
Feri pun segera tersenyum mendengar ucapan mama dan adiknya itu sehingga Feri segera berkata "terima kasih tapi kalian tenang saja aku akan berusaha buat Hiara menyukai aku lagi" ucap Feri segera pergi dari tempat itu.
Hito yang mendengar ucapan Mama dan Meri pun segera berlari keluar menarik baju tangan panjang ibu "Bu" sapa Hito.
"Apaan sih" risih ibu saat ditarik oleh Hito.
"Aku ada sesuatu" paksa Hito.
"Udah deh Ibu tahu kamu pasti mau ngerjain ibu kan, udah sana masuk tidur udah malam" usir ibu sehingga Hito tu berhenti menarik ibu.
"Nanti ibu nyesel kalau enggak dengerin sesuatu ku ini."
"Ibu bakalan nyesel kalau ibu bakal dengerin sesuatu kamu itu, udah nggak usah banyak omong. Sekarang masuk ke kamar" omel ibu ke Hito.
Hito pun berlari ke kamarnya langsung dan tidak melanjuti ucapannya kepada ibu.
Aku dan Dokter Nando pun tiba di depan parkiran acara tersebut, aku yang saat itu merasa grogi pun menarik nafas dalam-dalam.
"Kamu grogi?"
"Iya dong dokter" jawab ku.
"Kamu pegang tangan aku aja maka grogi kamu akan hilang."
"Dokter ambil kesempatan dalam kesempitan ya, mau dipegang tangannya" ucapanku membuat dokter kesal.
"Apaan sih orang cuman kasih solusi bukan ngambil kesempatan."
Aku mau jalan sendiri."
"Ya udah" kami pun keluar dari mobil, saat berjalan masuk ke dalam ruangan pun aku yang kesusahan berjalan itu tu "eeeeehh" teriakku ke susahan saat mencapai keseimbangan.
Dokter yang melihat itu pun "kamu tinggi banget."
"Iya ini 10 cm, biasanya kan aku gunain 3 senti. Aku sudah tinggi jadi aku nggak perlu hak tinggi dan ini pemberian dari Profesor kalau aku nggak pakai nanti Professor tanya lagi."
"Ya ampun papa bener-bener nggak lihat situasi apa ya, ya udah sesuai dengan kata-kata ku tadi pegang tanganku" aku tidak protes lagi, sehingga aku pun menggandeng tangan dokter.
Kami masuk ke dalam tempat itu semua mata tertuju kepada kami, melihat kami itu pun Profesor segera tersenyum dan berjalan secepatnya menghampiri "anak mantu" panggil profesor sehingga semua orang melihat ke arah kami "lihat anakku dan mantuku cocokkan" teriak dokter sambil menunjuk ke arah kami.
"Apa-apaan sih bikin malu aja" ucap dokter kepada profesor.
"Kenapa harus malu, cocokan" tunjuk Profesor lagi kepada kami.
"Iya Profesor cocok, cantik dan tampan bener-bener pasangan yang serasi" teriak salah satu dari mereka, melihat itu aku merasa malu.
"Papa jangan berlebihan" kesal dokter.
"Ini tidak berlebihan, ya udah sekarang ayo kita menikmati pestanya" menarik kami untuk menikmati pesta, kami pun berjalan mengikut langkah kakinya.
Acara itu sangat bagus dan meriah, kami pun minum minum bersama, pada saat itu Dokter Teguh menghampiri aku disaat Dokter Nando mengambil minuman untuk ku "Hiaraaa" sapa Dokter Teguh kepadaku.
"Dokter Teguh" jawabnya.
"Oh iya Dokter Teguh" ingat ku kepadanya.
"Kamu malam ini cantik banget, oh ya aku punya sesuatu buat kamu" Dokter Teguh pun mengambil sesuatu di kantongnya "bunga untuk kamu" dokter pun mengeluarkan bunga mawar satu tangkai memberikannya kepadaku "ambil" sehingga aku pun mengambil bunga itu.
"Terima kasih Dokter" jawabku, dengan bingung Dokter Nando yang melihat Dokter Teguh dan aku sambil memegang bunga mawar itu pun segera cepat berjalan menghampiri kami.
