Oplas

Oplas
Jujur



Wilona membanting pintunya karena ketakuta. Meski pun sang penguntit berhasil dikelabui, namun tetap saja ia merasa sangat shok.


"Ya Tuhan.. lindungilah kami," rapal Wilona.


Wilona terduduk lemas di sofa. Siapa yang menguntitnya? Wilona merasa sedang tidak berurusan dengan siapa pun.


Tiba-tiba terdengar bunyi bel intercome. Wilona kembali tidak tenang. Tidak ada satu pun orang yang mengetahui tempat tinggalnya saat ini.


Wilona berjalan ke depan pintu. Ia menihat layar intercom yang menampilkan sesosok laki-laki bermantel tebal yang sedang membelakangi pintu.


Wilona menekan tombol intercome tersebut. "Siapa anda?" Tanyanya.


Orang tersebut membalikan tubuhnya saat mendengar suara Wilona. Wilona sangat terkejut. Bagaimana bisa laki-laki yang sedang ia hindari mengetahui keberadaannya. Ya, orang tersebut adalah Keanu.


"Naa itu suaramu?" Tanya Keanu.


Wilona dapat melihat wajah penuh harap dari Keanu. Laki-laki tersebut terlihat menggosok-gosokan tangannya karena kedinginan.


"Naa, kamu masih di sana?" Tanya Keanu seraya melambaikan tangannya di depan kamera intercom.


"Untuk apa kau di sini?" Tanya Wilona dengan nada tidak bersahabat.


"Naa aku ingin bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu," lirih Keanu.


Jantung Wilona berdebar dengan cepat. Tanpa bisa di cegah air matanya berjatuhan begitu saja. Ya Tuhan, sesungguhnya Wilona sangat merindukan suaminya itu.


Wilona tetap diam, ia tidak ingin Keanu menganggapnya lemah jija mendengar isakan tangisnya.


"Naa aku minta maaf. Tolong maafkan lelaki brengsek ini," lirih Keanu.


"Anak kita apa kabar? Dia sehat kan?" Tanya Keanu diiringi isakannya.


Sepuluh tahun mengenal Keanu, namun baru pertamakalinya Wilona melihat laki-laki itu menangis.


"Baiklah jika kau tidak ingin bertemu denganku, tapi tolong sampaikan maafku padanya. Aku menyayanginya."


Keanu membalikan tubuhnya dan mulai melangkah pergi. Dengan cepat Wilona membuka pintunya kemudian mengejar Keanu yang baru jalan beberapa langkah. Wanita hamil tersebut memeluk tubuh Keanu dari belakang, menahannya agar tidak pergi.


"Jangan pergi..," lirih Wilona.


Tubuh Keanu menegang, ia segera membalikan tubuhnya dan membalas pelukan Wilona.


"Maaf.. maaf..," itulah yang Keanu rapalkan di telinga Wilona.


Pada akhirnya tembok pertahanan Wilona runtuh begitu saja. Rasa cintanya terlalu besar pada suaminya tersebut.


...


Wilona memberikan secangkir susu hangat untuk Keanu yang sedang menunggu di sofa. Laki-laki tersebut tampak menggigil dan pucat.


"Minumlah, kamu pucat sekali," ucap Wilona.


Keanu terkekeh, "aku biasa merasakan panasnya Kota Jakarta, jadi tubuhku kaget saat terkena salju."


"Haha kamu ini," kekeh Wilona.


Wilona ikut duduk di samping Keanu.


Ia meraih remot dari atas meja lalu menghidupkan penghangat ruangan.


Keanu pun melepas mantelnya. Laki-laki tersebut hanya menggunakan kaos putih polos. Pantas saja ia kedinginan. Wilona yang sudah memakai tiga lapis pakaian saja masih merasa kedinginan.


Wilona  memperhatikan wajah dan lengan Keanu yang terdapat beberapa luka memar. Ia menyentuh sudut bibir Keanu.


"Apa mesih sakit?" Tanya Wilona khawatir.


Keanu menggeleng, "tidak, hanya bekasnya saja."


Keanu menggenggam tangan Wilona yang berada di wajahnya. Ia mengecup punggung tangan tersebut.


"Apa kau tidak ingin memukul atau menamparku?" Tanya Keanu.


"Kau bisa mati jika aku ikut menghakimimu," jawab Wilona.


Tangan Keanu yang satunya lagi mengusap purut buncit Wilona. "Apa dia baik-baik saja?" Tanyanya.


Wilona tersenyum. "Yup papa," jawab Wilona menirukan suara anak kecil.


Keanu terkekeh, ia menarik Wilona ke dalam pelukannya. Keanu menghirup dalam aroma tubuh wanita tersebut. Eh- Keanu merasa tidak asing dengan aroma parfum yang istrinya tersebut gunakan.


