Oplas

Oplas
bab 54



"Hei aku memang sudah merubah kamu Lidia tetapi kamu belum sempurna."


"Apa maksud dokter?" kesal Lidia.


"Kamu itu masih banyak cacatnya dan kalau aku harus merubah kamu lagi maka aku harus membutuhkan biaya yang ekstra, sedangkan kamu tidak punya uang untuk membayar semua itu. Jadi bagaimana aku bisa membantu kamu jadi sempurna dan bagaimana orang-orang sekitar bisa percaya" ucapan dokter yang panjang itu membuat Lidia emosi.


"Jadi maksud dokter aku ini jelek dari pada si oplas itu" tunjuk Lidia.


"Jarak kamu dan Ara itu berbeda, 75% kamu dan 98% itu dia. Jadi tidak bisa dipungkiri."


"Apa dia setinggi itu dokter."


"Iya."


"Pokoknya aku akan tinggal di sini bersama dokter, dokter harus membantu aku. Aku akan bekerja lagi ke dunia industri entertainment dan mencari uang sebanyak-banyaknya, aku akan kasih semuanya sama dokter. Dokter harus mau membantu aku dan mau menampung aku di sini, pokoknya aku akan tinggal di sini" Lidia pun langsung pergi berjalan masuk ke rumah dokter.


Dokter yang kaget saat itu pun berteriak "Lidia, Lidia berhenti."


Lidia pun langsung mencari kamar kosong dan mengunci pintu kamar itu langsung serta membaringkan tubuhnya di sana.


Dokter Teguh pun langsung duduk di atas kursi "masalah apa lagi sih ini" teriaknya kesal.


Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, aku yang saat itu masih di dalam ruangan pun menyenderkan tubuhku di kursi "hari ini luar biasa, tubuhku benar-benar sakit untuk memilih karyawan sebanyak ini benar-benar menguras waktu sampai sore hari" celoteh ku sambil memegang telpon untuk menelpon Nindi.


Nindi pun segera masuk ke dalam ruangan ku "hari ini aku akan pulang dan kamu lanjutkan pekerjaan kamu, besok tolong atur jadwal meeting ku bersama siapa saja dan ingat kamu boleh pulang di saat waktunya pulang" ucap Hiara.


"Baik bu" jawab Nindi kepadaku, aku pun mengambil tas ku dan segera pergi dari ruangan itu.


Saat di luar pun aku segera masuk ke dalam mobil bersama dengan sopirku untuk menuju rumah.


Di rumah sakit dokter Nando yang saat itu selesai bekerja keluar dari rumah sakit bersama dengan Jaya, Dokter Nando pun melihat Dokter Teguh dalam keadaan lesu sehingga dokter menghampiri Dokter Teguh "ngapain kayak orang banyak masalah aja, dari tadi murung" mendengar celotehan Dokter Nando itu pun segera menjawab "bukan urusan kamu, mendingan kamu urus aja tuh pasien-pasien kamu sana" kesel dokter Teguh sambil berjalan pergi meninggalkan dokter Nando.


Jaya pun mendekati "itu kenapa Kak" tunjuk Jaya.


"Nggak tahu sepertinya punya beban hidup yang berat" mereka pun tertawa setelah bersama meledeki dokter Teguh.


Aku yang saat itu sampai di rumah pun melihat kondisi rumah yang sangat sepi "Ibu ke mana?" ucapku sambil melihat di sekeliling rumah, saat aku melihat ke arah taman mereka semua berkumpul di sana ayah, ibu, Feri dan kakek.


Saat itu ayah menoleh ke arah ku sehingga dengan terpaksa aku menghampiri mereka bersama di sana "Kalian ngapain disini? tanya ku.


"Ini ayah mau mempersiapkan untuk pembukaan rumah makan kita, di sini Ayah kompromi bersama kakek, Ibu dan Feri bagaimana ini. Kan kamu tahu kalau Feri ini jurusan bisnis jadi dia pasti paham masalah seperti ini" mendengar ucapan Ayah pun aku terdiam.


