
Juno masih belum sadarkan diri. Ia telah dipindahkan ke ruang rawat inap dengan alat-alat penunjang kehidupan yang masih menempel di tubuhnya. Di sampingnya ada Anette yang sedang membacakan sebuah novel bergenre komedi romantis.
Anette menghentikan aktivitas membacanya. Ia mengusap kepala Juno yang masih terbaring lemah. Ini sudah hari keempat Juno belum bangun dari komanya.
"Juno, apa kau tidak bosan menutup matamu hmm? Apa mimpimu di sana sangat indah sampai-sampai kau tidak mau bangun?"
Tiba-tiba pintu terbuka. Di sana ada hara yang datang dengan sebuah paper bag di tangannya.
"An, ayo makan dulu," ucap Hara.
"Terimakasih mom, tapi An masih kenyang."
Hara menghampiri Anette dan mengusap kepala gadis tersebut.
"Kemarin kau cuma makan sekali. Ayo makan."
"Baiklah mom."
...
Sore ini Anette mengunjungi apartemen Juno utuk sedikit bersih-bersih. Tinggal bagian kamar yang harus ia bersihkan. Anette mengelap rak buku yang lebih di dominasi oleh koleksi gundam milik Juno.
Anette tidak sengaja menjatuhkan sebuah kotak berwarna biru. Isi dari kotak tersebut jatuh berceceran. Ada sebuah kotak kecil berwarna biru beludru dan secarik kertas di sana.
Anette mengambil barang-barang tersebut. Ia duduk di sisi ranjang untuk membaca secarik kertas di tangannya.
Aku tidak pandai berkata-kata An. Aku mencintaimu. Menikahlah denganku Anette Veronica.
Kata-kata to the point khas Juno tersebutlah yang tertulis pada secarik kertas tersebut. Jantung Anette sudah berdebar tak karuan. Dengan perlahan Anette membuka kotak kecil tadi, ia membekap mulutnya terkejut saat mendapati sebuah cincin emas putih polos di dalam sana.
Anette mengambil cincin tersebut. Ternyata di dalam cincin tersebut terdapat ukiran namanya.
Ya Tuhan, jadi Juno telah menyiapkan semua ini untuknya. Astaga Anette ingat, saat persiapan pulang dari perkemahan waktu itu ia sempat melihat kotak pembungkus yang terjatuh tadi tadi di tas Juno.
Anette menangis, ia merasa dirinya sangat jahat pada Juno. Laki-laki itu terlihat sangat serius dengan hunbungan mereka. Namun dengan tidak tahu dirinya Anette malah menyakiti Juno.
Sungguh Anette tidak bermaksud menyakiti Juno. Juga bukan hal sulit untuk mencintai laki-laki tersebut, ya Anette telah mencintai Juno. Kemarin-kemarin Anette hanya belum siap membangun hubungan baru sedangkan rasa sakit atas luka lamanya saja belum reda.
Apa Juno akan tetap menginginkannya jika Anette sekarang menerima lamaran yang sempat gagal tersebut?
Anette mengenakan cincin tersebut di jari manisnya. Masih dalam keadaan terisak Anette kembali membersihkan kamar tersebut sebelum kembali ke rumah sakit.
Di kamar inap Juno hanya ada Keanu yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Kak," sapa Anette pada Keanu.
"Hi An," balas Keanu.
Keanu berjalan menghampiri Anette. "Kau baik-baik saja?" Tanya Keanu memperhatikan wajah sembab mantan kekasihnya tersebut.
Anette mengangguk. "Iya."
Keanu mengangguk, walau Keanu yakin ada sesuatu dibalik kesedihan Anette.
"Kalau begitu aku ke kantin dulu untuk membeli kopi," ucap Keanu sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
Anette beralih duduk di kursi samping brankar tempat tubuh Juno berbaring tak berdaya. Ia meraih tangan Juno dan menggenggamnya.
"Juno, aku telah menemukannya. lihatlah, aku memakainya, cantik bukan?" Anette memamerkan cincin di jari manisnya.
"Katakan saja aku gadis tidak tahu diri. Jika lamaranmu masih berlaku untukku, aku akan menerimanya Juno. Aku mau menjadi istrimu. Mempunyai banyak anak seperti yang pernah kau katakan waktu itu."
"Jika menikah nanti, aku akan memiliki banyak anak An. Aku ingin rumahku nanti ramai dengan canda tawa, tidak seperti keluargaku saat ini yang terasa sepi di tengah kekayaan," Itulah yang pernah Juno ucapkan pada Anette.
"Maaf jika sakit hatiku juga berimbas padamu," lirih Anette.
