
Langit malam semakin menggelap tertutupi awan mendung, hingga menghalangi cahaya rembulan. Kilatan petir mulai bersambaran disertai angin kencang. Tak lama hujan pun turun membasahi semua yang berada di bawah naungannya.
Jalanan ibu kota terlihat sepi dari pengendara. Hanya ada beberapa yang nekad melewati hujan lebat tersebut. Salah satunya sebuah mobil sedan hitam yang dikendarai oleh Wilona.
Wilona sudah meyakinkan dirinya untuk pergi dari kediaman Anette. Ia tidak ingin keberadaannya semakin memberikan beban pada gadis tersebut. Sudah cukup pengorbanan Anette untuk dirinya. Siang tadi Anette hampir di perkosa, lalu nanti apa lagi yang akan dilakukan Keanu?!
Wilona memutuskan untuk kembali ke Jepang, ia sudah memesan tiket pesawat lewat aplikasi online. Ia mengikuti penerbangan awal dini hari ini.
Wilona ingin memulai kehidupan barunya di sana bersama anak dalam kandungannya saat ini. Jujur, Wilona juga belum siap menanda tangani surat perceraiannya yang telah sampai sore tadi. Ia meninggakannya begitu saja di meja kamar Anette.
Biarkan saja hubungannya dengan Keanu mengambang. Toh laki-laki itu juga sudah tidak mempedulikan Wilona dan anaknya. Biarkan Keanu hidup semaunya, bukan kah itu lebih baik?
...
Pagi harinya Anette terbangun dengan kepala yang terasa pening efek menangis terlalu lama. Bahkan ia belum sempat membersihkan dirinya. Anette masih mengenakan hoodie besar milik Juno.
Anette tidak mendapatkan Wilona di sisinya. Mungkin ia sudah bangun lebih dulu. Anette menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang kotor. Bayangan Keanu menyentuhnya secara paksa masih menghantui pikirannya.
Selesai mandi dan berpakaian Anette keluar kamar. Ia hanya mendapati Ibunya yang sedang menyajikan sup di atas Meja makan.
"Bun, di mana Kak Wilona?" Tanya Anette.
"Loh bukannya masih di kamar. Sedari tadi bunda tidak melihatnya," ucap Rachel bingung.
Anette langsung beranjak menuju kamarnya. Ia memeriksa isi lemari, semua pakaian milik Wilona sudah tidak ada di sana. Anette meremas rambutnya kebingungan. Hingga tidak sengaja ia menemukan sebuah map dan secarik kertas di atasnya. Anette meraih kertas tersebut dan membacanya.
*Hi An, adikku yang sangat baik.
Senang sekali dapat mengenal gadis sebaikmu. Terimakasih telah banyak menolongku sampai mengorbankan dirimu sendiri.
Maaf aku tidak bisa berpamitan secara langsung. Aku kembali ke keluargaku di Jepang. Tolong sampaikan terimakasihku pada Buna. Bilang juga aku sangat menyayanginya seperti ibuku sendiri.
Sampai bertemu lagi suatu hari nanti.
"Bye-bye aunty Anette," kata keponakanmu*.
Tubuh Anette terasa lemas, ia mendudukan tubuhnya di atas ranjang. Anette beralih membuka map yang ternyata berisi surat gugatan perceraian yang belum ditanda tangani.
Anette menangis. Wilona telah pergi.
Rachel memasuki kamar menghampiri Anette.
"Kenapa An?" Tanya Rachel.
Anette tidak menjawab, ia justru menyerahkan secarik kertas dan map tadi pada Rachel. Rachel membaca isi surat dan isi map tersebut. Rachel meletakkan kedua benda tersebut di atas meja.
Rachel membawa Anette ke dalam pelukannya.
"An jahat buna.. ini semua gara An.." lirih Anette dalam tangisnya.
"Sssttt, kita harus hargai keputusan mereka. An tidak salah, An hanya terjebak dengan orang dan waktu yang salah. Semoga Wilona bisa meraih kebahagiaannya di sana."
...
Di rumah kebesarannya keanu duduk di pojok kamar sambil menenggak sebotol champagne. Penampilannya cukup berantakan dengan tubuh shirtles dan rambut acak-acakan. Belum lagi luka memar di wajah dan beberapa bagian tubuhnya.
