
Keesokannya
Aku yang sudah siap pergi bersama dokter sebagai Ramca ke acara tersebut, sesampai di sana aku di dandani dengan sangat cantik dan menggunakan baju yang sangat mewah.
Aku bercermin di depan kaca melihat apa yang ada di depan mataku "wah cantik sekali makeup artis profesional" sambil membetulkan rambutku.
Feri yang melihat aku segera berjalan mendekati "cantik sekali" ucapnya pelan.
Aku berdiri di sampingnya "secantik apa?"
"Secantik bidadari" ucap Feri memegang tanganku dan saat Feri hendak mencium tanganku Dokter datang.
"Bos di panggil" bohong dokter sambil menunjuk ke arah sana.
Feri pun meninggalkan kami dan dokter menghampiri aku sambil tersenyum, aku mencubit perut dokter "Akhhhh" teriaknya hampir bergerak serta menabrak seseorang sampai topi orang itu terlepas.
"Maaf" ucap dokter memberikan topi itu, orang tersebut langsung menggunakan topinya dan pergi.
"Sepertinya aku pernah lihat" celoteh dokter sambil memperhatikan orang tersebut.
"Jangan suka bohong, nanti di pecat loh" ledekku.
"Peduli amat" ucapnya namun Bram datang menghampiri kami "Hiara ayo ini giliran kamu, siap" ucap Feri sambil melakukan tos kepadaku.
"Siap" teriakku.
Aku pergi ke atas panggung bernyanyi bersama-sama dengan artis lain dengan penuh bahagia dengan para fans dan penonton yang begitu banyak, dokter yang lagi asik melihat aku bernyanyi di hampiri Feri "kamu siap kostum untuk berikut" perintahnya.
"Sepertinya dia mau balas dendam karena sudah aku bohongi" celoteh dokter dan tanpa sengaja saat berjalan ke ruang kostum dokter melihat laki-laki itu berbicara bersama Lidia.
"Ngapain mereka sembunyi, jangan-jangan ada rencana jahat lagi" tanpa sadar dokter teringat kejadian malam tadi. Dokter membuka seluruh cctv rumahnya melihat sosok laki-laki yang masuk ke dalam mengambil map yang berisi riwayat seluruh pasien yang melakukan oplas kepadanya.
Dokter pun terdiam melihat Laki-laki itu sangat mirip dengan CCTV semalam serta mengingat wanita yang dia tabrak di kafe "ahhhh sial, sebenarnya mereka berdua memang pelakunya. Benar laki-laki itu dia dan wanita itu Lidia, kenapa aku tidak menyadari itu" dokter pun berjalan pelan-pelan mendengar percakapan mereka.
Mereka sudah menyiapkan rencana selesai Ara tampil, tapi rencana itu tidak di pahami oleh dokter.
Dengan sigap dokter berjalan mengitari panggung melihat apa yang akan terjadi di panggung selesai Ara, Dokter melihat layar di belakang Ara sensornya bertahap bergoyang seolah akan berubah gambar "itu dia" dokter berlari ke ruang siaran secepat mungkin saat jari orang tersebut ingin menekan tombol enter dokter menggenggam tangan itu menahannya.
Orang itu melihat ke arah dokter ketakutan, dokter segera menghajarnya habis-habisan sampai wik palsu yang dia gunakan terlepas semua, Lidia yang tersenyum tidak sabar menyaksikan kejadian itu merasa kesal "kemana dia, harusnya foto itu sudah di lihat kan" celoteh Lidia menutup dirinya dengan jaket dan topi.
"Aku harus lihat, kerja tidak becus" kesal Lidia berjalan masuk ke ruangan melihat wik palsu yang terjatuh di lantai segera mengambilnya, serta Lidia melihat orang suruhannya wajahnya memar dan melihat Dokter Nando dengan ekpresi kesal.
"Aku sudah tau rencana jahat kalian" dokter pun menggenggam tangan Lidia.
