Oplas

Oplas
bab 52



Sedangkan kakek yang berada di sana pun memegang tangan Feri "cucuku sekarang kamu masuk ke kamar istirahat" ucapnya akhirnya mama dan Meri segera mengantar Feri ke kamar tamu.


Saat mereka berada di kamar itu mama pun memberi dukungan kepada Feri "nak kamu harus tetap tinggal di sini, apapun yang dikatakan Hiara bersama keluarganya tidak usah di dengarkan nak. Kamu sekarang istirahat karena kamu baru keluar dari penjara, Mama sangat senang kita bisa berkumpul lagi walaupun kurang papa."


Feri pun tersenyum '"iya ma, terimakasih" jawab Feri dan akhirnya mama keluar dari kamar itu bersama Meri.


Meri segera secepatnya menarik Mama masuk ke dalam kamarnya "ma ini sangat, sangat, sangat gawat" ucap Merry sambil berjalan mondar-mandir di kamar.


Mama pun yang mendengar ucapan Meri tersebut langsung memegang pundak Meri untuk berhenti "apanya yang gawat, kakak kamu sudah keluar dari penjara emangnya kita punya masalah lagi" ucap mama.


Saat itu Meri pun berteriak kesal "mama nggak ngerti, lupa atau apa sih kalau Kak Feri dan Kak Hiara itu bercerai maka otomatis Kak Feri akan di tendang dari rumah ini dan kita juga akan ikut di tendang keluar dari rumah ini. Mama kan tahu semua harta warisan kakek itu sudah atas nama Kak Hiara, tidak ada sedikitpun nama Kak Feri dan aku" ucapan Meri itu membuat mama pun sadar akhirnya menarik Meri.


"Kita duduk dulu, kita harus berpikir bagaimana caranya untuk masalah ini" ucap Mama mereka pun duduk sambil memikirkan rencana apa yang harus mereka lakukan.


"Aku punya ide" kaget mama mendengar teriakan Meri.


"Ide apa?" tanya Mama.


"Kita tidak boleh membiarkan Kak Feri dan Kak Hiara bercerai, bagaimanapun caranya kita harus buat Kak Hiara jatuh cinta lagi pada Kak Feri sama seperti dulu di saat dia masih jelek ma. Dulu Kak Hiara sangat menyukai Kak Feri bahkan kalau dilihat-lihat sampai tergila-gila."


Mama pun tersenyum "ide bagus sekarang kamu yang pikirkan bagaimana caranya Feri dan Hiara bisa bersama, mama mau keluar dan istirahat."


Mendengar ucapan mama pun Meri berteriak "mama kenapa harus aku yang berpikir harusnya" belum selesai menyelesaikan ucapannya mama pun langsung keluar dari kamar Meri.


"Dasar mama semuanya di serahkan kepadaku, padahal otak mama kan lebih encer dari pada otak ku urusan seperti ini. Aku aja nggak punya pacar gimana aku bisa bikin orang jatuh cinta berpacaran aneh" Meri pun segera menggulingkan tubuhnya di atas ranjang.


Aku yang saat itu berada di dalam kamar bersama dengan Ibu Ayah dan Hito "kamu keluar" usir ibu kepada Hito sehingga Hito pun segera keluar dari kamar.


Ibu memegang kepala ku "enggak panas" celoteh ibu.


Aku pun melepas tangan ibu "aku enggak sakit Bu, aku sadar."


"Keputusan yang kamu ambil itu bikin ibu dan ayah itu khawatir" aku pun melihat kearah ayah.


"Ibu, ayah tolonglah percaya padaku. Ibu dan ayah kan lihat masih ada kakek. Masa aku mengusir cucu kesayangan kakek dihadapan kakek seperti itu" Ayah pun segera memelukku "Kamu benar, apa pun ke putusan yang kamu ambil pasti itu adalah yang terbaik untuk kamu."


Melihat ayah yang memeluk ku ibu juga ikut memeluk ku "oke deh, terserah keputusan kamu tapi Ibu akan tetap melindungi kalian semua" saat itu pintu kamar ku pun terbuka.


Hito masuk lagi segera berlari ikut berpelukan "curang, berpelukan nggak ajak-ajak" celoteh Hito sehingga kami pun berpelukan dengan sangat erat berempat.


"Sudah, sekarang tidur hari sudah malam. Besok kamu akan sibuk dengan urusan kantor" aku pun menganggukkan kepala Ibu, Ayah dan Hito pun keluar dari kamarku.


Keesokan harinya terdengar ketukan pintu dari kamar Meri, Meri pun mendengar suara Sinta dan Santi masuk ke dalam "non ini susunya" ucap Santi, mereka pun berdua masuk ke kamar "letakkan di atas sana" ucap Meri.


"Ada apa non?" tanya Sinta.


"Kalian sudah pernah pacaran belum" mereka berdua pun saling menoleh.


Sinta yang itu menjawab "Ya udah donk non."


Meri mendengar ucapan itu pun langsung menarik mereka untuk duduk di samping Meri sehingga Santi duduk di samping kiri dan Sinta kanan "pernah berarti kalian berdua harus membantu aku."


"Bantu, bantu apa non?" tanya Sinta saat kebingungan.


"Kalian harus bisa membantu aku untuk menyatukan Kak Hiara dan Kak Feri lagi, agar mereka tidak jadi berpisah. Kalian tahu kalau mereka berpisah bukan hanya kami akan keluar dari rumah ini tapi kalian juga akan dipecat, karena kalian tahu kan Hiara itu enggak suka sama kalian berdua" ucapan Meri itu membuat mereka berdua melotot dan saling pandang memandang.


"Bagaimana caranya?" Ucap mereka berbarengan.


"Makanya itu aku mengajak kalian kerjasama untuk membantu aku, jadi kita pikirkan sama-sama bagaimana caranya."


"Baik non" ucap mereka berdua berbarengan lagu.


Di luar pintu, Bik ija mendengar percakapan mereka itu hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan mereka bertiga berkompromi, saat itu Bik Ija langsung pergi dari tempat itu.


Aku yang sudah selesai mandi dan dengan rapi pun segera keluar dari kamar, aku berjalan menuju ke kamar kakek. Saat membuka kamar kakek ternyata sudah ada Feri di sana, mereka berdua menoleh ke arahku saat aku membuka pintu.


"Hiaraaaaa" sapa kakek, aku pun tersenyum dan terpaksa masuk ke dalam kamar kakek.


"Ada apa" tanya kakek kepadaku.


"Hiara ke sini ingin pamitan sama kakek kalau Hiara mau masuk ke kantor, tapi sebelum itu kakek sudah makan apa belum?" ucapku kepada kakek.


"Ini" kakek menunjukkan piring kosong yang sudah habis di samping meja tempat tidurnya "kalau gitu obat."


"Ini" kakek juga menunjukkan obat yang sedang di pegang oleh Feri.


Aku pun hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya "ya udah kalau gitu sekarang minum obatnya" ucapku sehingga Feri memberikan obat itu kepada kakek langsung.


Selesai meminum obat aku segera memeluk kakek "Hiara hati-hati semoga sukses di hari pertama ya nak."


"iya" jawab ku sambil tersenyum serta mencium pipi kakek.


Aku yang keluar dari kamar kakek pun ternyata Feri juga mengikuti aku keluar dari kamar kakek itu "Hiaraaaaa" panggil Feri sehingga aku pun menghentikan langkah kakiku dan menoleh ke arahnya.