Oplas

Oplas
bab 34



Lidia segera bersembunyi saat di kejar oleh Dokter "Kemana? siapa orang itu, wajahnya sengaja di tutup oleh rambutnya saat aku berteriak tadi" kesal Dokter segera pergi dari tempat itu dan masuk lagi ke kafe.


Aku yang saat itu selesai berfoto melihat Nindi sudah tidak ada lagi segera menelpon dokter dan pergi ke kafe tempat dokter berada.


Aku yang saat itu di kafe berpapasan dengan Dokter Teguh yang keluar dari kafe, dokter Teguh melihat aku dari ujung kaki sampai ujung kepala berjalan masuk ke dalam kafe "wanita itu yang ada di foto tadi, wah hasilnya memang sempurna" ucap Dokter Teguh segera masuk ke dalam mobilnya.


Aku yang menghampiri dokter dengan raut wajah kesal itu "Hallo dokter" teriakku mengagetkannya.


Dokter pun menarik tanganku ke kursi "cepat duduk" ucapnya yang membuat aku bingung "aneh biasanya marah tapi ini kok ngak peduli" ucapku dalam hati melihat wajah panik dan kesalnya.


"Kenapa?"


"Tadi aku bertabrakan dengan wanita, sayangnya aku tidak melihat wajahnya saat dia menunduk dan saat aku berteriak dia segera kabur menutupi wajahnya dengan rambut. Terus" aku pun langsung memotong ucapan dokter itu.


"Terus dokter penasaran dan jatuh cinta padanya, ekpresi wajah kesal ini karena tidak bisa kenalan dia" dokter mencubit bibirku dengan tangannya.


"Awww, sakit" kesal ku membalas cubitan di wajahnya.


"Aku belum selesai bicara, kamu tau wanita itu membawa map ini" memberikan selembar kertas kepadaku.


Aku kaget melihat kertas yang berisi fotoku yang sekarang itu "apa ini, kenapa ada di sini."


"Itu dia, dia sudah mencuri berkas ini dari kamar ku" aku yang mendengar ucapan dokter itu lemas.


"Sialllll, baru saja aku mau hidup mewah sudah ada yang buat aku sial lagi" celoteh ku.


Dokter mendekati kursinya ke sebelahku "mewah? apa maksudnya?"


"Dokter tahu kakek kandung Feri sudah membuat surat harta waris seluruhnya atas namaku kalau Feri menyakiti aku, aku sudah tenang karena aku bisa menjatuhkan Feri tapi orang ini aku harus membalasnya karena sudah main-main mencari seluruh informasi tentang aku" kesalku sambil meremas kertas itu.


Dokter yang melihat aku kesal merasa takut "kalau orang ini menjatuhkan kamu, kamu harus menjadi monster" ucapnya sambil memelukku.


Lidia yang bersembunyi itu pun pergi meninggalkan mobilnya dan menaiki taksi, sampai di rumah dia memberikan kunci mobilnya kepada Nindi yang baru saja sampai ke rumahnya "ini, kamu ambil mobilku di kafe Gloria sana" perintahnya.


"Tapi kenapa mobil kamu ada di sana?"


"Ngak usah banyak tanya" Lidia langsung masuk ke rumah, karena perintah Lidia nindi segera pergi ke kafe.


Saat hendak mengambil mobil aku, dokter dan Nindi pun bertemu di parkiran "loh Nindi ketemu lagi" ucapku.


"Eh iya yah, kamu dari kafe tapi kok aku ngak lihat" tanyaku.


"Dia pacar aku" aku memperkenalkan dokter sehingga mereka saling berkenalan.


"Aku kira kamu pacar bos Feri"


"Kamu lebih mengenal bos Feri dari pada aku" jawab ku sambil tersenyum.


"Ya udah aku duluan" pamit Nindi, kami pun saling pergi dari tempat itu.


