
Keesokan harinya aku pun terbangun dari tidur mendengar suara ayam yang sangat berisik pun membuat ku langsung berdiri dan membuka tirai jendela "ayam siapa sih pagi-pagi sudah ganggu padahal ini kan kawasan elit, masih ada gitu memelihara ayam" sambil lihat pemandangan di sekitar itu, aku pun melihat Meri sedang berjalan seperti sembunyi-sembunyi "ngapain" celotehku.
"Udah lah terserah dia mau ngapain, yang penting jangan bikin masalah saja di rumah" aku pun segera pergi bergegas mandi dan bersiap-siap untuk turun.
Selesai itu aku melihat Hito berjalan ke dapur ingin sarapan, di mana matanya sangat bengkak sehingga membuatku "Ha ha ha hahahaha" tawaku tiada henti.
Hito yang menoleh pun marah "Kakakkkkk."
"Hahahaha apaan tuh" tunjukku ke matanya sehingga membuat Hito sangat kesal "Kakak mau ngeledek ya."
"Iya mau gimana lagi, habis mata kamu bengkak, wajah bengkak dan tubuh juga bengkak. Kamu mau jadi apa" ledekku.
"Hei, Kakak jangan bicara sembarangan ya, yang bengkak-bengkak itu kan kakak bukan aku. Aku kebetulan saja mataku bengkak karena aku nggak bisa tidur semalam."
"Kenapa? kamu main game di hp, begadang."
Hito pun menggeleng "terus kamu nonton sampai larut malam" Hito pun juga menggelengkan kepalanya.
"Apa terus kamu teleponan ya sama pacar kamu sampai pagi hari ya, kamu udah punya pacar ya masih kecil-kecil kayak gini" Hito pun menggeleng kepala.
"Kakak ini semua karena kakek."
"Kenapa?" Ibu yang saat itu keluar dari kamar mendekati kami.
"Kakek semalam nyuruh aku tidur di kamarnya, karena dia beranggap aku ini cucu kesayangannya Kak Feri. Lagi tidur kakek berisik banget, kakek meluk aku seperti boneka kesayangannya dan terus opa juga mengigau berisik banget" cerita panjang lebar Hito.
"Biarin, emang kenyataannya. Udah aku mau sarapan" Hito pun berjalan ke meja makan dan duduk.
Ibu yang melihat itu pun juga ikut tertawa "rasain, makanya jangan suka ikut campur urusan orang tua akhirnya kamu sial kan. Mata bengkak jadi jelek" ucap ibu membuat Hito menghentikan tangannya mengambil makanan di atas meja.
"Bengkak-bengkak gini masih tampan, udah ah" Hito pun hanya mengambil roti dan bergegas pergi keluar seperti kesal.
"Mulai tu ngambek Bu" ibu pun hanya tersenyum.
Hito yang pergi keluar berpapasan dengan mama yang hendak ke dapur sehingga membuat mama tertawa.
Hito yang menoleh saat mendengar tawa dari Mama pun segera mengeluarkan wajah sinisnya dan pergi keluar dari rumah "anak itu kenapa?" masuk ke dapur.
'Mama ngeledekin Hito ya?" tanya ku kepada mama yang membuka kulkas mengambil sebuah susu untuk dirinya.
"Iyaa kok bisa sih matanya jadi kayak gitu, lucu banget" mereka pun saling pandang memandang sehingga tertawa lagi terbahak-bahak.
Hito yang mendengar suara tertawa terbahak-bahak pun cepat berjalan keluar rumah dan tak sengaja menabrak Feri pada saat itu segera berdiri "Kenapa?" tanya laki-laki itu.
"Kakak juga mau ngeledekin aku seperti mereka di dalam ngeledekin aja, tertawa sepuasnya lah." kesalnya saat semua orang benar-benar nyebelin secepat kilat.
"Kamu jangan suudzon, siapa juga yang mau ngeledekin kamu. Justru saya ke sini mau bantuin kamu" ucap Feri.
"Memangnya aku percaya" jawab Hito berjalan pergi meninggalkan Feri.