
Changwon adalah tempat terakhir yang Anette dan Juno kunjungi. Sebuah kota di Korea Selatan yang merupakan ibu kota dari provinsi Gyeongsang Selatan.
Anette dan Juno berjalan bergandengan mengitari rumah-rumah tradisional Korea yang pernah dijadikan tempat shooting salah satu drama series Korea.
"Di sini tenang ya, tidak seperti di kota-kota sebelumnya," ucap Juno.
Anette mengangguk setuju. "Biasanya para turis lebih tertarik dengan Kota Seoul. Padahal kan suasana kota dengan gedung-gedung pencakar langit sangat membosankan."
Mereka menghentikan langkahnya.
"Ayo foto," ajak Juno yang diangguki oleh Anette.
Juno mengeluarkan ponselnya lalu membuka aplikasi kamera. Satu tangannya digunakan untuk merangkul pinggang Anette. Mereka tersenyum ke arah kamera. Beberapa pose mereka lakukan. Di pose terakhir tanpa instruksi Juno mencium hidung Anette membuat wanita tersebut terkejut.
"Hahaha," Juno tertawa.
"Ih pasti jelek," ucap Anette sambil meraih ponsel Juno untuk mengecek hasil foto.
"Cantik kok."
"Kayak gini apa cantiknya coba," ucap Anette menunjukan layar ponsel yang menampilkan potret dirinya dan Juno.
"Ppfffttt," Juno tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi wajah Anette dalam foto tersebut.
"Ihhh tuh kan!" Anette berjalan meninggalkan Juno sambil menghentak-hentakan kakinya.
Masih dengan tawanya Juno menyusul istrinya tersebut.
"Sayang.." panggil Juno berusaha merayu.
Anette tetap dia sambil terus berjalan sambil memotret pemandangan menggunakan ponselnya.
Tiba-tiba Juno mengangkat tubuh Anette ala pengantin lalu memutar-mutarnya.
"Aaaaaa Juno!"
...
Setibanya di Jakarta, Juno dan Anette kembali pada aktivitas masing-masing. Namun karena kini hubungan mereka bukan lagi sebagai boss dan asisten, jadi Anette hanya bisa menunggu Juno di Apartemen disaat suaminya tersebut sedang kuliah.
Saat bel berbunyi Anette segera membuka pintu. Di sana sudah ada Juno yang sedang tersenyum sambil menunjukan bungkusan makanan.
"Soto Betawi," Juno menyerahkan bungkusan tersebut pada Anette.
"Terimakasih." Anette mengecup singkat pipi Juno.
Mereka langsung menuju meja makan untuk menikmati soto betawi tersebut. Anette menghentikan suapannya saat menyadari Juno belum sama sekali menyentuh makanannya. Laki-laki tersebut malah fokus pada laptopnya.
"Makan dulu sayang," ucap Anette lembut.
"Sebentar lagi, aku sedang mengirim file desing-ku dulu," sanggah Juno tanpa mengalihkan pandangannya.
"Dua bulan ini kayaknya kamu sibuk banget deh. Tugas kampuslah.. kerjaanlah," ucap Anette memprotes.
"Kamu tahu kan, kejaan aku saat ini hanya sebagai freelancer. Aku tidak ingin menafkahimu dengan mengandalkan uang orang tuaku," ucap Juno yang untuk kesekian kalinya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tapi kamu harusnya bisa memporsir waktu. Setidaknya perhatikan diri kamu sendiri, kamu bisa jatuh sakit jika seperti ini terus," Anette mengusap lengan Juno.
Akhirnya Juno menutup laptopnya setelah filenya bsrhasil terkirim. Juno mengusap-usap pipi chuby Anette.
"Maafkan aku jika waktu kita semakin berkurang. Ini semua demi keberlangsungan hidup kita. Aku hanya ingin istri dan anakku nanti hidup dari hasil jerih payahku sebagai kepala keluarga," jelas Juno.
"Apa aku boleh bekerja juga?" Tanya Anette.
"Tidak sayang, biar aku saja."
"Tapi aku bosan berada di dalam sini terus," rengek Anette.
"Bagaimana jika setiap aku kuliah kamu diam di mansion bersama momy. Jarak mansion ke kampus kan lumayan dekat, jadi aku bisa mengantarmu saat pergi dan menjemputmu ketika pulang dari kampus," ucap Juno memberikam solusi.
"Ide bagus, aku setuju!"
...
Satu tahun kemudiam..
Anette terus menangis di atas closet. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lagi-lagi Anette merasa gagal, saat ini ia kembali datang bulan.
