Oplas

Oplas
bab 64



Aku yang saat hendak masuk ke dalam rumah bersama ayah dihadang oleh Feri yang berada di depan rumah, Ayah melihat itu pun segera masuk duluan "Ayah mau istirahat" aku pun mengangguk.


Melihat itu pun aku kesal dalam hati "apa yang di inginkan laki-laki ini, kenapa dia harus mengganggu ku. Buang waktu istirahat ku benar-benar menyebalkan."


"Kenapa?" ketusku.


"Aku cuma ingin mengatakan sesuatu kepadamu"


"Apa."


"Aku ingin kamu berhati-hati kepada Lira karena aku tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan pada kamu."


"Aku sudah bilang kalau aku bisa menjaga diriku dan si Lira itu juga tidak akan berani macam-macam kepadaku karena aku bisa menghajar dia, kamu tahu kan kalau aku ini atlet SmackDown Hiara Najwa" ucapku kepada Feri hingga membuatnya terdiam.


"Baiklah tapi aku akan tetap selalu menjagamu."


"Kalau itu sih terserah kamu dan kamu harus ingat surat dari pengadilan kita itu satu minggu lagi, ketika kita sudah resmi bercerai aku ingin kamu pikirkan di mana kamu akan tinggal karena aku tidak akan mungkin tinggal satu rumah dengan laki-laki yang sudah menjadi mantan suami" tunjukku ke wajahnya.


"Baiklah, aku sudah menyiapkan itu semua di mana aku akan tinggal. Tapi aku hanya ingin minta satu hal kepada kamu biarkan Mama, Meri dan papa tinggal di sini."


"Kalau itu sudah pasti karena aku tidak akan mengusir mereka, sudah selesai kan aku benar-benar lelah aku akan masuk" Feri memberikan jalannya kepadaku sehingga aku segera masuk ke dalam rumah.


Pembicaraan kami tadi ternyata di dengar oleh Santi sehingga dia buru-buru mencari Sinta untuk menemui Meri.


Pada saat Feri hendak berjalan masuk ke dalam, belakang tubuhnya di lempar sesuatu sehingga dia merasakan sakit "siapa yang berani melemparku" ucap Feri sambil menoleh mencari sesuatu itu, namun saat itu Feri menoleh sosok wanita berada di dekat sana "Lidia" ucap Feri sambil berjalan ke arah Lidia.


Pada saat Feri mendekat Lidia pun segera memeluknya "Sayangggg, aku benar-benar rindu. Kamu tahu kan kalau rindu itu berat" Feri pun memaksa untuk melepaskan pelukan Lidia.


"Kenapa kamu kemari?" tanya Feri.


"Kamu pasti sudah tahu jawabannya, aku kemari karena rindu sama kamu. Kita berdua sudah ditakdirkan untuk berjodoh"


"Kita berdua sudah berpisah bukan berjodoh, lebih baik kamu pergi dari sini" usir Feri.


"Tidak, aku tidak akan pergi dari sini" teriak Lidia.


"Aku ingin meminta pertanggung jawaban dari kamu, karena kamu tahu apa karena wanita itu sudah menghancurkan hidupku dan kamu sudah membuat hatiku hancur. Jadi kamu harus bisa mengobati hatiku yang hancur ini, kalau kamu tidak mau maka aku akan menghancurkan wanita itu juga" ancam Lidia yang membuat Feri menggelengkan kepalanya.


"Kamu tidak berubah, aku akan menjaga Hiara dari siapa pun termasuk kamu. Aku tidak ada urusan apa pun kepada kamu" tunjuk Feri dan membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan Lidia.


"Feriiii, Feri" teriak Lidia saat Feri meninggalkan dirinya.


Lidia pun mengepal tangannya "kamu menolak aku lagi, aku akan membuat kamu untuk kembali kepada ku dan menghancurkan wanita itu" celoteh Lidia bergegas pergi dari tempat itu.


Di depan kamar Meri Santi dan Sinta pelan-pelan membuka pintu kamarnya untuk masuk, Meri yang saat itu menggunakan masker wajah kaget sehingga masker itu berantakan "kaliannnn" kesal Meri mencubit tangan keduanya.


"Aduh, sakit non" teriak mereka pelan-pelan.


"Kenapa kalian seperti maling, pelan-pelan membuat aku kaget" marah Meri.


"Ada berita non."


Meri pun melepaskan cubitannya menarik mereka duduk "apa ceritakan."


Santi pun memulai pembicaraannya, dia menceritakan kejadian yang dia dengar di depan rumah tadi kepada Meri. Tapi mereka tidak mengetahui bahwa ucapan mereka di dengar oleh Bik Ija yang sedang mengunci seluruh rumah.


"Berarti aku dan mama aman, tapi aku mau harta kakek kembali lagi kepada ku. Apa pun yang terjadi aku tidak akan pergi dari rumah ini" ucap Meri.


"Kalian kemari" Santi dan Sinta pun berdiri mendekati Meri.


Meri pun membisikan rencananya pada Santi dan Sinta sehingga mereka pun menganggukkan kepala sesuai dengan arahan rencana yang di berikan kepada mereka.


Bik Ija pun segera pergi dari depan kamar tersebut setelah mendengarkan rencana mereka, aku yang saat itu tertidur sangat pulas Bik Ija pun mengurungkan niatnya untuk berbicara kepada ku.


Namun saat hendak pergi ibu pun memanggil Bik Ija "ada sesuatu yang ingin di katakan pada Hiara bik?" tanya Ibu.


Bik Ija pun mengangguk sehingga ibu pun mendengar ucapan Bik Ija yang mendengar rencana Meri, Santi dan Sinta itu.