiring berdua karena aku tidak ingin menerima bantuan dari momy saat itu."


Juno menangis. Ia sangat beruntung memiliki istri berlian seperti Anette. Wanita dengan sifat langka yang mungkin hanya terdapat beberapa saja di Kota Ini.


Anette merenggangkan pelukannya. Kini ia yang menakup kedua sisi wajah Juno dengan tangannya.


"Dan kamu suamiku yang hebat. Jeno sangat beruntung memiliki papa yang hebat seperti mas. Pekerja keras dan pantang menyerah. Di antara kesibukan kesibukan, mas pasti akan menyempatkan waktu saat kami sedang membutuhkan kehadiran mas," balas Anette.


Keduanya saling menatap dalam. Juno meraih tangan Anette lalu mengecupnya. Juno berpindah mengecup seluruh permukaan wajah Anette, membuat wanita tersebut tidak bisa menahan tawanya.


Tiba-tiba Anette melingkarkan tangannya di leher Juno lalu berbisik, "terimakasih Mas Juno."


"Sayang, aku merasa seperti tukang bakso jika kamu memanggilku seperti itu."


"Memang."


Juno mengusel-uselkan wajahnya di ceruk leher Anette. "Romantis sedikitlah...," rengeknya.


"Hahaha." Anette merenggangkan pelukannya. Ia meraih tangan Juno lalu meletakan telapak tangan tersebut di perut ratanya.


"Apa?"


"Menurutmu?" Anette menaikan sebelah alisnya.


Kedua alis Juno saling bertautan. "New baby?" Tanyanya sedikit kurang yakin.


"Yup." Anette mengecup pipi Juno.


"Realy?!" Anette mengangguk.


Juno membawa Anette ke dalam dekapannya dan mengangkatnya.


Anette tersenyum menunjukan gigi-giginya. "Aku baru mengeceknya tadi pagi. Aku lupa bilang ke kamu, entah kenapa akhir-akhir ini aku menjadi pelupa," ucap Anette cengengesan.


Juno tertawa. Benar apa yang dikatakan Anette, akhir-akhir ini iatrinya tersebut memang menjadi pelupa. Bahkan tiga hari yang lalu Anette menangis sesegukan gara-gara kumpulan makanan instan khas korea miliknya hilang. Padahal setelah mengecek CCTV yang berada di dapur, ternyata makanan-makanan tersebut memang telah habis oleh dirinya sendiri.


...


Di rumah barunya keluarga kecil Anette dan Juno sedang kedatangan teman-teman mereka. Siapa lagi kalau bukan Monnie, Gia, dan Jamie. Lihatlah sekarang mereka sudah bersama pasangan masing-masing.


Jamie membawa istrinya yang sedang hamil besar, namanya Aira. Istrinya tersebut masih sangat muda, yaitu berusia 17 tahun. Mereka menikah karena Aira hamil duluan gara-gara Jamie yang tidak bisa menahan hasratnya. Dengan terpaksa Aira keluar dari sekolah menengah akhirnya.


Monnie membawa bayinya yang baru berumur 4 bulan. Suaminya yang seorang pilot tidak bisa hadir karena jadwal terbangnya yang sedang padat.


Sementara Gia. Ia datang bersama suaminya, Gamaliel. Tak lupa juga puteri kecilnya yang baru berusia 1 tahun, namanya Naura.


Saat ini mereka


"Jeno bagi biskuitnya ke adik Naura sayang," ucap Anette.


"Dik, adik mamam," ucap Jeno seraya memberikan biskuitnya pada Naura.


Naura dengan senang menerimanya. Awalnya balita tersebut tertawa-tawa mengemut biskuit itu, namun setelah biskuit itu dilempar ke wajah Jeno. Jeno yang kaget mendapatkan perlakuan seperti itu pun mengerutkan bibirnya bersiap menangis.


"Hpp mama..," benar saja, Jeno menangis.


Jeno merentangkan kedua tangannya pada Anette. Anette pun segera mengangkat tubuh Jeno dan menenangkannya. Jeno menyembunyikan wajahnya di leher Anette.


"Adik hiks lempal (adik melempar)," adu Jeno di sela tangisnya.


"Ssttt tidak apa-apa. Adik Nauranya tidak sengaja," ucap Anette.


"Ditolak memang tidak enak Jen," ucap Jamie yang langsung mendapatkan teguran dari sang istri.


"Hush."


Anette kembali duduk di samping Juno dengan Jeno yang berada di pangkuannnya.


"Jeno dipangku sama papa saja ya nak. Kasihan adik di perut mama," ucap Juno.


"Da mau papa, mamaku (tidak mau papa, ini mamaku)," balas Jeno sambil mengusel-uselkan wajahnya di dada Anette.


