Oplas

Oplas
bab 70



Lidia dengan nada emosi keluar ruangan sepanjang jalan tidak sengaja menabrak seseorang di hadapannya hingga membuatnya hampir terjatuh, pada saat kejadian seseorang itu menangkap dirinya dan Lidia memandang laki-laki itu dengan sungguh tersenyum.


Laki-laki itu yang melihat Lidia langsung melepaskan pelukannya hingga Lidia jatuh "Awwww" teriaknya kesakitan.


"Idih Lidia wanita jahat" ucap Jaya di hadapan Lidia, mendengar perkataan Jaya orang jahat itu pun Lidia berdiri sambil memegang pinggangnya yang sakit itu.


"Kamu apa-apaan sih, bilang jahat. Kamu tahu siapa aku?" tunjuk Lidia.


"Tahu dong, kan kakak artis terkenal. Eh salah deh mantan artis terkenal yang suka lipsing suara orang, terus ambil suami orang, sudah itu sekarang malah mau bunuh orang" jawaban Jaya itu membuat Lidia menutup mulutnya rapat-rapat sambil bicara dalam hatinya "siapa orang ini, kenapa yang diucapkan itu semuanya benar. Benar benar bikin kesel aja."


"Kakak kesini berobat yah, itu kalau mau berobat. Itu tuh" tunjuk Jaya ke suatu tempat terus pergi meninggalkan Lidia.


Lidia pun melihat tempat yang ditunjuk Jaya ternyata "spesialis kejiwaan, apa dia menyuruh aku berobat kesana. Emangnya aku ini gila apa, awas itu anak kalau ketemu lagi bakalan aku kasih pelajaran" kesal Lidia.


"Hampir saja aku tergoda dengan wajah tampannya, yang selalu di hatiku itu Feri. Aku harus bisa ambil dia lagi, karena aku tidak mau sendirian lagi dan Hiara juga tidak pantas bahagia" celoteh Lidia segera berjalan perlahan pergi meninggalkan rumah sakit.


Pada malam hari pun tiba, aku yang pada saat itu keluar dari kamar hanya menggunakan baju kaos, traning dan sendal jepit keluar dari rumah.


Feri yang sudah siap di dalam mobil di depan untuk mengikuti aku kaget melihat aku keluar dari rumah "Hiara mau ke mana ya, setahu aku tadi mereka bilang siang tadi ke kafe. Tapi kenapa dari penampilannya Hiara seperti orang yang akan berbelanja ke minimarket dekat rumah" ucap Feri.


Di depan pagar aku masuk ke dalam taksi, Feri mengikuti aku dari belakang.


Di tempat lain Dokter Nando dan Jaya sampai di depan kafe pun menyamar dan duduk tempat di dekat kursi depan untuk melihat aku sudah sampai apa belum.


Di rumah Dokter Teguh yang saat itu akan keluar dari rumah pun langsung di hadang oleh Lidia "mau pergi kemana?" tanyanya penasaran.


"Ikut" ucap Lidia langsung.


"Apaan sih, aku mau sendirian."


"Aku mau ikut, karena penampilan kamu malam ini sangat aneh menggunakan jaket dan topi aku harus ikut."


"Enggak, aku ada urusan" berjalan secepat mungkin, Lidia pun langsung berlari mengejar Dokter Teguh dan masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu boleh ikut tapi tidak boleh keluar dari mobil" Lidia pun mengangguk mendengar perintah Dokter Teguh.


Aku yang saat itu sampai di depan kafe segera berjalan, saat berada di depan pintu kafe di hadang oleh satpam yang ada di sana.


Dokter Nando dan Jaya yang berada di dekat pintu pun tertawa kecil melihat aku di luar "dasar bodoh, dia tidak tahu apa kalau ini kafe elit" bisik Dokter Nando.


"Kak oplas emang keren kak, tanpa kita aku yakin dia bisa menang sama laki-laki misterius itu" bisik Jaya.


Dokter Nando pun tersenyum sambil berkata dalam hatinya "benar, dia mempunyai seribu ide untuk memberikan orang itu pelajaran. Ini yang membuat jantung ku berdetak kencang saat di dekatnya."


Saat satpam bertanya pun aku menjawab dengan santai kalau menerima undangan dari seseorang ke kafe ini, saat itu pelayan yang mendengar langsung mendekati kami dan mengizinkan aku masuk ke ruangan yang sudah di pesan.


Aku pun berjalan masuk ke dalam mengikuti arahan dari pelayan tadi, Feri yang saat itu keluar dari mobil hendak masuk ke dalam kafe segera di tarik oleh Lidia sehingga dia pun menghentikan langkahnya.


"Sayang kamu ngapain, ayo aku mau bicara sama kamu" tarik Lidia sehingga menjauh dari kafe tersebut. Dokter Teguh yang melihat tingkah mereka pun segera berjalan masuk ke dalam ke kafe mencari Nando dan Jaya.