"Arrggggghhh! Kalian membuatku gila!" Teriak Keanu seraya melemoar botol minumannya ke tembok hingga hancur berkeping-keping.
Keanu mencengkram rambutnya dengan kedua tangannya. Tanpa bisa dikendalikan air matanya mulai berjatuhan dari pelupuk matanya.
"Pada akhirnya tidak satu pun dari kalian yang dapat kugapai.." lirih Keanu.
Mungkin karena efek minuman membuat emosinya cepat berubah-ubah.
Dengan tingkat kesadarannya yang hanya 60%, Juno membuka laci nakas. Ia meraih album foto pernikahannya dengan Wilona. Senyuman di wajah wanita tersebu seakan menyambut Keanu saat membukanya. Dari semua foto pernikahannya, hanya Wilona yang menunjukan senyum bahagianya.
Keanu melempar album foto tersebut kesembarang arah. Tapi sebuah amplop jatuh dari dari sana. Keanu membuka amplop tersebut. Di sana terdapat sebuah tespek dengan dua garis biru dan sebuah foto USG. Jantung Keanu berpacu semakin cepat saat memandangi foto janin sebesar buah strawberry tersebut.
Anaknya? Hahaha, bahkan sebelumnya Keanu tidak mengakuinya.
Keanu membalik foto tersebut. Di sana terdapat tulisan tangan yang ia yakini Wilona yang menulisnya.
Tumbuh sehatlah sayang, setidaknya ada kamu yang mecintai mama.
Menyedikan.
Keanu menatap kosong langit-langit kamarnya. Di detik berikutnya, tiba-tiba Keanu membenturkan kepalanya sendiri ke dinding.
"Bodoh!" Teriaknya sambil terus membenturkan kepalanya.
Ya, kau sangat bodoh Keanu! Kau terlalu egois. Pada akhirnya tidak satu pun dari Anette atau pun Wilona yang kau dapatkan. Keduanya pergi meninggalkanmu.
Keanu sendirilah yang lebih memilih Wilona dari pada Anette. Namun karena kelabilannya ia justru menyakiti keduanya. Sebenarnya saat sebelum menikah Keanu berniat untuk membatalkan pernikahannya setelah menyadari perasaannya pada Anette. Namun karena Wilona yang mengaku hamil, dengan terpaksa ia menikahi wanita tersebut.
Di sisi lain Wilona sedang menatap ke luar Jendela pesawat yang sedang take off.
"Selamat tinggal Kee, berbahagialah dengan caramu. Kami menyayangimu," ucap Wilona seraya mengusap perutnya.
...
1 bulan kemudian..
Juno mematut pantulan dirinya di cermin. Saat ini ia sudah rapih memakai setelan kemeja hitam dan celana bahan berwarna senada yang terlihat sangat pas pada tubuh tegapnya. Dada bidangnya tercetak jelas dari balik kemeja.
Juno keluar dari kamarnya, berbarengan dengan Anette yang ternyata juga baru keluar dari kamar di depan kamarnya. Gadis tersebut terlihat cantik dan manis dengan dress hitam berlengan sabrina dengan panjang sebatas lutut.
Mereka sama-sama melempar senyum malu. Sampai-sampai Juno yang biasanya terlihat percaya diri kini menggaruk tenguknya yang tidak gatal karena grogi. Suasana mendadak menjadi canggung sampai kedatangan Rachel dan Hara membuat suasana kembali cair.
"Ayo, tamu-tamu sudah datang," ucap Hara.
"Kamu sudah siap An?" Tanya Rachel pada puterinya.
Anette mengangguk, "iya Buna."
"Ya sudah Ayo," ajak Hara.
Hara dan Rachel berjalan lebih dulu meninggalkan Juno dan Anette yang masih diam di depan pintu kamar masing-masing.
Anette dan Juno sama-sama melangkah maju secara bersamaan. Keduanya terkekeh saat sudah saling berhadapan. Juno menyodorkan lengannya untuk digandeng oleh Anette. Dengan senang hati Anette melingkarkan tangannya pada lengan kokoh tersebut. Kemudian keduaya melangkah menuju lantai satu mansion keluarga Orlando tersebut.
