
"Maaf kak, namanya juga kaget jadi dadakan. Kalau gitu kakak akan punya saingan selain si mantan suaminya" ucap Jaya dengan keceplosan sehingga dokter Nando itu pun segera menendang kaki adiknya itu "Awwww, sakit" teriak Jaya pelan.
"Kenapa?" tanya aku mendengar Jaya berteriak dengan nada kecil "tidak apa-apa Kak cuma sakit sedikit, aku tadi salah bicara" jawab Jaya.
"Kamu bilang tadi saingan Dokter Nando emangnya Dokter Nando harus saingan dengan siapa?" tanya aku kepada Jaya.
"Bukan Kak, maksud aku itu bukan saingan maksud aku tadi itu kalau Kak Nando itu akan menjadi" dengan bingung Jaya menjawab.
Tinnnnn Tinnnn Tinnnn bunyi klakson mobil di belakang "Sudah, sudah, sudah, sudah sekarang kamu bawa mobilnya harus kedepan sana, biar aku yang berbicara dengan Hiara kamu kalau bicara itu selalu semuanya ngelantur" marah Dokter Nando untuk mengambil kesempatan agar tidak terucap oleh Jaya lagi.
"Jadi gimana tadi, kalau dia hanya menginginkan terima kasih berarti dia tidak akan mengganggu kamu lagi mulai besok."
Dengan senyum Hiara pun "sepertinya iya dokter, lagian juga ya dokter Lira itu berlebihan mau mengucap terima kasih saja harus memindahkan kebun bunga ke kantor. Benar-benar menyebalkan."
"Ya ya ya aku tahu kamu pasti sangat kesal, tapi untuk itu mendingan kamu pulang ke rumah dan istirahat besok lagi mikirin kerjaan."
Aku pun mengangguk "Jaya cepetan dong bawa mobilnya kakak udah mau pulang sampai rumah" langsung mengomeli Jaya.
"Akhirnya dia pulang juga, tapi siapa yang ditemukan Hiara tadi ya. Kenapa juga dia bisa naik mobil dokter sialan itu atau jangan-jangan dia ikut memata-matai, ini semua gara-gara Lidia coba dia tidak menarik ku pasti aku sudah mengetahui semuanya. Sial wanita itu benar-benar keterlaluan selalu memaksa kehendaknya" kesal Feri sambil memarkirkan mobilnya di dalam rumah.
Aku yang saat itu masuk ke dalam rumah pun melihat Mama mertua yang sedang asyik menonton televisi dalam hatiku "mending aku kabur sebelum di tanya-tanya."
Mama mertua itu pun menoleh melihat ke arah ku sehingga dia pun berteriak "Hiaraaaa, kamu lihat mama duduk situ bukannya kamu sapa tapi malah langsung pergi ninggalin."
"Memangnya kenapa ma, kalau aku menghampiri Mama apa Mama akan menjawab karena mama pasti kesal kalau sedang diganggu nonton film kesukaan Mama" jawabku.
"Pintar, kamu memang mengerti Mama. Dari kemarin-kemarin ya Mama pengen banget nih makan masakan kamu tuh cemilan yang pernah kamu buat dulu yang apa itu namanya yang isi coklat itu, pokoknya enak banget seperti donat" pintanya tiba-tiba.
"Aduh mah ya aku lagi capek banget jadi mau istirahat di dalam kamar, besok aja ya ma untuk bikin cemilannya" bujukku.
"Ngak mau, pengen banget" ocehnya kepadaku.
Ibu yang tidak suka mendengar ucapan Mama mertua pun segera mengoceh "kamu pikir anak ku itu pembantu apa, harus masakin makanan kesukaan kamu di malam hari seperti ini. Kalau kamu lapar kamu bikin sendiri tidak usah membujuk-bujuk anakku, dasar perempuan tidak tahu diri" mendengar ocehan Ibu yang kasar pun mama kesal.