Oplas

Oplas
Haruskah?



Di ruang rawat inap, saat ini Juno hanya ditemani oleh Anette yang sedang menyuapinya semangkuk bubur ayam. Juno baru menyadari jika di jari manis Anette terdapat cincin yang sangat ia kenali. Juno menahan tangan Anette, sedangkan sang empunya hanya diam saja.


"Kau menemukannya?" Tanya Juno seakan tidak percaya.


Pipi Anette bersemu merah. Gadis itu terseyum kikuk.


"Maaf jika aku lancang memakainya."


Juno menahan tangan Anette yang akan melepas cincinnya. Laki-laki itu justru mengembangkan senyumnya.


"Cincin ini sudah berada di tempat seharusnya."


"Apa masih berlaku untukku?" Tanya Anette dengan mata berkaca-kaca.


"Tentu saja. Seperti yang pernah kukatakan malam itu, aku akan tetap menunggumu sampai kapan pun itu."


"Jadi.. kamu menerima lamaranku?" Tanya Juno.


Anette mengangguk, "iya aku mau."


Juno mengecup punggung tangan Anette. "Terimakasih An."


Karena infus dan selang oksigen membuat Juno tidak leluasa untuk bergerak. Juno merentangkan tangannya agar Anette memeluknya.


Anette yang paham pun menaruh mangkuk di meja lalu memeluk Juno dengan hati-hati.


"Tolong maafkan aku Juno. Karena kamu turut merasakan imbas dari luka lamaku. Sungguh, saat itu aku hanya belum siap," lirih Anette.


Juno mengusap-usap punggung Anette. "Tidak, itu bukan salahmu. Seharusnya aku yang meminta maaf karena selama ini selalu egois."


Anette merenggangkan pelukannya. Tanpa disangka gadis itu mengecup bibir Juno. Juno cukup terkejut, jika kalian bisa melihatnya secara langsung percayalah, ekpresinya itu lucu lucu sekali.


Juno menggeser tubuhnya, laki-laki itu menepuk-nepuk sisinya yang kosong agar ikut berbaring di sana.


"Sini An," ucap Juno.


"Sempit Jun."


"Brankar ini cukup besar An, tubuhmu tidak akan membuat brankar ini roboh."


"Ish kamun ini."


Akhirnya Anette ikut berbaring dengan posisi miring menghadap Juno. Satu tangan Juno merangkul Anette agar merapat.


"Istirahatlah, momy bilang kamu susah tidur."


...


"Aku rasa lama-lama tanganku akan glowing," sindir Anette pada Juno yang terus mengusap tangan Anette.


Juno tersenyum lebar seperti anak kecil yang habis dibelikan kuota internet untuk bermain game online.


"Sudah siap?" Tanya Juno.


Anette mengangguk sambil terseyum.


Juno meraih tangan Anette agar menggandeng tangannya. Mereka memasuki gedung resepsi. Banyak pasang mata yang menjadikan mereka pusat perhatian. Mereka terus berjalan menuju panggung pelaminan. Juno membantu Anette menaiki tempat tersebut.


"Sepertinya kalian sukses menyita perhatian tamu undanganku," ucap Keanu.


"Tentu saja," Juno memeluk singkat tubuh Keanu dan menepuk pundaknya. "Selamat atas pernikahanmu," lanjutnya.


"Ya, segeralah lulus agar cepat menyusulku," balas Keanu.


Juno beralih memberikan selamat pada Wilona yang kini telah resmi menjadi kakak iparnya. Otomatis sekarang giliran Anette yang memberikan selamat pada Keanu.


Anette menyalami tangan Keanu. "Selamat ya kak," ucapnya seraya tersenyum.


Keanu membalas senyuman Anette. "Terimakasih An."


Anette beralih pada Wilona. Mereka bersalaman ala perempuan dengan menempelkan pipi secara bergantian.


"Selamat ya kak," ucapnya lagi memberikan selamat.


"Terimakasih An," balas Wilona.


Sebelum turun, Juno dan Anette berfoto bersama dulu sebagai formalitas. Setelahnya mereka berbaur dengan teman-teman Juno yang turut hadir.


"Hey tuan bernyawa sembilan," sapa Jamie seraya menepuk punggung Juno.


"Ashhh punggungku masih nyeri bodoh!" Balas Juno seraya menyentil kening temannya tersebut.


"Jun, Anette kita bawa dulu ya," ucap Gia.