Malam ini merupakan acara lamaran resmi Keanu dan Anette yang baru sempat dilaksanakan setelah kondisi Anette sudah lebih membaik setelah acident satu bulan yang lalu. Untuk pertama kalinya kedua orang tua Juno menunjukan kemurkaannya saat mengetahui ulah Keanu yang telah melecehkan Anette. Demian menampar keras wajah anak sulungnya tersebut ketika menemuinya di kantor. Bahkan Pria paruh baya tersebut melarangnya untuk datang ke acara pertunangan anak bungsunya tersebut.
Acara dilaksanakan di Mansion keluarga Orlando. Tamu-tamunya di dominan oleh kolega bisnis Demian, sedangkan Anette hanya mengundang beberapa tetangga terdekatnya.
Juno dan Anette menuruni anak tangga diiringi instrumen romantis yang dimainkan oleh salah satu pianis terbaik di Indonesia. Semua pandangan tertuju pada pasangan muda tersebut. Senyuman tak luntur dari wajah keduanya.
"Selamat malam para tamu undangan sekalian. Malam ini saya akan mengumumkan pertunangan anak bungsu saya Juno Orlando, dengan kekasihnya bernama Anette Veronica," ucap Demian menggunakan micerophone.
Para tamu bertepuk tangan.
"Langsung saja, Juno silahkan di mulai."
Demian menyerahkan Mice pada Juno. Juno membuang nafas panjang sebelum memberanikan diri untuk bicara.
"Selamat malam semuanya. Malam ini, di hadapan orang tua saya dan Anette, juga para tamu. Saya berniat untuk melamar kekasih saya, Anette Veronica sebagai istri saya."
Juno beralih menatap Anette dalam.
"Atas restu Tuhan kita dipertemukan. Aku tidak peduli apa pun masa lalumu atau dari mana kamu berasal. Kamulah kado terindah yang tuhan berikan padaku."
Juno menggenggam satu tangan Anette.
"Aku janji, saat menikah nanti aku tidak akan merusak barang dan memberantakan rumah," ucap Juno dengan kekehannya. Membuat semua yang menyaksikan nereka tertawa.
"So, Anette Veronica, maukah kamu menikah denganku, menjadi istriku, juga ibu dari anak-anakku nanti?" Tanya Juno dengan mata berkaca-kaca.
Alunan instrumen sangat mendukung suasana haru yang lumayan menguras emosional Juno dan Anette, juga mereka yang menyaksikan.
Anette sudah memegang mice. Dengan tangan gemetar ia mendekatkan benda tersebut dengan mulutnya. Satu tangannya mengusap air matanya yang tidak sengaja terjatuh dari pelupuk matanya.
"Ya, aku menerima lamaranmu Juno Orlando. Aku bersedia menjadinistrimu," ucap Anette dengan suara sedikit bergetar.
Gemuruh tepuk tangan menyambut mereka.
Juno mengeluarkan kotak cincin dari saku kemejanya. Ia mengeluarkan cincin dengan detile berlian. Juno meraih tangan Anette dan memakaikan cincin tersebut di jari manis gadis tersebut. Cincin pemberian Juno sebelumnya telah di simpan di dalam kotak sebelum acara tersebut dimulai.
Gemuruh tepuk tangan kembali menyambut keduanya.
Setelahnya Juno mengajak Anette untuk berdanasa di tengah-tengah, lalu diikuti oleh para pasangan lainnya.
Anette melingkarkan tangannya di leher Juno, sedangkan laki-laki tersebut melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Anette. Tubuh keduanya saling menyatu.
"Sudah bisa berdansa rupanya," ucap Juno menggoda Anette.
"Tentu saja, kamu yang mengajariku saat pesta topeng bukan," balas Anette dengan bangganya.
Juno terkekeh.
"Can i kiss you?" Tanya Juno.
Semenjak kejadian satu bulan yang lalu, Juno belum pernah mencium Anette lagi. Ia menghargai Anette yang mungkin masih merasa trauma atas apa yang terjadi pada gadisnya itu.
Juno mengecup dalam kening Anette. Gadis itu menikmatinya dengam memejamkan mata. Rasaya sangat tenang. Beban di kepalanya seperti menguap begitu saja.
Lagi-lagi keduanya menjadi pusat perhatian. Banyak yang bergegas mengabadikan mereka dengan memotret mau pun merekamnya. Mereka dikelilingi oleh kilatan lampu dari kamera, mau pun ponsel.