
Pagi hari terdengar suara pintu rumah Bik Ija pun membuka pintu rumah yang ternyata orang tersebut adalah Nindy yang bertamu ke rumah, bibik pun mempersilahkan Nindi masuk.
Mama dan papa mertua yang keluar dari kamarnya saat melihat Nindi berada duduk di rumah segera menghampiri "selamat pagi om tante" ucap Nindi ramah kepada mereka.
Papa pun tersenyum "Ya sudah kalau gitu Papa pergi dulu ya Mama" pamit papa kepada mama "Nindi, Om pergi ke kantor dulu ya" tegurnya "iya Om" jawab Nindi saat itu mama mertua pun langsung mendekati Nindi.
"Hei kamu kesini mau ngapain?" tanya mama kepada Nindi yang membuat Nindi bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut.
"Ayo katakan" paksa mama hingga Nindi berbisik kepada Mama mertua "Maaf Tante nggak bisa diceritain karena ini harus dikatakan langsung sama Ara."
"Hem kamu mau rahasia sama tante ya" melotot mama "Maaf Tante nggak bisa" saat itu pun aku keluar dari kamar melihat mama yang sedang duduk disebelah Nindi.
"Nindi" panggilku sehingga mereka berdua pun menoleh ke arahku. Melihat aku yang menghampiri pun mama langsung berdiri pergi meninggalkan kami, walaupun dengan penasaran mama pun berlari secepatnya masuk ke kamar Meri, di kamar mama menceritakan semuanya kepada Meri.
Mama menginginkan Meri untuk mencari tahu "mama apa-apaan sih, ih aku nggak mau ikut campur urusan wanita itu nanti aku di usir serta ngak dapat apa-apa lagi" ucap Meri sambil berdandan.
Mama mendorong tubuh Meri hingga lipstik yang di gunanya berantakan "Hei kamu itu anakku, kamu itu harus menurut sama mama. Kamu harus cari tahu ada apa itu."
Dengan kesal "Mama mau maksa ya, ya udah nanti meri cari tahu kalau gitu Meri minta uang untuk kuliah, mana ma" mama yang mendengar ucapan Meri itu pun langsung mencubit tangan Meri.
"Sakit mama."
"Uang-uang gara-gara kamu kemarin Mama naik angkot dan hari ini mamanya dikasih uang uang 500 ribu sama papa kamu dan 100 ribu untuk bayar hutang tuh sama wanita norak itu, ya udah nih ambil semuanya ucap Mama" memberikan seluruh uangnya kepada Meri.
"Apa 400 ribu, kurang lah ma" teriak Meri.
"Uang kemarin sudah habis" Meri pun mengangguk sehingga mama mencubitnya lagi "terserah kamu mau kurang atau nggak mama udah nggak punya uang hari ini, Mama akan ikut Hiara dan wanita itu shopping jadi mama akan belanja untuk ngilangin stres di rumah ini. Lagian gara-gara kamu bisanya minta uang, uang, uang dan uang."
Mendengar teriakan mamanya itu pun Meri berceloteh "Mama, kewajiban Mama untuk kasih anaknya uang."
"Iya, dari pada kamu minta uang, uang, uang mendingan kamu itu kerja biar dapat uang. Kewajiban apanya sama anak seperti kamu yang boros" marah Mama kepada Meri.
"Idih mama gitu padahal aku kayak gini kan nular sifat mama" ucap Meri dalam hatinya, sambil berpikir lagi Meri pun mencerna ucapan mamanya itu "iya yahhhh, lebih baik aku kerja di perusahaan papa jadi aku bisa dapat uang dan aku juga bisa cari koneksi-koneksi kalau suatu saat Hiara itu mau membuang aku dari rumah ini" ucap Meri lagi dalam hatinya.
Meri pun segera segera memeluk mamanya itu dan mencium pipinya "terima kasih Mama atas idenya" mendengar ucapan Meri itu pun mamanya bingung "apaan sih ide-ide" sehingga mama pergi meninggalkan Meri yang masih sibuk berdandan.
Aku pun kaget mendengar ucapan Nindi yang menceritakan semuanya kepadaku "serius, kapan, hari ini, besok atau masih lama" ucapku kepada Nindi.
"Kalau begitu aku permisi pulang" Nindi pun keluar dari hadapanku.
"Untuk membuat Lidia hancur lagi aku akan membuat orang terdekatnya menjauh dari dirinya sehingga dia tidak mempunyai kesempatan untuk bisa membalas dendam" ucapku dalam hati.
Nindi pun bergegas ke penjara menemui Lidia "semua sudah ku urus dan Ara akan menepati janjinya" Lidia dengan wajah kesal pun hanya tersenyum.
"Besok aku akan berakting dengan sempurna, setelah itu aku akan menghancurkan wanita oplas itu" ucap Lidia sehingga Nindi pun memegang pundak Lidia.
"Hentikan, hapus dendam di hati mu karena akan mempersulit kehidupan mu."
Mendengar ucapan Nindi itu pun Lidia semakin kesal "Kenapa? kamu ngak berhak menghalangi aku karena kamu hanya pesuruh" ucapan kasar Lidia itu menyakiti hati Nindi namun Nindi diam tidak melanjutkan untuk menasehati Lidia.
"Ya sudah kalau begitu aku permisi pulang dan besok kamu harus bisa menjaga tingkah laku kamu" Nindi segera pergi meninggalkan Lidia, Lidia pun masuk lagi ke dalam sel penjara.
Di dalam penjara itu Lidia langsung duduk serta tidak memperdulikan ke adaan di sekitar "hei wanita pembunuh kenapa kamu langsung duduk harusnya kamu itu pijat kaki ku, ayo cepat kemari" teriakan wanita itu sehingga Lidia pun berdiri menghampirinya dan memijat kaki wanita itu.
"Wanita jahat ini benar-benar harus dikasih pelajaran, tapi kamu awas saja kamu besok aku akan keluar dari penjara dan besok juga aku akan membalas kamu" ucap Lidia dalam hatinya sambil memijat kaki wanita itu
Dalam keadaan penjara yang sama papa mertua pun segera ke penjara untuk menghampiri Feri, Feri yang keluar dari sel berjalan keluar melihat papa "Papaaaa" teriak Feri sehingga Feri pun langsung berlari memeluk papa tersebut papa pun membalas pelukan Feri itu.
"gimana kabar kamu? tanya papa mertua kepada Feri.
Feri pun hanya tersenyum dan menjawab "seperti ini la pa keadaanku" mendengar jawaban putranya itu papa pun hanya tersenyum.
Mereka pun duduk bersama "Ada apa pa?" tanya Feri kepada papa.
Papa pun memberikan satu buah map kepada Feri, Feri membuka map itu dan membacanya sampai selesai.
Feri segera menutup map itu "Apa maksudnya ini pa?" tanya Feri penasaran.
"Kamu akan segera bebas kalau kamu menandatangani surat itu."
"Ini surat perceraian ku pada Hiara tapi kenapa papa tega melakukan ini, apa papa sengaja melakukannya?" pertanyaan Feri membuat papa hanya menunduk sedih.
"Ini permintaan Hiara kalau kamu mau bebas kamu harus menandatangani surat itu karena Hiara ingin segera berpisah dengan kamu" mendengar ucapan dari papa Feri pun sangat kaget dan sedih.