Oplas

Oplas
Penyembuh Luka



"Juno! Juno..!" Panggil si wanita hamil tersebut berusaha menahan Juno namun gagal. Ia nampak sangat kesal.


Monnie dan Gia menghampiri wanita itu dengan tatapan mengimintidasi.


"Ngapain kalian?!" Tanya wanita tersebut.


"Wow! Rupanya obsesimu pada Juno masih berlanjut sampai sekarang Nyonya Selly," desis Monnie tajam.


"Aku sedang mengandung anaknya!" Ucap wanita bernama Selly tersebut dengan bangganya seakan menantang.


Mereka menjadi pusat perhatian para  pengunjung restauran lainnya.


"Oh ya, masa?"


Gia menarik tangan Selly dengan paksa agar berdiri. "Ajaib juga ya, dua hari yang lalu kita bertemu di club malam dengan tubuh kurusmu dan sekarang tiba-tiba perutmu membuncit," ucap Gia dengan senyuman meremehkannya.


Dengan kemampuan yang dimilikinya, Gia membekuk tangan Selly ke belakang tubuh wanita itu. Selly terus memberontak namun tidak sebanding dengan kekuatan bak wanita militer yang Gia miliki.


"Lepaskan!" Teriak Selly.


Monnie mengangkat dress Selly keatas hingga menampilkan perut hamil buatan yang dipasang seperti korset. Memang terlihat seperti sungguhan jika dilihat dari depan.


"Hey apa yang kau lakukan?!" Teriak Selly.


Para pengunjung restauran tertawa melihatnya. Gia melepaskan bekukannya dan tertawa puas.


"Akan kutuntut kalian atas dasar pelecehan!" Teriak Selly tidak terima.


"Dan kau akan kulaporkan atas dasar penipuan." Monnie menunjuk para pengunjung restauran. "Mereka yang berada di sini menjadi saksi!"


Selly tidak bisa melawan lagi. Ia sangat malu diperlakukan seperti itu dan disaksikan oleh banyak orang. Selly berlari keluar dari restauran diiringi sorakan para pengunjung restauran lainnya.


...


Anette memasukan baju-bajunya ke dalam koper dengan asal. Air matanya terus berjatuhan seiring isakan tangisnya.


Juno yang baru sampai di apartemennya segera berlari memasuki kamar. Ia menahan tangan Anette yang sedang menutup koper.


"Sayang, aku bisa menjelaskansemuanya," ucap Juno memohon.


"Menjelaskan apa, hmm? Menjelaskan jika sebentar lagi kamu akan mempunyai anak dari wanita tadi?!" Balas Anette.


"Ternyata ucapan kamu selama ini hanya omong kosong! Karena nyatanya kamu lebih memilih perempuan lain!" Teriak Anette mengeluarkan emosinya.


"Demi Tuhan An, aku tidak melakukannya!" Juno berusaha meyakinkan sang istri.


Anette menarik kopernya keluar dari kamar, namun lagi-lagi Juno menahannya. Suaminya tersebut merebut kopernya dan melemparnya ke sembarang arah hingga mengenai meja kaca yang berujung pecah.


Juno menarik Anette ke dalam pelukannya. Ia tidak mempedulikan pemberontakan dan pukulan-pukulan brutal tari tangan istrinya tersebut. Pukulan tersebur melemah seiding luruhnya tubuh Anette dalam pelukan Juno.


"An, sayang!" panggil Juno panik seraya menepuk-nepuk pipi Anette.


Juno membawa istrinya tersebut ke rumah sakit terdekat. Ia terus mondar-mandi di depan ruangan di mana Anette sedang di tangani. Tak lama seorang dokter wanita keluar menghampiri Juno.


"Anda suami dari pasien di dalam?" Tanya dokter tersebut.


"Iya benar dok."


"Kandungan istri anda baik-baik saja. Kalau bisa jangan sampai stress karena kandungannya rentan untuk keguguran. Perbanyak juga makanan-makanan bervitamin," jelas sang dokter.


"Ha-mil? Istri saya hamil?!" Tanya Juno dengan antusias.


Sang dokter mengangguk. "Usianya baru tiga minggu," ucapnya membuat Juno meloncat kegirangan dengan tangan mengepal ke atas.


"Yass!"


Sang dokter tekekeh geli, "kalau begitu saya permisi."


Juno masuk ke dalam ruangan. Di sana Anette sedang meringkuk di atas brankar sambil terus menangis.


"Sayang..," panggil Juno.


Juno mengusap kepala Anette. "Tuhan sudah percaya kalau kita pantas menjadi orang tua."


"Bagaimana dengan wanita itu?" Tanya Anette dengan suara paraunya.


Juno berlutut di lantai agar pandangannya sejajar dengan Anette. Digenggamnya tangan istrinya tersebut.


"Demi Tuhan An.. aku tidak pernah berselingkuh dengan wanita mana pun. Tadi aku ingin mengikuti alur permainan Selly lalu menjebaknya. Aku tidak tahu jika Monnie dan Gia mengajakmu," jelas Juno.