"Pergi ke mana?" tanya Ibu.


"Ke suatu tempat, udah deh aku mau istirahat" aku pun meninggalkan mereka.


Waktu sudah menunjukkan pukul pukul 7 malam, aku yang saat itu berganti baju dan berdandan sangat cantik segera keluar dari kamar. Saat aku turun dari tangga semua mata tertuju padaku "wahhhhh anak ibu cantik banget" puji Ibu kepadaku.


Melihat aku yang cantik seperti itu Feri pun tidak memejamkan matanya sedikit pun, Meri segera mendekati aku bersama dengan Mama mertua "mau kemana cantik banget malam hari ini."


"Mau pergi ke acara rumah sakitnya dokter" ucapku kepada mereka.


"Ya udah kalau gitu Feri yang akan antar kamu" ucap mama kepadaku, saat itu aku hanya tersenyum.


Sedangkan Feri tidak berkata apapun karena sudah aku tolak pagi tadi, ibu yang mendengar ocehan mama pun segera berteriak "helloooo anakku itu nggak perlu sopir kayak anak kamu, anak itu ada sopir sendiri. Kenapa kamu repot-repot nyuruh anak kamu nyupirin anakku."


"Hei tadi kamu perlu dengan anak ku untuk bisnis rumah makan kamu, sekarang kamu malah ngatain anakku" sehingga membuat Ibu pun tidak bisa berkata apa-apa.


"Kak Feri mau nganterin kakak Hiara, lihat lohh Kak Hiara cantik banget ya kan Kak" ucap Meri, Feri pun menjawab "iya dari dulu Hiara memang cantik."


"Bagaimana, kamu mau ya kan" bujuk mama, namun tiba-tiba suara dari dekat pintu "tidakkkk, Hiara tidak boleh pergi sama siapa pun karena. Hiara malam ini akan pergi bersamaku, akulah yang akan menjadi sopir pribadi Hiara secara langsung" mendengar ucapan dokter Nando itu semua mata tertuju dan terdiam.


"Wah, wah ada mantu nih" teriak ibu sambil mendekati Dokter Nando.


"Kamu tampan sekali malam ini, kamu lihat mantu anakku cantik kan" ibu langsung menarik tangan dokter untuk mendekati aku.


Melihat aku pun dokter pun terdiam dalam hatinya "wowwww, ini benar-benar cantik seperti bidadari. Tapi tunggu dulu aku tidak boleh tersenyum kepada Hiara nanti dia GR lagi."


"Hem iya" ucap dokter.


"Ya udah sekarang kalian berdua boleh pergi, mau pulang malam atau tidak pulang sekalipun tidak apa-apa yang penting kalian berdua "ucap Ibu menarik mereka pergi segera keluar ke rumah.


Ayah yang saat itu pun mengikuti kami dari belakang "ayah aku pamit pergi ya" ucap ku.


"Iya hati-hati dan ingat Dokter Nando jaga anakku baik-baik, ucapan yang di katakan ibumu enggak usah di dengar. Dia kalau bicara itu asal-asalan, kalian harus pulang awas kalau tidak pulang" ancam ayah kepada dokter, kami pun hanya tersenyum mendengar ucapan Ayah itu.


"Tenang saja Om, saya tidak mungkin tidak mengembalikan anak Om" jawab dokter Nando "permisi Om pergi" kami pun segera pergi.


Di suatu tempat itu Meri dan mama beserta Feri yang mengintip dari kaca jendela melihat kepergian kami "kapan dokter itu masuknya, rencana kita gagal" kesal mama.


"Entah ma enggak tahu juga, dia kayak hantu tiba-tiba datang. Gimana ini mah susah banget sih deketin Kakak sama Kak Hiara" celoteh Meri