"Kau memakai parfumku?" Tanya Keanu.


Wilona mengangguk. "Ya, aku mencurinya."


"Tolong maafkan papa. Papa berjanji untuk tidak mengulanginya lagi," bisiknya di perut Wilona.


..


Malam ini suasana vila sudah sepi. Para penghuninya telah tidur senyak di kamar masing-masing. Namun tidak dengan Juno, ia tidak bisa tidur walau sudah mencoba beberapa posisi yang sekiranya membuatnya nyaman. Akhirnya ia menduduki dirinya di atas ranjang sambil mengacak-acak rambutnya.


Entah kenapa setelah kejadian di kolam renang tadi siang Juno selalu dihantui pikiran-pikiran kotornya pada Anette. Oh ayolah, Juno laki-laki normal di usianya saat ini. Kejadian di kolam renang tersebut benar-benar pengalaman pertamanya selama hidup di dunia ini. Sepertinya Juno harus mempercepat acara pernikahannya.


Juno beranjak turun dari ranjangnya dan keluar dari kamar. Saat berbalik setelah menutup pintu ia dibuat kaget oleh Anette yang ternyata juga keluar dari kamar. Mereka merasa seperti dejavu.


"Kamu mau kemana?" Tanya juno.


"Emm aku tidak bisa tidur," jawab Anette.


Juno menaikan sebelah alisnya. "Mau menonton film di kamarku?"


Anette mengangguk pelan. "Boleh, tapi takut ketahuan..," jawab Anette dengan lirih di akhir kalimatnya.


"Hahaha tenang saja, kita kan hanya menonton film. Ayo!"


Juno merangkul Anette memasuki kamarnya. Mereka duduk lesehan di karpet sambil bersandar di sisi kasur. Film yang mereka tonton terasa membosankan, keduanya menonton dengan tidak bersemangat.


"Bosan.." ucap Anette.


Juno mengangguk setuju. Ia merangkul Anette agar bersandar di dadanya.


"An, sedikit lagi kan kita menikah. Apa sebaiknya kita saling jujur saja dengan sesuatu yang belum kita saling ketahui dari diri masing-masin? Aku tidak ingin suatu saat terjadi kesalah pahaman," ucap Juno sambil mengusap kepala Anette.


Anette mendongakan kepalanya menatap Juno. "Boleh saja," jawabnya.


"Oke, mulai dariku. Aku ingin jujur, sebenarnya selama ini aku tidak pernah berkencan dengan gadis mana pun," ucap Juno.


Anette melebarkan matanya terkejut. Benarkah seorang Juno Orlando yang memiliki paras rupawan, keluaarga kaya raya, dan memiliki banyak pengagum belum pernah berkencan dengan gadis mana pun?


"Serius?" Tanya Anette yang diangguki oleh Juno.


"Sekarang giliranmu," ucap Juno.


"Emm.. sebenarnya aku menyukaimu saat SMA," ucap Anette pelan.


Juno terlihat terkejut. "Benarkah, mengapa aku tidak pernah melihatmu di antara para gadis yang mengejarku?" Tanyanya.


"Juno.. kamu tahu kan bagaimana wajahku dulu. Aku cukup tahu diri."


Anette mengusap sisi wajah Juno. "Aku sempat membencimu," ucapnya.


Juno mengerutkan keningnya lalu bertanya, "Karena apa?


"Kamu tersenyum saat aku sedang dibully karena riasan wajahku yang ternyata semakin memperburuk wajahku," jelas Anette.


Seketika Juno menakup wajah Anette.


"Ya Tuhan, An sumpah aku tidak bermaksud seperti itu. Maksud senyumku saat itu agar mememberikan semangat untukmu," ucap Juno meluruskan.


"Jadi bukan mengejek?" Tanya Anette polos.


"Tidak sama sekali. Aku bukan mental pemully."


"Maaf," lirih Anette.


"Tak apa, inilah gunanya kita saling jujur," balas Juno. "Oke next, sekarang giliranku lagi," lanjutnya.


Juno menghembuskan nafasnya panjang.


Ia menggenggam tangan Anette. "An, ika kupercepat acara pernikahannya, apa kamu setuju? Aku rasa lebih cepat lebih baik," lanjutnya.


"Juno, aku seorang perempuan. Leputusan itu ada di tanganmu. Aku ikut saja apa pun niat baik kamu."


"Kamu setuju?" tanya Juno.


"Ya, aku setuju," ucap Anette yakin.


Juno menakup wajah Anette hingga pipi gadis itu mengembul keluar.


"Terimakasih."


"Junu lupusun," ucap Anette tidak jelas karena kesulitan berbicara.


...


Terimakasih suportnya💜