Juno menunjuka layar ponselnya yang menampilkan foto Selly dengan perut terekspose, menampilkan perut hamil palsunya.


"Maaf, aku membuatmu salah paham," bisik Juno.


Anette menguturkan kedua tangannya agar Juno memeluknya. "Peluk," pintanya yang di sambut dengan senang hati oleh Juno.


"Maaf sudah menuduhmu yang tidak-tidak," lirih Anette.


"Tidak apa-apa, jadikan ini sebagai pelajaran. Jika ada masalah kita harus bicarakan secara baik-baik."


...


Kandungan Anette telah menginjak usia sembilan bulan. Perut besarnya terlihat menggemaskan di tubuhnya yang kecil. Seperti anak SMP yang sedang hamil , padahal usianya sudah 21 tahun.


Anette sudah rapih dengan kebaya modern yang membalut tubuhnya. Ia bersama Hara dan Demian sudah siap menunggu Juno yang sedang berselebrasi melempar toga bersama teman-teman seangkatannya.


Tidak lama kemudian Juno datang menghampiri mereka. Juno memeluk kedua orang tuanya. Setelah itu baru beralih memeluk Anette dengan gemas. Juno memakaikan toganya yang tadi kembali ia pungut di kepala Anette.


"Selamat sayang," ucap Anette.


"Terimakasih, apa hari ini dia Jeno rewel?" Tanya Juno menanyakan kabar sang anak.


Jeno adalah nama pemberian Juno saat mengetahui jika anaknya tersebut adalah laki-laki.


"Aku cuma nendang-nendang papa," ucap Anette menirukan suara anak kecil.


"Oh ya, pasti gak sabar mau ketemu papa ya?" Juno mengecup perut Anette beberapa kali.


...


"Ughhhh!" Anette mengejan untuk kesekian kalinya. Ia sedang berjuang melahirkan biah hatinya.


Di sisinya Juno terus menggenggam tangannya sambil terus membisikan kata-kata untuk menyemangati Anette.


"Sedikit lagi sayang."


"Ughhhhhh!"


Tangisan bayi pun memenuhi seisi ruangan bersalin. Seorang bayi laki-laki berhasil Anette lahirkan dengan selamat.


Juno mengecup kening Anette sambil terus mengucap syukur. Keduanya tidak kuasa menahan tangis kebahagiaan atas lahirnya jagoan mereka. Anak yang selama ini keberadaannya sangat dinanti-nanti.


"Terimakasi sayang, kamu hebat," bisik Juno yang entah sudah keberapa kalinya.


Bayi yang sudah di beri nama Jeno Orlando tersebut diletakan di atas tubuh Anette. Si kecil Jeno berhasil menemukan sumber makanannya, membuat Anette sedikit meringis kesakitan.


"Milikku..," ucap Juno pelan namun masih bisa di dengar oleh Anette.


"Sstttt sekarang ini punya Jeno," ucapa Anette tersebut terdengar begitu kejam di telinga Juno.


Anette dan bayinya telah dipindahkan  ke kamar inap VIP yang ada pada rumah sakit swasta tersebut. Ibu dari Anette dan kedua orang tua Juno sudah ada di dalam ruangan tersebut. Bahkan mereka tidak sabar menunggu giliran menggendong cucu mereka.


Kini giliran Rachel yang menggendong tubuh Jeno.


"Sepertinya begitu, Juno seperti tidak menyumbang apa pun," ucap Demian mengejek Juno yang sedang asik memeluk Anette di atas brankar.


"Jangan lupakan jika Jeno hasil benihku," ucap Juno tidak terima.


Anette mengusap-usap lengan Juno.


"Sebenarnya wajah Anette di operasi mengikuti wajah aslinya yang sebagian tidak terluka," ucap Rachel membuat mereka menatap wanita paruh baya tersebut dengan tatapan bertanya-tanya.


"Operasi? Operasi apa?" Tanya Hara bingung.


"Operasi plastik," jawab Rachel membuat Hara dan Demian terkejut.


*Sekelompok pria berpakaian hitam dan bertopeng menerobos masuk ke sebuah rumah mewah yang sedang mengadakan perayaan ulang tahun seorang anak berusia 4 tahun.


"Di mana si keparat Yansen?!" Teriak salah satu anggota kelompok tersebut sambil mengacungkan pistolnya kesembarang arah.


'Dor'


Orang-orang di dalam rumah tersebut berlari berhamburan untuk menyelamatkan diri dari tembakan tersebut.


"Ayah aku takut," Seorang gadis kecil memeluk erat leher sang ayah.


"Mas," Panggil Rachel, istrinya yang juga khawatir dengan keadaan di bawah sana.


"An sebaiknya kamu bersembunyi dengan buna ya, biar ayah hadapi orang-orang itu," ucap Yansen lembut pada gadis kecilnya, Anette.


Bocar berusia 4 tahun tersebut mengangguk patuh kemudian berpindah ke gendongan sang ibu.


"Ayah hati-hati," ucap Anette yang diangguki sang ayah sebelum menuruni anak tangga.


Terdengar perdebatan antara Yansen dengan sekelompok pria bertopeng di bawah sana. Tarisa membawa Anette ke ruangan tersembunyi yang berada di loteng kamar Anette.


