
Ayah mengajaknya duduk masuk ke dalam "Ayo" melihat wajah Lira memar pun ayah bertanya "wajah Pak Lira tidak apa-apa itu, sangat merah" tunjuk ayah kepada pipi Lira.
"Tidak apa-apa, tadi ada wanita cantik yang memukul wajahku" aku yang mendengar jawabannya itu pun menarik nafas lega.
"Untung saja dia enggak cerita sama ayah, kalau dia jujur bisa-bisa Ayah omelin aku" ucap ku dalam hati sambil melanjutkan masakan kami tadi.
Selesai masak pun aku segera memanggil ayah dan menyiapkan semua masakan itu semua kepada para tukang, Ayah menawarkan Lira untuk makan.
Aku yang melihat itu pun langsung berceroteh "ayah dia itu orang kaya, jadi dia nggak akan mau makan sama-sama kita di sini. mendingan Pak Lira pulang saja deh biar bisa mengobati luka di wajah Bapak" Lira hanya tersenyum.
"Tidak apa-apa Ibu Hiara, aku juga ke sini kebetulan sekali mencicipi masakan dari Pak Heru ini bagaimana rasanya, karena memulai bekerja sama aku belum mencoba bagaimana rasanya masakan Pak Heru ini" mendengar ucapan Lira seperti itu pun Ayah mengizinkan Lira untuk makan bersama, sedangkan aku benar-benar sangat kesal melihatnya seperti itu.
Aku mengangkat kakiku di atas kursi sambil makan menggunakan tangan "Hiara mana sendoknya, kasih sama Pak Lira. Ayo bisik ayah pelan kepadaku."
"Pak Lira bisa makan pakai tangan kan sebab alat dapur belum di pindahkan kemari" ucapan ku pun itu membuat ayah memukul keningnya "anak ini" celoteh ayah dalam hatinya.
"Iya bisa, tenang saja Pak Heru saya terbiasa makan seperti itu" ucap Lira.
"Ayo makan" aku mengambil makanan itu meletakkannya di atas piring Lira menggunakan tanganku yang sudah ku gunakan makan.
"Hiaraa biar ayah" sebelum ayah selesai mengucapkan ucapannya.
"Silahkan pak, begini pak cuci tangan lauknya di letakkan di atas nasi panas terus kita makan" Lira pun memulai mencobanya dan memakan makanan itu.
"Enak" ucap Lira melanjutkan makanannya sambil tersenyum.
"Memang enak pak, ini pak lebih enak lagi" aku pun meletakkan sambal hijau ke piringnya.
"Hiara, nanti ke pedesan Pak Liranya" teriak ayah.
"Ngak apa-apa Pak Heru, kebetulan saya sangat suka makanan pedas" jawab Lira sambil memakan makanannya.
"Ini" aku memberikan es teh kepadanya.
Dengan cepat Lira meminum es teh itu, ayah pun segera ke dapur membersihkan seluruh piring.
"Bapak jangan suka berbohong, nanti sakit perut" bisikku sehingga membuat Lira pun tersenyum melihat ke arahku.
"Ayahhhh, Pak Lira mau pulang" teriakku sehingga membuat Lira pun berdiri.
Ayah pun berjalan keluar dari dapur "wah terimakasih Pak Lira, seminggu lagi ini semua sudah selesai jadi saat launching pertama sekali saya akan segera mengabarkan kepada bapak" ucap ayah.
Aku pun mendorong tubuh Lira segera masuk ke dalam mobil "ayah hentikan ucapannya, Pak Lira sudah mau pulang karena dia sudah kepanasan. Hati-hati pak" ucapku membuat Lira tidak bisa berkata-kata lagi
Di dalam mobil perjalan "cepat ke apotik beli obat" teriak Lira kepada sopirnya.
Dengan cepat Lira meminum obat sakit perut yang dia beli, sambil tersenyum Lira mengingatkan kejadian tadi "Hiara satu-satunya wanita yang berani sekali mengerjai aku, tapi anehnya aku merasa suka sampai-sampai aku lupa mengucapkan terimakasih kepada wanita aneh itu" ucap Lira dalam hatinya.
"Ayahhhh, ayo pulang" aku dan ayah pun segera pulang. Di perjalanan aku menceritakan semua kejadian persentasi di kantor dan ucapan profesor tadi kepada ayah.
Ayah hanya menarik nafas dan berkata "apa kamu yakin tidak menyukai Nando" tanya ayah membuat aku kaget.
"Kenapa tanya seperti itu ayah."
"Kalau kamu tidak menyukainya ayah yang akan mengatakan semuanya pada ibumu, namun kalau kamu menyukainya ayah akan mendukung apa pun keputusan kamu."
Aku pun terdiam dan melamun mendengar ucapan ayah itu "kamu bingung kan" aku pun mengangguk.
"Kamu rasakan dulu, apakah ada rasa cinta atau hanya rasa teman."
"Ayahhhh" teriakku kebingungan dengan ucapan ayah itu.