
"Kenapa?" tanya kakek.
"Karena kakek sudah tua" ucapan Hito pun membuat kakek tertawa terbahak-bahak "kakekmu Ini masih berumur 40 tahun, kamu saja masih kecil bilang kakek sudah tua."
Bik Ija pun masuk ke kamar kakek, ia mendengar percakapan aneh itu pun hanya tersenyum dan segera memberikan selimut yang baru untuk kakek "Kakek ini selimut yang barunya, selimut yang lamanya masih belum kering."
"Tidak apa letakan saja" tunjuk kakek sehingga Bik Ija pun meletakkannya
"Oh iya untuk Hito lebih baik masuk ke kamar biarkan kakek istirahat" mendengar ucapan Bik Ija pun Hito menggangguk dan segera berdiri hendak pergi dari kamar kakek namun Kakek pun menolak "tidak Ija, biarkanlah cucu ke sayangan ku ini menemaniku tidur malam ini" mendengar itu pun Hito kaget.
"Tidur dengan kakek, bukannya kakek ini lagi sakit bisa-bisa aku tidak akan bisa tidur di sini" ucap Hito dalam hatinya. Hito pun berusaha menolak "tidak usah kek, aku bisa tidur sendiri ke kamar ku."
"Kamu tega sekali menolak keinginan kakek" mendengar jawaban itu Hito pun terkulas dan segera menggulingkan tubuhnya ke sebelah kakek.
"Hadeh, niatnya mau maen game tapi malah jagain kakek. Ini pasti kualat sama ibu" celoteh Hito dalam hatinya langsung menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kaki sampai kepala.
Lira yang saat itu kesal sampai di rumah membuat semua orang takut untuk menatapnya, semua pelayan pun tidak ada yang berani mendekati dirinya yang sedang emosian sehingga ia pun segera berteriak "sial, sial, sial, Kenapa makan malam hari ini gagal dan kenapa aku selalu gagal untuk mendekati wanita itu. Sial membuat ku sangat kesal, aku harus mencari kelemahannya agar dia mau bersama denganku. Aku baru pertama kali ditolak oleh seorang wanita, dasar aku tidak berguna. Hiara kamu membuat aku menjadi semakin bersemangat untuk mendapatkan kamu karena kamu orang yang pertama sekali menolak aku."
Aku yang membaringkan tubuhku di ranjang membuat ku menarik nafas lega "hari yang melelahkan, semoga besok tidak seperti ini" celoteh ku sambil memejamkan mata tertidur.
Di kediaman Dokter Nando mengomeli Jaya yang mulutnya tidak bisa di ajak di bicara, Jaya yang mendengar omelan itu segera menutupnya dengan bantal.
"Heiiii mau kemana?" Dokter Nando menahan kunci mobil itu.
"Papa telpon ada gawat, jadi sekarang harus operasi 20 menit lagi" Jawab Jaya.
"Hari ini aku maafkan, tapi besok aku akan mengomeli kamu 24 jam" tunjuk Dokter Nando, Jaya hanya menelan air ludah mengangguk kepalanya.
Jaya yang saat itu tiba di rumah sakit segera di tarik oleh seseorang membuat dirinya kaget "Heiiii apaan ini" teriak Jaya saat menunjukkan jarinya ke orang tersebut langsung menurunkannya.
"Pa pa, kenapa?"
"Papa sengaja suruh kamu kesini."
"Apa?" profesor pun membisikkan sesuatu kepada Jaya sehingga membuat Jaya tersenyum lebar.
Mereka berdua pun TOS bersamaan, Dokter Teguh yang kebetulan lewat kaget melihat teriakan mereka ke senangan.
"Kenapa dengan mereka, tapi terserah deh mending di sini dari pada di rumah tadi Lidia teriak-teriak melulu mikirin rencana kotornya ngajak-ngajak. Gue punya rencana sendiri jadi tidak perlu mengajak wanita gagal seperti itu" celoteh Dokter Teguh berjalan masuk ke rumah sakit.