Sudah satu tahun lebih Anette menikah namun tidak kunjung hamil. Anette benar-benar takut jika dirinya tidak bisa hamil, alias mandul. Bagaimana dengan suaminya yang sangat menginginkan kehadiran seorang anak?
Pintu kamar mandi terbuka. Di sana Juno berjalan menghampiri Anette lalu membawanya ke dalam pelukannya.
"Hiks, maaf..," lirih Anette dinsela isakannya.
"Ssssttt, mungkin memang belum waktunya sayang. Tidak masalah," ucap Juno berusaha menenangkan Anette.
"Tapi impian kamu punya anak banyak, hiks se-sedangkan satu pun aku belum bisa memberikannya untukmu," ucap Anette.
"Bagiku anak adalah bonus kepercayaan dari Tuhan. Kita harus berusaha meyakinkan Tuhan kalau kita layak menjadi orang tua. Jika belum di kasih, berarti kita belum pantas dan harus memperbaiki diri." Juno mengusap-usap punggung Anette.
"Aku menikahimu karena ingin sehidup semati bersamamu," lanjutnya.
Juno melepaskan pelukannya. Ia berjalan menuju lemari dan kembali membawa celana dalam. Tanpa merasa risih atau pun jijik, Juno membantu Anette membersihkan area pribadinya. Ia juga memasangkan pembalut pada celana dalam milik Anette dan membatu memakaikannya pada istrinya tersebut.
Setelah itu, Juno menggendong Anette seperti koala keluar dari kamar mandi. Ia membaringkan tubuh mungil tersebut dengan hati-hati di atas ranjang. Juno ikut berbaring di sebelah Anette dan memeluknya.
Tangan Juno mengusap-usap pinggang Anette. Ia tahu jika setiap datang bulan Anette akan merasa kesakitan di bagian sana.
"Mas," itulah panggilan Anette untuk Juno setahun belakangan ini.
"Iya?" Tanya Juno.
"Kalau aku benar-benar tidak bisa hamil, apa kamu akan tetap mempertahankan aku?" Tanya Anette.
"Tentu saja! Kamu akan selamanya menjadi istri dari Juno Orlando."
Tangan Anette bertengger di atas bibir Juno. Di usapnya bibir merah muda yang sering memberinya ciuman hangat dan mngeluarkan kata-kata manis tersebut.
Anette memajukan kepalanya untuk mengecup singkat bibir Juno. Juno menatap wajah Anette dengan lekat sebelum memajukan wajahnya, membuat bibi mereka kembali menyatu.
"Aku sangat mencintaimu," ucap Juno.
Hujan deras di luar sana seakan mendukung aktivitas keduanya. Biarlah mereka menciptakan sedikit kehangatan. Siapa tahu tetesan hujan di luar sana ikut mengamini harapan keduanya.
...
Hari ini Anette diajak oleh Monnie dan Gia untuk berbelanja di mall. Sebelumnya Anette menolaknya dengan serentetan alasan. Namun pada akhirnya kedua wanita tersebut berhasil menbujuk istri dari sahabat mereka itu.
Dengan gaya hidup hedonismenya, Gia dan Monnie telah membeli beberapa barang branded seperti tas, baji, sampai pakaian dalam. Sedangkan Anette, ia hanya membeli sebuah hoodie over size berwarna hijau army.
Mereka berakhir di sebuah restauran yang menyajikan hidangan steak sebagai menu utamanya. Di sela makan, pandangan Anette tertuju pada seorang laki-laki yang sangat ia kenali berjalan memasuki restauran bersama seorang wanita hamil.
Juno..
Laki-laki itu tidak menyadari keberadaan Anette.
"Sayang babynya nendang-nendang, sepertinya dia bahagia keinginannya akan terpenuhi," ucap si wanita hamil dengan yang dapat di dengar oleh Anette, termasuk Monnie dan Gia.
Anette bangkit dari duduknya menghampi kedua manusia berbeda jenis tersebut. Kehadiran Anette yang berdiri di depan meja membuat Juno membelalakan matanya kaget.
"A-An, sedang apa kamu di sini?" Tanya Juno tergagap panik.
"Jahat kamu!" Ucap Anette pelan sebelum berlari keluar dari restauran.
Juno beranjak dari duduknya untuk mengejar Anette.
"Juno! Juno..!" Panggil si wanita hamil tersebut berusaha menahan Juno namun gagal. Ia nampak sangat kesal.
...
Terimakasih atas suportnya wahai manusia-manusia.