"Sudah, tidak apa-apa," ucap Anette menengahi.


Teman-teman mereka memutuskan untuk menginap. Disaat anak-anak sudah tidur, kini tinggal para orang tua berkumpul di ruang keluarga.


Monnie mengeluarkan tumpukan kartu dari tasnya. "Kalian ingat ini?" Tanya Monnie sambil tersenyum miring.


Anette, Juno, Gia, dan Jamie membelalakan matanya kaget. Itu adalah kartu truth or dare yang pernah mereka mainkan beberapa tahun silam.


"Ayo main," ajak Jamie dengan semangat.


"Main apa?"tanya Aira bingung.


"Truth or dare," balas Jamie yang diangguki oleh Aira.


"Gimana, setuju?" Tanya Monnie yang diangguki oleh semuanya kecuali Anette.


"Sayang.. mau ya, cuma main," Juno berusaha membujuk Anette.


Anette menghela nafasnya lalu mengangguk setuju. Semoga saja ia tidak mendapatkan pertanyaan atau pun tantangan yang ekstrim seperti dulu.


Mereka duduk lesehan melingkari meja.


"Aku yang pertama mutar ya," ucap Monnie yang disetujui oleh semuanya.


Monnie memutat remot TV. Tak lama ujung remot tepat mengarah pada Anette. Monnie dan yang lainnya tertawa melihat ekspresi Anette yang sepertinya tidak terima. Ya Tuhan, mimpi apa ia semalam hingga harus memainkan permainan menyebalkan ini.


"Truth or dare An?" Tanya Monnie.


"Dare!" Ucap Juno mendahului Anette.


"Mas ini giliranku!" Ucap Anette tidak terima.


"Tidak usah takut." Juno menggenggam tangan Anette. "Ada aku," lanjutnya.


"Baiklah," ucap Anette pasrah.


Monnie mengambil 1 kartu dare lalu menunjukan tulisan yang tertera di sana.


"Goda kekasihmu atau teman dekatmu!" Anette membaca tulisan tersebut dengan suara pelan. Ia mengakhiri kalimatnya sambik membelalakan matanya.


Benar kan, tidak ada yang beres dengan permainan ini.


"DARRRR!"


"Aaaaa!" Teriak Anette kaget.


Anette tersadar dari aktivitasnya. Astaga, sudah berapa lama ia berdiri di parkiran sambil menulis cerita fiksi di ponselnya. Ini semua gara-gara menunggu kekasihnya yang barusan mengagetkan dirinya.


Anette menepuk punggung laki-laki itu. "Juno.. ih nyebelin banget si lo!"


"Hahaha, sorry-sorry. Kamu si serius banget nulisnya," Juno terkekeh.


"Lagian ekskul basket pake ada acara rapat segala. Emang bahas apa si sampai lama banget? Bahas gimana bisa melonnya duo serigala bisa gede mantul-mantul kayak basket huh?!" Cerocos Anette dengan rentetan omelannya, tapi ia tetap menerima Juno yang  sedang memasangkan helmet di kepalanya.


Juno mengecup singkat singkat kening kekasihnya tersebut.


"Ngapain bahas mereka. Orang aku udah punya itu." Juno menunjuk dada Anette.


Anette membelalakan matanya lalu mengamati sekitarnya. Untung saja di parkiran hanya ada mereka berdua. Anette mencubit pinggang Juno.


"Awhh sakit sayang," ringis Juno.


"Kalau ada yang liat gimana?!" Omel Anette.


"Alah, biasanya juga malah seneng. Udah ayo!" Balas Juno.


Juno menghidupkan motornya. Anette memegang punggung Juno untuk mempermudahnya menaiki motor tersebut. Dengan sengaja Anette memeluk erat Juno.


"Sayang gak enak diliat orang."


"Alah, biasanya juga keenakan. Ayo jalan, aku mau makan siomai dulu."


Juno melajukan motornya keluar dari kawasan sekolah. Ah sial! Doakan saja Juno agar bisa fokus mengendarai motornya, tanpa menghiraukan sesuatu yang menempel di punggungnya. Gadis tersebut benar-benar pembalas dendam yang baik bukan?


Anette menatap lembayung sore Kota Jakarta. Ia membayangkan reaksi para pembaca ceritanya yang selama ini menerornya karena di sosial medianya Anette sempat membocorkan kisi-kisi dari cerita barunya yang baru tadi ia tamatkan. Mereka begitu antusias menanti karya tulis Anette tersebut.


Kira-kira bagaimana ya reaksi Juno saat mengetahui jika dirinya menjadi tokoh pria utama dalam cerita yang isinya seperti sinetron tersebut? Memikirkan hal itu membuat Anette tersenyum geli.


The End