"Hiara ini" dokter memberikan minumannya kepada ku, melihat ada Dokter Teguh di hadapanku Dokter Nando pun mulai mengejeknya.
"Dokter Teguh mana pasangan anda?" tanya dokter Nando "masa laki-laki cantik seperti anda tidak membawa pasangan" aku yang saat itu sedang meminum minuman ku langsung mengeluarkannya pada saat mendengar ucapan cantik yang keluar dari mulut dokter.
"Kamu kenapa" dokter Nando memberikan sapu tangannya kepadaku.
"Kamu kenapa?" tanya dokter lagi kepadaku.
"Enggak apa-apa dok, aku cuman kaget aja mendengar ucapan Dokter bilang kalau Dokter Teguh cantik" sambil mengelap tangan ku yang basah, Dokter Teguh yang mendengar ucapan ku itu pun langsung kesal "Hiara, ya udah kalau begitu saya permisi dulu ya. Saya tidak mau memperpanjang urusan dengan dokter aneh kaya dia" segera pergi meninggalkan kami.
"Uuuuuuhhh,, siapa juga yang aneh. Ya udah lah kita nikmati pestanya terus kita segera pulang, aku nggak betah lama-lama di sini" ucap dokter.
Selesai acara pun aku dan dokter segera keluar dari pesta, saat di parkiran Profesor pun memanggil kami "Kenapa kami mau pulang" kesal Dokter.
"Iya papa tau, sebelum pulang papa ingin memberikan sesuatu kepada kamu."
"Sesuatu?"
"Iya" profesor pun memegang tangan dokter dan menghadap ke arahku "Hiara kamu tunggu di sini ya, Om sebentar saja bicara sama Nando."
"Iyaaaaa Om" ucapku, "aku pun berjalan membuka pintu mobil, saat aku hendak masuk ke dalam mobil aku mendengar suara perkelahian seseorang "seperti ada yang berkelahi" celotehku.
Akhirnya aku pun berjalan mencari suara itu pada saat itu aku melihat seseorang dikeroyok oleh 3 orang, seseorang tersebut berbaring di jalan menahan wajahnya saat di tendang oleh mereka.
Melihat itu pun aku spontan berjalan mendekati untuk membantu orang tersebut "Kalian ngapain sih keroyokan, kalau gentlemen itu satu lawan satu" pada saat itu mereka pun menoleh ke arahku.
Seseorang yang di keroyok itu menatap ke arahku sambil memegang perutnya "perempuan cantik, lebih baik kamu pergi dari sini dan tidak usah ganggu urusan kami. Jangan sampai kami emosi dan melukai wajah cantik kamu itu" ucap salah satu preman berbaju hitam itu.
"Kalian pikir aku ini wanita lemah sampai-sampai kalian berbicara kasar seperti itu kepadaku" teriakku.
"Wowwww lihat wanita cantik ini sepertinya dia memang menantang kita" ucap preman berbaju biru.
Aku pun segera melepas sepatu hak tinggi ku berjalan mendekati mereka "kalian ini ya benar-benar keterlaluan" ucapku sambil memukul mereka dengan hak ku itu.
Saat aku memukul mereka, mereka pun berteriak kesakitan "rasain ini hak ku 10 senti kalau ditusuk pakai ini pasti sakit, kepala kalian juga bisa berdarah kalau aku jitak ini" ucapanku sehingga membuat mereka emosi.
Mereka pun emosi hingga mendorongku hampir terjatuh "kalian mau melakukan kekerasan padaku yah" aku pun berdiri berjalan ke arah mereka dengan mudah aku membanting mereka satu per satu hingga tiba-tiba mereka pun pingsan.
Aku yang saat itu sadar "aduh pundakku sakit juga sudah lama ngak di gunakan" celotehku setelah membanting mereka aku segera berjalan melihat mereka seperti orang yang tidak sadarkan diri.
"Apa yang aku lakukan, apa aku sudah kelewatan dan membunuh orang" celotehku sambil mendekati ketiga preman itu.