"I love you Juno," untuk pertamakalinya Anette mengucapkan kata-kata tersebut.
Anette mencium kening Juno, membuat air matanya jatuh mengenai pipi laki-laki itu.
Tanpa diduga, ucapan Anette memberikan reaksi pada tubuh Juno. Tangan Juno yang berada di genggaman Anette bergerak kecil. Matanya pun perlahan terbuka.
"J-juno kau bangun?"
Bola mata Juno bergerak menyesuaikan dengan cahaya ruangan. Laki-laki tersebut meracau tidak jelas. Dengan sigap Anette menekan tombol untuk memanggil dokter. Tak lama seorang dokter memasuki ruangan bersama dua suster yang mendampinginya.
Mereka memeriksa keadaan Juno. Satu persatu alat gang terpasang di pada tubuh Juno mulai dilepaskan, kecuali selang oksigen dan infus. Setelah selesai menangani, dokter tersebut menghampiri Anette.
Anette mengusap wajahnya penuh syukur, "terimakasih Tuhan..."
"Kalau begitu kami permisi, untuk lebih rincinya lagi biar nanti salah satu anggota keluarga beliau menemui saya di ruangan."
"Iya dok, terimakasih."
Dokter dan kedua suster tadi keluar dari ruangan.
Dengan hati berdebar Anette kembali mendekatkan dirinya pada Juno. Anette tidak mampu menahan air mata kebahagiaannya.
"An," panggil Juno dengan suara lemahnya.
"Ya, aku di sini," Anette menggenggam tangan Juno.
"Jangan tinggalkan aku," lirih Juno.
Anette menempelkan telapak tangan Juno di sisi wajahnya. Ia mengangguk.
"Aku akan selalu bersamamu," Anette memeluk Juno dengan hati-hati. "Aku mencintaimu," ucap Anette.
...
Ruang Inap Juno kini dipenuhi oleh kedua orang tua Juno, Keanu dan Wilona, dan ketiga teman dari laki-laki tersebut. Siapa lagi jika bukan Monnie, Gia, dan Jamie yang selalu setia menemani Anette menjaga Juno.
"Juno lepaskan Anette dulu, biarkan dia makan sebentar," ucap Hara membujuk anak bungsunya yang terus menggenggam dan memainkan tangan Anette.
"Tidak mau, nanti An hilang," balas Juno.
"Ya sudah mom biar aku saja yang menyuapi Anette," ucap Keanu menggoda membuat Juno menatap tajam kakaknya tsrsebut.
"Enak saja kau!" Sungut Juno membuat yang lain tertawa.
"Baiklah, kamu makan dulu sana. Tapi jangan pergi..," ucap Juno merengek sepeeti anak kecil.
"Iya-iya..," jawab Anette.
"Dasar budak cinta," ucap Demian.
"Seperti papa tidak saja," ucap Juno tak terima.
"Sudah ah," ucap Hara menengahi.
Tiba-tiba saja Keanu berdiri, membuat semua yang ada di sana menatapnya.
"Aku ingin memberitahu jika acara pernikahanku dan Wilona dipercepat menjadi lusa."
Ucapan Keanu sukses membuat semuanya terkejut.
"Mengapa begitu mendadak, bukankan keputusan kemarin menjadi bulan depan?" Tanya Hara.
"Acara dipercepat karena.. k-karena Wilona sedang mengandung anakku mom," jelas Keanu sedikit gugup.
Semuanya terkejut, sampai-sampai Anette yang sedang mengunyak makanannya tersedak. Monnie segera menherahkan air minum pada gadis tersebut.
"Ya Tuhan.. mengapa kau ceroboh Kee?" Tanya Hara tak percaya dengan yang ia dengar.
"Maaf mom," hanya itu yang bisa Keanu ucapkan.
Hara terlihat kecewa.
"Nasi sudah menjadi bubur, jadi lakukanlah yang terbaik," ucap Demian.
Keanu menghampiri kedua orang tuanya lalu memeluknya erat. Begitu pun dengan Wilona yang sedari tadi menunduk malu.
"Aku sering melihat wanita itu di club dekat apartemenku," bisik Gia pada Jamie.
"Benarkah? Aku jadi ragu anak di kandungannya tersebut anak Kak Keanu," balas Jamie berbisik.
"Huss kalian ini bergosip saja," ucap Monnie menengahi. "Tapi aku juga ragu itu anak Kak Keanu," lanjut Monnie yang sukses memancing Gia dan Jamie untuk menjambak rambutnya.
Di sisi lain Juno memperhatikan Anette yang sedang makan.
"Apa dia baik-baik saja mendengar berita ini?" Tanya Juno dalam hati.