Oplas

Oplas
bab 58



Anak itu pun tertunduk tidak berani mengatakan apa pun.


Aku yang melihat anak itu sedang tertunduk seolah dia merasakan ketakutan untuk mengatakan sesuatu sehingga aku pun hanya diam dan tidak mengucapkan lagi perkataanku untuk menanyakan sesuatu kepadanya, Hito pun berjalan mendekati kami di saat itu "Kak udah selesai ayo" ucap Hito namun anak itu melihat Hito sambil tersenyum.


"Kamu" tunjuk Hito kepada anak itu.


Aku melihat mereka seperti saling mengenal pun langsung bertanya "kalian saling kenal?" tanya kepada mereka.


"Iya Kak, ini Erik teman satu sekolah Samo Hito" jawab Hito.


"Tapi kenapa kamu nggak pakai baju sekolah" tanya Hito kepada temannya itu, dia pun hanya diam dan tidak berani menjawab kata-kata apa pun.


"Ya udah, ya kalau gitu gimana kita antar saja Erik pulang ke rumah. Ini sudah waktunya untuk kesekolah" ucap kepadanya.


Erik pun hanya menggelengkan kepalanya "kenapa kamu tidak mau, kan hari ini adalah jadwal ujian. Kamu kan anak berprestasi kalau tidak sekolah nanti gimana sama nilai kamu?" tanya Hito kepadanya.


"Aku tidak berani pulang karena preman-preman itu akan karena mengejar aku sampai ke rumah" jawabnya.


"Ya udah, tenang dulu. Kakak yang akan antar kamu pulang ke rumah dan kakak yang akan menghadapi preman-preman itu" ucapku sehingga erik pun mengangguk.


Kami pun segera masuk ke mobil bersama, Mama yang Melihat anak itu masuk ke mobil pun langsung bertanya "Hiara, siapa anak itu? masa kamu bawa ke dalam mobil lihat aja kotor."


Hito yang mendengar ucapan mama itu pun segera berceloteh " Tante mendingan dia itu bajunya yang kotor, dari pada tante otaknya yang kotor."


"Anak iniiiii" teriak mama pun marah mendengar ucapan Hito itu.


Saat tangan mama hendak menjewer telinga Hito ibu pun langsung memegang tangan mama "hehehe jangan berani-berani kamu ya mau main tangan dengan anakku.


"Anak kamu ini tidak sopan sama orang tua" teriak mama.


"Yang dibilangin Hito tuh benar tidak ada salah sedikitpun, kalau kamu berani main tangan dengan anakku kita bakal berantem di dalam mobil" teriak ibu lebih besar sehingga aku pun menarik nafas mendengar ke bisingan.


"Stopppppp, stop tidak usah berkelahi sekarang jalan pak, kalau kalian berdua berkelahi mama dan ibu turun dari mobil" mendengar ucapanku itu pun mereka mereka menghentikan pertengkaran mereka.


Kami pun berhenti di sebuah rumah yang di mana dindingnya itu terbuat dari kayu dan lantainya hanya beralas tanah, aku yang melihat rumah itu mengingatkan aku yang dulu bersama ayah, ibu dan Hito.


Kami pun segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah, di dalam rumah pun aku melihat hanya ada kursi dan satu buah tempat tidur di mana tempat tidur itu sudah terisikan oleh satu orang laki-laki yang sedang terkapar seperti sedang sakit.


Pada saat 2 tahun yang lalu ayahnya sakit stroke sehingga tidak bisa lagi bekerja untuk menghidupi biayanya, melihat itu pun Erik menggantikan pekerjaan ayahnya untuk menjadi tulang punggung keluarga.


Tapi karena Erik masih kecil dan tidak tahu bekerja apa, sedangkan ayahnya sakit sehingga Erik meminjamkan dan menawarkan dirinya kepada preman itu.


Pada saat Ayah sakit Erik meminjamkan uang untuk berobat tapi Erik harus bekerja sebagai pengemis di jalanan untuk menyetor uang kepada mereka, Erik sekolah melalui beasiswa yang di dapatnya karena Erik adalah anak yang berprestasi dan selalu mendapat peringkat dan juara.


Setiap pulang sekolah Erik bekerja dan kedua adiknya Erik titipkan kepada tetangganya yang kebetulan tetangganya itu tidak mempunyai anak sehingga dia pun bersedia menawarkan diri untuk merawat kedua anak itu kalau Erik sedang bekerja, tapi kejadian tadi Erik dikejar sama mereka karena Erik sengaja menyembunyikan uang hasil dari pengemisnya secara diam-diam untuk mengobati perawan ayahnya itu.


Preman marah sehingga ingin menghukum Erik, namun Erik berhasil kabur dari hukuman preman itu.


Erik yakin kalau preman itu pasti akan datang kemari lagi untuk mencari Erik "aku yang mendengarkan cerita Erik ingin meneteskan air mata, namun pada saat ingin meneteskan air mata suara berisik di sebelahku sehingga membuat aku melupakan untuk meneteskan air mata.


Aku menoleh suara berisik itu ternyata ibu menangis sangat kencang di sebelahku mendengar cerita Erik itu, melihat ibu yang menangis pun Hito langsung mengambil sapu tangannya dan memberikannya kepada ibu.


Sapu tangan itu pun langsung Ibu hembuskan kepada hidungnya sehingga sapu tangan itu penuh dengan lendir ibu "iiihhh ibu jorok banget sih" Hito melihat sapu tangannya itu penuh dengan bekas lendir.


"Kamu ini bisanya marah-marah, kamu lihat tuh dia hidup dengan kesusahan membantu ayahnya dan dia juga menjadi tulang punggung keluarganya. Lihat ya ini anak sangat kuat sehingga membuat ibu ini bersedih karena waktu Ibu masih kecil ibu juga seperti ini kakekmu sakit sehingga nenekmu yang semuanya menggantikan tugas kakek mu" ibu menangis semakin jadi-jadinya.


Mama langsung mengolok-olok Ibu "dasar cengeng kalau itu mah biasa aja" mendengar ucapan cengeng itu pun ibu langsung memberikan sapu tangan itu ke tangan mama.


"Ini sapu tangan, iiiih bekas kamu diberikan padaku" kesal mama.


Saat itu pun di luar terdengar suara teriak-teriak yang sangat berisik, ternyata preman itu datang dan langsung masuk ke dalam rumah ingin menangkap Erik.


Aku yang melihat Erik itu pun segera menahannya sehingga preman itu tidak bisa menyentuh Erik dari tanganku "kalian ini siapa kenapa melarang kami untuk mengambil Erik" marah preman itu.


Mama yang saat itu sedang memegang sapu tangan Ibu pun segera memberikannya kepada preman itu "ini kamu ambil sapu tangan bau ini, pergi keluar sana apa kamu tidak lihat kami di sini sedang melihat ada orang yang sedang sakit. Sedangkan kalian di sini marah-marah berteriak bikin kegaduhan."


"Sapu tangannya lengket" preman itu segera membuang sapu tangan itu dan marah kepada mama.


Aku yang melihat mama dimarahin preman itu pun segera mendorong mereka sampai mereka pun terjatuh ke bawah, melihat itu ayahnya Erik terbangun dan berusaha duduk.


"Ayahhh" teriak Erik sehingga membantu ayahnya untuk duduk.


Ayahnya berkata meminta maaf kepada preman itu dan berjanji akan membayar hutang-hutang tapi preman itu sangat marah sehingga mengancam akan menyakiti Erik bersama adik-adiknya itu.