Oplas

Oplas
bab 46



"Anak ini, ayah lagi fokus untuk persiapan pembuatan rumah makan siapa tau ada ide-ide menarik" saat ayah menoleh aku sudah tidak ada.


"Kemana anak ini" celoteh ayah melanjutkan membaca korannya.


Aku yang keluar saat itu menghampiri dokter Nando "dokter ada apa?" tanyaku namun dokter pun cuman tersenyum "ayo ikut aku" jawab dokter.


"Iya ke mana?" celotehku saat itu pun dokter langsung menarik tanganku mengajak aku ke taman di di depan rumah, sebelum keluar dari pintu pagar dokterpun "nanti dulu gimana kalau matanya ditutup."


"Kenapa di tutup" celotehku sehingga dokter pun mengambil sapu tangannya mengikatkan ke mataku "dokter apa-apaan sih, emang kejutannya apa" marahku kepada dokter.


"Diam pokoknya kamu kan suka nanti" dokter pun menggandeng aku saat melangkah dalam kegelapan karena mata yang ditutup olehnya.


Tiba-tiba langkah kakiku berhenti dokter pun membuka ikatan mataku "sekarang ayo buka matamu" aku membuka mata pelan-pelan dan melihat taman itu sangat indah dipenuhi dengan lampu kelap-kelip disertai dengan meja kursi dan bunga-bunga.


Aku pun yang bingung saat itu "dokter ini kok kayak mau kencan ya di kejutannya" ucapan ku membuat dokter pun kaget "apaan sih siapa juga yang mau kencan sama kamu, aku kasih kejutan ini biar kamu senang" marahnya langsung menyentil keningku.


"Aku sih senang tapi kejutannya aneh" dokter pun menarik tanganku "apaan sih" sehingga aku pun duduk.


Pada saat aku duduk datanglah 2 orang membawakan sebuah makanan yang banyak di letakkan di atas meja dengan berbagai hidangan es krim, pizza, spaghetti, stik, ayam kalasan.


Semua makan diatas meja penuh membuat aku pun kesal "dokter mengajak aku kemari hanya untuk melihat dokter makan makanan enak ini" tunjuk ku ke makanan itu.


"Sekarang kamu boleh makan, cepetan" aku pun diam mendengar ucapan dokter barusan.


"Hei dengar enggak sih" dengan nada marah dokter pun menyentil keningku lagi sehingga membuat aku sadar "dengar dok, tapi biasanya dokter ngelarang aku makan makanan berat tapi malam ini" belum sempat aku melanjutkan ucapan ku.


"Inilah kejutannya, malam ini kamu boleh makan makanan berat aku sudah menemukan alat biar kamu cepat kurus jadi kamu orang pertama yang akan aku uji. Sekarang makan."


"Jadi kejutannya aku akan jadi bahan praktek dokter" dokter pun tertawa terbahak-bahak menatap ku.


"Iya, iya selama ini apalagi kamu bisa cantik seperti ini kan karena uji coba. Masa aku ngelakuin ini untuk dinner sama kamu nggak mungkin" ucapkan dokter yang membuat aku kesal.


"Oke" dengan senang hati aku pun akhirnya memakan semua makanan yang selama ini aku inginkan, aku makan dengan sangat lahap sehingga membuat dokter pun terkaget-kaget.


"Kamu doyan apa rakus" ucapan dokter "mengapa kasih makanan enak" aku sambil menyantap makanan berbicara dengan dokter.


Dokter pun menyentil kepalaku "kalau makan itu nggak boleh bicara nanti keselek" aku memegang keningku sambil tetap makanan itu satu persatu sehingga makanan itu aku habiskan.


Makanan itu habis sehingga aku pun tidak bisa berdiri lagi karena sudah kekenyangan "sudah lama nggak makan sebanyak ini" sambil memegang perut ku.


"Kalau gitu sekarang kita timbang berapa berat badan kamu" aku pun saat ingin berdiri tidak bisa.