Gia dan Monnie membawa Anette menuju stand makanan. Mereka mengambil menu yang sama yaitu siomai khas Bandung. Mereka duduk di meja bundar dengan kursi-kursi yang mengelilinginya.


"Gimana perasaanmu An?" Tanya Monnie iseng.


"Perasaan apa?" Tanya Anette bingung.


Monnie memutar bola matanya malas. Nasib berbicara dengan gadis polos.


"Perasaanmu melihat mantan kekasihmu menikah," jelas Monnie sambil melanjutkan makannya.


"Biasa saja," jawab Anette jujur.


"Hmm mentang-mentang habis balikan," ucap Gia.


"Kau kapan menyusul An. Lihat, mantanmu sudah menikah bahkan istrinya sudah mengandung," ucap Monnie.


Anette mengangkat kedua bahunya. "Untuk saat ini Juno baru melamarku," Anette memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manisnya. "Lagi pula Juno kan belum lulus," lanjutnya.


"Gimana enak gak?" Tanya Gia ambigu.


Anette mengernyitkan keningnya. "Maksudnya siomay ini?"


"Astaga An..," Gia dan Monnie menghela nafas sabar.


Keduanya menghimpit tubuh Anette di tengah dengan merangkulnya.


"Jangan bilang kau melum melakukannya?" Bisik Gia.


"Melakukan ap-,"


"Tidur," potong Monnie sambil memberi kode tanda kutip dengan jarinya.


Sekarang Anette paham, pipinya bersemu merah. Gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Kami kan belum menikah," ucap Anette dengan polosnya.


"An, untuk jaman sekarang alasan seperti itu terlalu naif," ucap Monnie.


"Kau mencintai Juno bukan? Hati-hati saja, laki-laki itu harus dikuasai. Mungkin saja hanya padamu dia hanya memperlihatkan sisi baiknya. Tapi apa kabar dengan sisi nakalnya, memangnya kau mau Juno menyalurkan kenakalannya itu dengan wanita lain?" Ucap Gia mengompori Anette.


Anette mulai gelisah. Apa benar yang Gia katakan? Apa selama ini Juno menahannya, atau sudah menyalurkannya dengan wanita lain?


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Anette yang mulai terpengaruh.


Gia dan Monnie saling bertatapan dan tersenyum. Tangan Monnie mengusap punggung Anette lalu berbisik di telinga gadis tersebut, "lakukanlah malam ini sebagai kado ulang tahunnya. Kau belum sempat memberinya kado bukan?"


Anette menganggukan kepalanya. Yang dikatakan Monnie memang benar. Hari ini Juno baru keluar dari rumah sakit dan langsung pergi ke acara ini. Anette belum sempat memberikan kadonya.


"Akan kuberikan kau lingerine saat pulang nanti. Lakukanlah yang terbaik," ucap Gia.


Juno dan Jamie datang menghampiri mereka.


"Apa yang kalian bicarakan? Serius sekali," ucap Juno.


"Ssttt, ini urusan perempuan, laki-laki dilarang tahu," ucap Monnie.


"An kau baik-baik saja?" Tanya Juno melihat Anette yang terus menatapnya dengan pandangan kosong.


"Ahh tidak apa-apa, a-aku hanya sedikit mengantuk," ucap Anette seraya pura-pura menguap.


"Kerja bagus," bisik Monnie pelan.


"Kalau begitu ayo pulang, aku juga sudah mulai bosan di sini," ucap Juno.


"Ah ya kita bertiga juga deh," ucap Monnie seraya mengedipkan mata sebagai kode pada Jamie dan Gia.


"Iya, tiba-tiba saja pedutku mulas," ucap Jamie sambil memegang perutnya.


"Aku juga ingin mengerjakan tugas," ucap Gia.


Mereka keluar dari gedung menuju parkiran. Saat di parkiran, buru-buru Gia mengambil lingerine dari koper kecilnya yang selalu ia bawa untuk pemotretan. Tenang saja, lingerine tersebut masih baru.


Gia menyerahkan barang tersebut pada Anette secara diam-diam sebelum mobil Juno melaju. Kali ini Juno menggunakan supir karena paksaan dari ibunya.


Dalam perjalanan Anette terus memperhatikan wajah Juno secara diam diam. Tangannya meremas benda yang tadi Gia berikan padanya.


Haruskah aku melakukannya? Tanya Anette dalam hati.