Oplas

Oplas
bab 38



"Maksudnya?" tanya papa mertua yang bingung dengan ucapan istrinya itu.


"Hem wanita ini pa, dia sudah membuat anak kita masuk penjara dan sekarang dia mengambil seluruh harta warisan milik anak-anak kita juga" ucapnya.


"Apa yang kamu katakan, dia menantu yang baik. Feri seperti itu karena ulahnya sendiri karena bermain api dengan wanita yang papa tidak sukai itu dan harta warisan papa juga sudah tau dari dulu saat papa menikahkan Hiara dengan Feri dan Feri juga ikut menandatangani surat persetujuan warisan itu jadi dia tidak ada salah apa pun" ucapan papa mertua ku membuat mama diam seperti batu tidak berani lagi bertanya sedangkan Meri mendengar ucapan papanya itu jatuh pingsan sehingga kami harus mengangkat Meri untuk di tidurkan di dalam kamar.


Mama mertua menjaga Meri di dalam kamar, ayah bersama papa mertua duduk di ruang tamu bercerita panjang sedangkan aku mengantarkan dokter keluar rumah untuk pulang.


"Ini" aku memberikan satu lembar cek kepada dokter.


Dokter mengambil itu "sekarang dendam kamu sudah terbalas, harta juga ada sekarang jadi apa yang akan di lakukan ke depannya?" pertanyaan dokter itu membuat aku baru berpikir apa yang akan aku lakukan ke depannya dengan keberuntungan ku yang sekarang.


"Oplas telah mengubah takdirku dok, aku akan memulai dari awal besok dan aku juga tidak akan merepotkan dokter lagi" ucapku sedih saat aku tahu bahwa tidak akan bersama dengan dokter lagi.


Dokter pun menyentil keningku "Awww ini andalan dokter untuk melakukan kekerasan fisik padaku" marahku sambil membalas sentilan dokter namun saat aku ingin membalas hak kakiku membuat aku kehilangan keseimbangan hingga hampir terjatuh tapi dengan sigap dokter menangkap tubuhku yang hampir jatuh itu.


Aku dan dokter saling berpandangan dan jantung ku berdetak kencang tetapi tanganku yang memegang dokter itu tidak ingin melepaskan pelukan aneh seperti ini.


Dokter yang masih menahan tubuhku itu mendekati wajahnya ke arahku namun aku segera memejamkan mata, ibu yang melihat kami dari balik jendela tersenyum "ayo cium, cium, cium" celoteh ibu namun dokter mencubit hidungku.


"Kena lagi" ucap dokter membantu aku berdiri normal, aku pun merapikan bajuku "apaan sih sakit tau jahil begini" aku berpura-pura kesal.


"Oke aku pulang dulu" aku pun menganggukkan kepala dan melambaikan tangan saat dokter pergi dari hadapan ku.


Saat di bawa kantor polisi Lidia dan Feri di cerca banyak pertanyaan oleh wartawan sampai masuk ke dalam penjara, Lidia yang saat itu berada di dalam penjara merasa kesal dan emosi sehingga dia pun berteriak "brengsekkkk cewek sialan bakal aku hancurkan kamu kalau aku keluar dari sini" saat itu tiba-tiba ada suara teriakan yang lebih keras lagi.


"Diammmmm" Lidia melihat ke samping wanita yang berteriak itu berdiri menghampirinya terus langsung menampar wajahnya.


Lidia yang di tampar pun tidak terima sehingga dia ingin membalas namun tangannya di tahan oleh tahanan lain "kenapa Lo, mau balas. Kalau masuk sini tu loh harus diam kalau tidak loh harus jadi pesuruh gue, enak aja loh teriak-teriak di jam istirahat gue."


"Gue ngak takut sama Lo" ucap Lidia dengan kasar sehingga wanita itu pun menampar Lidia lagi.


Polisi wanita yang melihat itu segera membuka sel untuk melerai mereka, Lidia dalam ke adaan pingsan itu di angkat oleh polisi-polisi yang lain untuk di pindahkan ke tempat perawatan.


Nindi yang saat itu terburu-buru datang menghampiri Lidia di ruangannya dengan di temani oleh polwan yang ada di sana, Lidia yang saat itu sadar melihat Nindi segera memegang tangannya "Bin kamu harus bantu aku keluar dari sini, mereka semua orang gila" teriak Lidia.


Nindi pun memeluk Lidia "Aku sudah hubungi pengacara, kamu tenang saja ya" jawab Nindi menenangkan Lidia.


"Aku ngak mau ke ruangan itu, aku mau bebas. Aku harus membalas penghinaan ini yang di lakukan wanita oplas itu" kesalnya berada di pelukan Nindi.


Nindi hanya diam mendengarkan ucapan Lidia, dokter yang memeriksa Lidia pun segera datang dan berkata kalau Lidia sudah baik-baik saja selama pingsan 3 jam tenaganya sudah pulih lagi walaupun harus istirahat dan minum vitamin.


Lidia pun yang saat itu memegang tangan dokter "dok aku tidak mau bertemu orang-orang jahat itu lagi. Aku mau pulang" teriak Lidia namun polwan tersebut memborgol tangan Lidia.


"Kalau kamu sudah tidak berteriak lagi maka kami akan melepaskan borgolan ini, sekarang jam kunjungan sudah selesai" ucap salah satu polwan lain.


Nindi segera memeluk Lidia dan berbisik "kamu harus tenang agar mereka tidak menyakiti kamu" ucapan Nindi itu membuat Lidia sadar dan mengangguk kepala bahwa dia mengerti.


Nindi yang tersenyum itu pun segera keluar "aku harus menemui pengacara Lidia dulu hari ini" ucapnya langsung masuk ke dalam mobil.


Sedangkan Feri yang berada di dalam penjara hanya duduk termenung terdiam bernostalgia kenangannya bersama Hiara dulu "kenapa baru sadar sekarang, ahhhhhh" teriaknya di dalam penjara itu membuat orang di sekitarnya kaget.


Feri melihat itu langsung menundukkan kepalanya lagi meneteskan air mata penyesalan yang sudah dia perbuat, Feri mencintai Hiara dari dulu waktu Feri sekolah menengah pertama dimana Feri seperti anak culun di ganggu oleh orang-orang yang menghina dan mengejeknya.


Feri menangis atas Bullyan itu namun Hiara yang menggunakan seragam putih merah anak SD datang menyelamatkannya dengan berani Hiara berkelahi dengan mereka semua dengan teknik smackdown yang saat itu belum maksimal dia pelajari, Feri bahagia karena wanita kecil cantik itu tersenyum ramah dan membantunya.


Melihat itu Feri yang di pindahkan sekolah ke luar negeri bertekad merubah dirinya yang tadinya ejekan membuat dia sering berlatih sehingga menjadi laki-laki pintar serta maco.


Beberapa tahun kemudian saat Feri kembali ke Indonesia Feri mencari Hiara Najwa yang membuat dia kaget dengan tubuh seperti gajah sehingga membuat Feri mengingat kejadian buruk di masa lalunya itu.


Melihat situasi itu Feri menolak dirinya untuk bertemu dengan Hiara, pada saat Feri pergi meninggalkan pandangannya terhadap Hiara yang dia tidak inginkan itu Feri melihat kakek tiba-tiba menyebrang jalan dan saat Feri berlari berteriak "kakek awas" terjadilah kecelakaan dimana kakek hampir tertabrak di bantu oleh wanita gemuk yang menyodorkan tubuhnya ke depan mobil sehingga dia dapat menghindari kakek dari bahaya itu.