Aku pun masuk ke dalam apartemen mendapatkan telpon dari Feri bahwa besok aku harus debut bersama artis-artis terkenal karena sudah ada request dari pihak perusahaan, mendengar ucapan itu aku sangat senang dan mematikan telpon sambil berteriak dan loncat-loncat "yes" berlari ke arah dokter memeluknya.


"Besok aku debut dengan artis terkenal, kalau aku berhasil maka follower, kontrak dan kerja kerasku akan berhasil" dengan sadar aku mendengar detak jantung ku dan dokter berdetak sehingga aku dengan cepat melepaskan pelukan itu dan salah tingkah.


"Besok dokter harus jadi Ramca soalnya dokter harus hadir di acara penting tersebut, kalau gitu aku masuk ke kamar dokter pulang tutup pintunya yah" cepat-cepat masuk ke kamar menutup pintu kamar.


Aku yang masih berdiri di pintu pun memegang dadaku "irama jantung ini seperti orang jatuh cinta, apa aku suka dengan dokter" celoteh ku sambil tersenyum berlari melentangkan tubuhku di atas ranjang.


Di depan rumah Lidia, Nindi yang sampai pun memparkirkan mobil itu di depan rumah. Saat Nindi ingin mengambil tasnya di belakang tiba-tiba barangnya terjatuh sehingga dia menghidupkan senter hp nya untuk mengambil barang yang terjatuh itu.


Saat Nindi mengambil barangnya Nindi melih foto sehingga segera dia mengambil foto tersebut dan melihat foto "ini kan" ucap Nindi langsung memasukkan foto itu ke dalam tasnya dan keluar dari mobil.


Nindi yang saat itu masuk ke rumah ingin memberikan kunci mobil melihat Lidia mondar mandir "ngapain kayak setrika aja" meletakkan kunci mobil itu.


"Gue lagi stres ini mikirin sesuatu" jawab Lidia.


"Sesuatu apa sih, Feri lagi. Udah ah gue pulang" saat berjalan keluar Nindi menghentikan langkah kakinya dan berbalik lagi ke arah Lidia.


"Kenapa?" tanya Lidia melihat Nindi mendekatinya lagi.


"Ini, tadi gue nemuin itu di dalam mobil lu" memberikan foto itu kepada Lidia.


Lidia pun mengambil foto itu dan melihat foto tersebut "gue aneh sama lu kok bisa foto almarhumah Istri Feri ada di mobil lu, Emangnya Feri pernah bawa foto istrinya sampai foto itu jatuh di dalam mobil lu. Apa jangan-jangan itu lu yang nyimpan foto almarhumah karena rasa bersalah lu sudah nikah sama suami orang" ucap Nindi panjang lebar namun tidak di hiraukan oleh Lidia.


Lidia hanya diam melihat foto itu, tubuhnya bergetar mengingat ucapan-ucapan yang di ucapkan oleh Ara saat berdua dengannya. Ucapan penuh kebencian, ucapan penuh balas dendam dan ucapan itu membuat Lidia seolah mengenal siapa Ara sebenarnya. Lidia pun tersenyum memeluk Nindi "terimakasih, sekarang kamu pulang" mendorong tubuh Nindi untuk keluar, saat Nindi keluar Lidia segera menutup pintu rumah itu dan melihat foto itu lagi.


Hahahaha Lidia tertawa seperti orang kerasukan di dalam rumah itu "sial ternyata wanita itu Hiara, dia masih hidup dan merubah seluruhnya menjadi seperti itu. Akhhhhh cewek sial dia sengaja seperti itu karena ingin balas dendam, lihat saja Hiara aku akan membuat kamu hancur untuk ke 2 kalinya" Lidia pun menunjuk-nunjuk foto tersebut.


Lidia menelpon orang suruhannya yang mencuri di rumah dokter, mereka merencanakan sesuatu untuk acara Ara besok "wanita sial lihat saja kamu besok akan hancur, besok hari terakhir kamu untuk menikmati kebahagiaan ini" ucap Lidia sambil tertawa sendiri memikirkan rencananya besok berjalan lancar.