"Berikan anakku!" Tuntut salah satu pria bertopeng yang dapat Yansen kenali walau hanya dapat melihat matanya.


"Anakmu yang mana huh?!" Tanya Yansen tak kalah sengit.


"Anette! Dia anakku, serahkan dia padaku!"


"Setelah kau membuangnya Tuan Aldric?" Tanya Yansen lagi dengan suara tenang namun menusuk.


"Ku kira kau telah bahagia dengan harta papa serta wanita ularmu, jadi untuk apa kau menginginkan Anette sekarang?" Lanjut Yansen.


"Bukan urusanmu adik kurang ajar!" Bentak Aldric.


"Jangan pernah memanggilku adik, aku tidak pernah sudi," ucap Yansen seraya bsrdecih tidak sudi.


"Cepat berikan atau kau akan mati!" Ancam Aldric seraya menodongkan pistol tepat di kepala Yansen.


Sedangkan di loteng, Anette dan Rachel berbaring di atas ranjang kecil. Balita tersebut terus memeluk ibunya ketakutan.


"Ayah kok lama buna?" Tanya Anette.


Rachel berusaha menyembunyikan tangisnya.


"Ayah pasti kembali sayang," ucap Rachel sambil mengusap kepala anaknya tersebut.


'DUARRR'


Pintu rahasia memasuki loteng dibuka paksa oleh orang bertopeng. Orang tersebut menghampiri Rachel dan Anette dengan sebuah botol seperti air mineral di tangannya.


Rachel membelalakan matanya terkejut. Bagaimana bisa orang tersebut dapat mengetahui tempat rahasia ini?


"Mengapa, kau terkejut Nyonya Rachel?" Tanya orang tersebut sambil membuka topengnya.


Rachel sangat terkejut, ternyata dia seorang wanita yang sangat ia kenali.


Nancy, asisten rumah tangganya. Pantas saja ia dapat mengetahui tempat ini.


"Kau!" Seru Rachel seraya menunjuk wajah Nancy.


"Kenapa nyonya, terkejut hmm?"


Nancy melemparkan sebuah surat dan bolpoin pada Rachel.


"Cepat tanda tangani surat pengalihan harta itu jika kau ingin selamat!" Ucap Nancy.


"Kau licik Nancy!"


"Cepat tanda tangani jika kau menyayangi nyawamu dan anakmu itu!"


Rachel tidak punya pilihan lain. Dengan terpaksa ia menanda tangani surat pengalihan harta tersebut. Semua hartanya dan Yansen telah habis di tangan asisten rumah tangganya sendiri.


Rachel melemparkan surat tersebut pada Nancy. "Sudah puas kau!"


Nancy berjalan mendekati Rachel sambil membuka botol di tangannya.


"Bagaimana jika kita sedikit bersenang-senang nyonya."


"Mau apa lagi kau?!" Teriak Rachel ketakutan.


"Buna.. An takut," ucap si kecil Anette ketakutan.


"Aaaaa sakit buna!" Teriak Anette saat wajahnya tersiram sebuah cairan, seperempat wajahnya seakan meleleh. Tangan Rachel yang berusaha melindungi puterinya tersebut pun ikut terluka.


"KAU GILA NANCY!" teriak Rachel.


Dengan panik Rachel mengambil sebuah botol minuman dingin dari dalam lemari pendingin kecil yang tersedia di sana. Ia menyiramkan air tersebut untuk sedikit menetralisi efek air keras pada wajah Anette.


"Hiks, An kuat ya sayang."


Tiba-tiba seorang laki-laki yang sepertinya juga sudah melepas topengnya datang menghampiri mereka.


"Nancy kau gila! Aku tidak menyuruhmu melukai anakku!" Seru laki-laki tersebut.


"Ini rencanaku sendiri." Nancy menunjukan surat yang telah ditanda tangani oleh Rachel. "Lihat! Semua ini akan menjadi miliku Aldrichahaha."


"Kalu licik!" Hardik Aldric.


'Dor'


Satu tembakan dilayangkan oleh Nancy tepat di dada Aldric. Laki-laki tersebut langsung terjatuh bersimbah darah.


"Al!!" Seru Rachel memanggil Aldric, ayah kandung dari anaknya.


Sedangkan di lantai 1, Yansen juga telah tewas bersimbah darah dengan beberapa luka tembakan*.


Rachel meneteskan air matanya selesai menceritakan masa lalunya. Hara langsung memeluk wanita sebayanya tersebut dan mengusap-usap punggungnya.


"Kalian orang-orang kuat. Aku tidak bisa membayangkan jika aku yang mengalaminya," ucap Hara.


Juno juga mengusap-usap punggung Anette yang tidak bisa menahan isakannya.


"Jadi selama ini kamu menyimpan luka masa lalu seberat itu. Maaf jika aku pernah menambah lukamu," bisik Juno di telinga Anette.


Anette menggeleng. "Tidak, justru kamu yang menyembuhkan lukaku mas."


...


Sinetron banget gak tuh kwk. BTW habis ini ending😉