Oplas

Oplas
bab 37



Sesampai di alamat kami berdiri di depan rumah tersebut sehingga ayah, ibu dan Hito mereka kaget "ini kan rumah mertua mu dulu" tunjuk ayah.


"Ayo kita masuk" ajakku sambil membuka pintu pagar dan masuk, aku melihat kakek yang sedang melamun di luar seolah menunggu seseorang menoleh ke arahku.


"Hiara, cucuku" teriak Kakek berjalan sambil memelukku dengan erat serta menangis.


"Kakek" membalas pelukannya.


"Kamu kenapa kurus, diet yah?"


Semua orang tertawa mendengar pertanyaan kakek "kek, Kak Hiara olahraga terus sampai bisa kurus gitu" celoteh Hito.


"Kalau gitu kita bisa olahraga sama-sama biar kakek kurus juga" sambil memegang perutnya yang buncit itu.


"Jangan" teriak Hito.


"Kenapa?"


"Nanti kakek ganteng" saat sedang asik tertawa mama mertua dan Meri pulang ke rumah.


Wajahnya mereka yang sinis itu melihat ke arah kami serta tas yang kami bawa "ini apaan?" tanya mama mertuaku.


"Apanya yang apaan Widia?" tanya kakek.


"Semua tas ini pa" sambil menunjuk tas yang kami.


Kakek pun tersenyum "kenapa di tanya, mereka kan tinggal di sini" jawab kakek membuat mama mertua dan Meri kaget.


"Apa? kenapa? mereka bukan siapa-siapa kita, apalagi Feri dengan dia sudah 1 tahun berpisah kalau dari segi agama mereka sudah bercerai pa" teriaknya marah.


"Hei kecilkan suaramu di depan orang tua" teriak ibu menunjuk ke arah mama mertua.


"Terserah aku donk, kamu tahu ini rumah siapa. Pergi dari sini" teriaknya sambil mendorong ibu.


Ibu dan mama mertua pun adu mulut sambil dorong-dorongan tiada henti "ini rumah anakku" teriak ibu yang membuat mama berhenti mendorongnya lagi.


"Mimpi?" ucap mama dengan sombong.


Aku pun mendekati mereka berdua "mama mertua, yang di katakan ibu benar bahwa ini rumahku karena sesuai dengan surat wasiat kakek jika Feri sudah menyakiti aku seluruh harta warisan kakek jatuh ke tangan ku. Iya kan kek" ucapku yang membuat kakek mengangguk sambil tersenyum.


"Ayo" aku mengajak keluarga ku masuk serta menggandeng kakek untuk masuk ke rumah.


Dokter yang saat itu tersenyum melihat ke arah mama mertua dan Meri seolah meledek membuat mereka berdua kesal, sehingga Meri pun segera menelpon papanya untuk pulang ke rumah.


"Kek kita nyanyi" ajakku menunjukkan piano itu, "kamu memang benar cucuku" ucap kakek mengajakku ke piano. Aku duduk dan memulai memainkan piano bernyanyi bersama kakek, Ayah dan Hito berjoget sambil bertepuk tangan.


Ibu segera menarik tangan dokter mengajaknya pergi dari tempat itu sehingga dokter pun mengikuti ibu ke belakang "Kenapa Bu?" tanya dokter penasaran.


"Aku mau bilang kalau aku akan mendukung kamu menjadi menantu ku" ucapan ibu itu membuat dokter kaget "tapi Bu?".


Ibu memukul pundak dokter "aku tau kamu mau bilang terimakasih kan pada ku, tidak perlu karena aku akan memperjuangkan kamu. Nah sekarang kamu harus membantu aku untuk mengawasi wanita dan anak perempuannya itu karena aku yakin dia akan menyakiti anakku" dokter hanya bisa mengangguk tidak bisa mengeluarkan kata sedikit pun di depan ibu.


