
"Apaan sih peluk-peluk buat malu di lihat semua orang" kesalnya kepadaku.
"Dokter ternyata punya malu juga ya" ledekku, dokter pun langsung menjitak kening ku "aduh sakit" teriakku sambil memegang keningku.
"Kamu itu ya kalau mau buat malu itu jangan sama aku, mendingan kamu itu mempermalukan diri kamu sendiri jangan ajak-ajak aku" celotehnya sambil menunjuk diriku.
Aku pun hanya tersenyum dan tertawa mendengar celotehannya itu "ya udah deh, Ayo dokter kita masuk. Aku mau cerita banyak banget pada dokter" ucapku, kami pun segera masuk cafe bersama.
Di dalam cafe pun aku menceritakan kejadian dari awal aku melakukan presentasi sampai akhirnya aku pun diterima, Feri yang masuk ke kantor, bertemu dengan Lira dan bertemu bersama Profesor saat sampai di klinik.
Dokter Nando pun kaget mendengar cerita ku "itu papa bicara seperti itu" teriaknya, aku pun menutup mulut dokter "jangan teriak-teriak dokter malu."
Dokter pun melepaskan tangan ku "tadi kamu peluk aku nggak malu sekarang aku teriak kamu malu" kesalnya ke pada ku.
"Jadi gimana dokter kita menghadapi Profesor atau kita bilang aja kalau kita itu nggak pacaran?"
"Iya sih mendingan kita jujur saja sama papa biar papa itu nggak banyak bicara lagi masalah pernikahan."
"Ya udah kalau gitu dokter bicara sama Profesor Dan aku akan bicara sama ibu" ucapku.
Pada saat itu aku mendengar suara getaran hp dokter "HP dokter tuh bunyi" dokter melihat panggilan itu dari papanya.
Dokter mengangkat telpon itu mendengar celotehan papanya mengatakan kalau ada pasiennya yang ingin melepaskan maskernya, dokter pun tidak peduli dan mengatakan bahwa perawat yang akan melakukan itu semua.
"Itu siapa yang mau di lakuin sama dokter?"
"Ibu kamu."
Aku pun tertawa terbahak bahak "udah lah biarin aja, dokter juga ngapain sih mau aja kasih perawatan sama ibu dan mama. Fokus kan aja mereka olahraga biar tambah stamina" ucapku mengangkat otot ku.
"Olahraga satu hari saja ibu dan mama kamu itu besoknya nggak akan datang-datang lagi, yang ada aku diomelin habis-habisan karena sudah membuat mereka kesakitan."
"Ya udah deh biarin aja dok palingan nanti mereka akan telepon dokter, tapi tenang aja nanti aku yang akan bantu dokter untuk menjelaskan semuanya."
"Bagus deh kalau gitu" akhirnya kami mengobrol tanpa mengenal waktu.
Sedangkan ibu dan mama yang berada di klinik selesai melakukan perawatan "wah cantik" ucap ibu sambil menghadap cermin.
Pada saat ibu keluar Ibu pun berpapasan dengan profesor "lu ngapain di sini, perawatan. Lucu banget masak laki-laki perawatan, kurang istri lu" ucap ibu.
Profesor pun memegang keningnya "Yaaa ampun ketemu lagi sama nenek sihir satu ini, saya mau ke sini kek mau ke sana suka-suka saya dan bukan urusan kamu. Lagian kamu itu udah tua, lihat aja mau perawatan juga nggak bakalan berhasil" ledek profesor membuat mama yang berada di belakang ibu pun tertawa.
"Yang di ucapkan oleh orang ini benar norak" jawab mama.
"Lu ya, berani banget meledek" ibu pun langsung menendang kaki Profesor sampai Profesor berteriak kesakitan sambil memegang kakinya.
Mama yang melihat tingkah laku ibu dan Profesor itu hanya menggelengkan kepala "udah tua mau ribut-ribut nggak malu sama umur" mama segera berjalan melewati mereka berdua.
Ibu langsung ikut pergi meninggalkan Profesor, perlahan-lahan profesor berjalan untuk keluar menahan kakinya yang sakit.
Pada saat yang sama ibu dan mama masuk ke dalam taksi dan dokter pun sampai ke klinik, dokter melihat profesor berjalan sangat lambat "pa, kenapa? jalannya kok seperti itu."
"Sakit ini sakit, gara-gara nenek sihir satu itu tuh setiap ketemu dengan dia papa selalu sial. Jangan sampailah kamu punya mertua seperti nenek sihir itu" tunjuk Profesor sambil marah.
"Emang siapa sih orangnya?"
"Itu tuh" tunjuk profesor ke arah mobil taksi yang sudah pergi.
"Udahlah nggak usah dipedulikan biarin aja orang sudah pergi sekarang, papa mau bicara kepada kamu" ucap Profesor.
"Iya aku juga ingin bicara sesuatu sama papa, ayo pa kita masuk ke dalam" sambil memapah profesor masuk ke dalam.
Aku yang saat itu sedang sampai di rumah berpapasan langsung dengan ibu dan mama yang sampai "Hiara sudah pulang, cepat sekali" tanya mama.
"Itu ma, Hiara mau lihat keadaan kakek sendiri di rumah dan terus langsung ke tempat usah ayah" Jawabku.
Ibu pun langsung menarik tanganku "ayooo" kami pun masuk duluan ke dalam, ibu menarik ku ke kamar.
Mama yang melihat tingkah ibu pun penasaran "mau apa wanita norak itu, aku harus cari tahu" celoteh mama menguping di luar kamar.
"Kenapa bu?"
"Coba kamu lihat wajah ibu cantik nggak dan kerutan kerutannya hilang nggak" Ibu pun memegang tanganku untuk memegang wajahnya.
"Hem jadi ibu menarik aku ke kamar hanya untuk melihat wajah ibu yang sudah perawatan ini, kirain penting ibu" kesalku.
Mama yang mendengar pembicaraan di luar pun kesal "dasar wanita norak, kirain dia akan bicara hal yang penting nggak tahunya sangat-sangat tidak penting" mama segera pergi meninggalkan pintu kamar tersebut.
Aku pun berdiri "udahlah bu aku mau ketemu sama kakek bukan mau melihat ibu menyombongkan perawatan ibu."
Ibu pun mencubit tanganku "Awwww sakit Bu" teriakku.