"Tidak bisa dokter karena aku sudah sangat nyaman posisi seperti ini dan ini juga lebih dari sangat kenyang."


"Ayo berdiri jangan malas" teriak dokter, aku tetap tidak bisa berdiri "dokter walaupun aku kurus seperti ini tapi saat makan makanan banyak seperti tadi aku merasa tubuhku seperti dulu dokter, beratnya lambungku" akhirnya dokter tetap memaksa menarik tubuhku sampai dia terjatuh.


Aku yang takut kejatuhan dan berteriak "diam" teriak dokter sampai membuat aku tidak bisa berbicara, dokter menimbang tubuhku yang masih di gendong olehnya serta melihat berat badan.


Pada saat ditimbang "kamu makan segitu sudah naik 5 kilo" ucap dokter, Aku pun sudah tidak bisa berkata apapun hanya diam "besok aku mau kamu gunain alat yang sudah aku buat untuk kurus secara instan" aku tetap diam.


"Hei aku ini bicara" teriak dokter kepadaku tapi aku pun tetap diam.


"Hei" dokter pun menggoyangkan tubuhku yang di gendongnya sehingga membuat aku semakin erat memeluknya dan menatap ke arahnya.


Mata kami saling pandang dengan jantung yang sama-sama berdetak kencang, namun saat itu dokter melepaskan gendongan ku sehingga membuat aku terjatuh dan langsung membalikkan tubuhnya.


"Awww, dokter sakit" teriakku marah kepada dokter.


Namun dokter tetap mengabaikan teriakan ku, karena dokter sedang memegang jantungnya yang berdetak kencang itu.


"Dokterrrrr" teriakku sambil memukul kaki dokter.


"Aduhhhhh" ucap dokter yang langsung membalikkan tubuhnya.


"Maaf aku tidak sengaja, tadi kakiku gatal makanya aku melepaskan gendongannya" bohong dokter yang membuat aku tersenyum.


"Dasar pembohong, jelas-jelas tadi aku dengar detak jantungnya kencang seperti jantungku" ucapku dalam hati.


Aku pun mengulurkan tangan, saat dokter hendak menarik tanganku aku melepaskannya "aku mau di gendong" kesal ku membuat dokter pun mengangkat tubuhku.


Aku pun tersenyum saat dokter mengangkat tubuhku berjalan masuk ke depan rumah, ternyata ayah duduk di teras depan sendirian.


Melihat aku yang di gendongnya ayah segera berdiri "kenapa?" tanya ayah sehingga dokter langsung menurunkan aku.


Aku memegang pinggang ku yang sakit karena terjatuh tadi "ini om tadi Ara terjatuh" jawab dokter.


Ayah pun menggelengkan kepalanya "masuk" ucap ayah kepadaku sehingga aku pun berjalan masuk "dadah dokter" ucapku melambaikan tangan.


Dokter yang masih berhadapan dengan ayah pun hanya menunduk "Dokter Nando terimakasih sudah membantu anak saya, lebih baik kamu pulang karena sudah larut malam" usir ayah secara halus.


Dokter pun tersenyum "baik om" dokter pun segera pergi dari hadapan ayah.


Aku yang hendak masuk ke kamar pun langsung menghentikan langkah ku karena ayah memanggil ku "ada apa ayah?" tanyaku yang melihat ekpresi ayah seperti khawatir.


"Ayah cuma mau bilang, status kamu masih istri orang jadi ayah harap kamu bisa menjaga jarak dengan laki-laki lain di luar sana" ucap ayah yang membuat aku pun langsung memeluk ayah.


"Oh ayah, terimakasih sudah khawatir dengan anak perempuannya ini. Ayah tenang saja aku dan dokter hanya rekan kerja, aku akan secepatnya urus semua masalah yang ada. Ayah percaya kan" sambil melepas pelukanku ayah pun tersenyum.


"Ayah percaya karena kamu wanita hebat" sambil mencium pipi ayah aku pun segera masuk ke kamar.