Ha ha ha ibu tertawa melihat tingkah dokter "kamu memang penurut, ayo kita masuk" ibu menarik tangan dokter mengajak masuk berbarengan dengan mama mertua dan Meri namun aku dan kakek sudah selesai bernyanyi.


"Hiara kamar ibu yang mana karena ibu capek mau istirahat" ucap ibu sambil melihat ke arah mama dan Meri.


"Hiara ibu mau kamar itu yang berhadapan dengan kolam renang" tunjuk ibu namun Meri langsung berteriak "Ngak boleh, itu kamarku."


"Silahkan Bu karena ini rumahku jadi semuanya juga milik ibu" aku menggandeng tangan kakek untuk mengajaknya ke kamar tapi di hentikan oleh Meri.


"Kek, aku cucu kandung kakek jadi tidak mungkin dia orang lain yang menerima warisan kakek?" pertanyaan Meri itu membuat kakek tersenyum.


"Kamu siapa? cucuku hanya Hiara."


"Kek ini aku Meri, coba kakek ingat lagi kalau cucu kakek itu kak Feri dan Meri" Meri sambil memegang tangan kakek.


Kakek pun tetap tenang dan tersenyum "Feri?"


"Iya kek kak Feri cucu kakek?"


"Feri cucuku yang jahat dia telah menyakiti cucu kesayangan ku jadi aku tidak menganggap dia cucu lagi, Meri aku tidak mengerti apa yang kamu katakan karena cucu ke sayangan ku hanya Hiara" ucapan kakek itu membuat aku tersenyum lebar sedang kan Meri hanya diam.


"Ma, kakek tidak menganggap aku cucunya" Widia pun memeluk anaknya itu sehingga kami pun pergi dari hadapan mereka.


Ibu, ayah, Hito segera masuk ke kamar mereka masing-masing sedangkan dokter menemani aku mengantar kakek ke kamar.


Saat aku mengantar kakek ke dalam kakek duduk "Hiara cucuku kenapa dia mengatakan kalau dia cucuku?" pertanyaan kakek membuat aku tersenyum.


"Kek dia memang cucu kakek, tapi cucu ke sayangan kakek yah tetap satu yaitu aku" jawabanku membuat kakek tersenyum.


Saat itu papa mertua sampai ke rumah "pa gawat" ucap Widia kepada suaminya.


"Apa?"


"Hiara ada di dalam dan dia mengambil semuanya dari kita, kata papa seluruh harta warisannya milik Hiara."


"Dimana Hiara?"


"Dikamar" papa segera berlari menuju kamar kakek di sertai dengan mama dan Meri yang mengikuti dari belakang.


"Kamu tenang saja, papa kamu pasti akan membereskan wanita itu" bisiknya kepada Meri.


Papa mertua dengan tergesa-gesa berjalan masuk saat aku menutup pintu kamar kakek dia menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah ku, Aku pun tersenyum melihat papa dengan cepat papa memelukku sambil menangis.


Ekpresi mama mertua dan Meri menjadi kaget melihat tingkah papa seperti itu kepada ku "Papa senang nak kamu masih hidup" ucapnya sambil memegang rambutku.


"Iya pa, aku juga bersyukur masih di beri satu ke sempatan untuk bisa bertemu dengan papa lagi" papa melihat ke arah dokter serta ikut memeluk dokter juga.


"Ma, kenapa seperti ini" bisik Meri yang membuat mamanya hanya menggelengkan kepala tidak mengerti.


"Terimakasih sudah merawat anakku."


Dokter pun tersenyum "sama-sama pak" menjawab pertanyaan papa mertua serta menjulurkan lidahnya ke arah mama mertua dan Meri.


Aku pun menutup mulutku menahan tawa, sedangkan mama dan Meri semakin kesal melihat tingkah dokter yang meledek diri mereka seperti itu.


"Pa, apa mama tidak salah lihat" teriak mama mendekati kami.