"Ayo ikut aku" Lidia segera menginjakkan kakinya ke kaki dokter Nando hingga genggaman itu terlepas.
Aku yang saat itu asik bernyanyi tetap fokus pada nyanyi ku apalagi ayah, ibu dan Hito berada di tempat itu. Walaupun ibu mengomel pada ayah tapi ibu menikmati lagu-lagu ku.
Lidia yang saat itu berlari ke arah komputer jarinya mengklik sesuatu yang ada di komputer itu hingga layar belakang panggung yang aku nyanyikan berubah menjadi gambar kupu-kupu yang sangat indah, dokter pun segera menarik ke dua tangan Lidia "cepat ikut aku, kamu akan aku lapor ke kantor polisi sudah mencuri berkas ku" kesal dokter.
"Lepas, aku ngak mau. Aku mau menghancurkan wanita itu" teriak Lidia mendorong tubuhnya ke arah tubuh dokter hingga mereka terjatuh
Aku yang sudah selesai bernyanyi itu memberikan rasa terimakasih pada semua penonton yang hadir, pembawa acara mulai menanyakan aku dengan sesi tanya jawab.
Lidia yang saat itu berusaha berdiri ke komputer lagi berhasil mengklik komputer sehingga keluar lah foto ku yang lama dan foto ku yang sekarang, aku yang menoleh ke belakang sangat kaget sehingga pembawa acara menanyakan kepada ku maksud dari foto itu. Apa itu aku atau bukan, dokter yang bangun pada saat itu langsung berlari keluar "sial wanita jahat itu ingin menghancurkan segalanya" ucap dokter berlari menuju ke arah ku.
Ayah dan ibu yang melihat kaget "sayang apa maksud foto itu, kenapa foto anak kita ada di sana" tunjuk ibu.
"Diam, kita lihat saja" jawab ayah sambil meneteskan air mata seolah anaknya akan terluka hari ini.
Feri berjalan mendekati Bram "apa ini" marah Feri.
"Saya tidak tahu pak, tunggu saya telpon dulu" Bram segera menelpon.
"Di ruangan ada Lidia sedang bertengkar dengan laki-laki tadi" ucap Bram.
"Sial, apa yang di inginkan wanita itu" Feri berjalan mendekati ke arah ku di susul oleh Dokter dan Lidia.
"Maaf, sepertinya acara untuk tanya jawab kita hentikan dulu" ucap Feri langsung kepada para pembawa acara.
Aku hanya diam mematung melihat wajah-wajah di hadapanku, Feri memegang tanganku untuk mengajak pergi namun Lidia menghentikan itu dia berjalan ke arah kami dan melepaskan pegangan itu Lidia segera mengambil mic dari tangan pembawa acara itu untuk berbicara.
"Kalian semua pasti penasaran kan dengan foto di belakang" teriak Lidia, sehingga penonton yang tadinya diam segera berteriak "Iyaaaa" membuat Lidia tersenyum puas sambil tertawa.
"Tapi saya tidak berhak membicarakan itu karena yang berhak adalah orang nya langsung artis pendatang baru kita" ucap Lidia berjalan ke arahku tepat berdiri di sampingku.
Aku yang melihat Lidia dengan tatapan tajam "Kalau dia berani menghancurkan aku hari ini maka aku akan menjadi monster untuk dirinya, iya itu yang di katakan dokter padaku" ucapku dalam hati sambil menatap ke arahnya.
"Ayo Ara cerita kan, apa itu dulu wajah kamu dan apa benar kamu melakukan operasi plastik sehingga cantik seperti ini" pertanyaan Lidia itu membuat penonton berteriak "jawab, jawab, jawab" sedangkan ayah berjalan ingin mendekati aku tapi di hadang oleh keamanan yang membuat dia susah melangkahkan kakinya ke arahku.
Mendengar teriakan itu aku menarik nafas dalam dan menghembuskan sambil memegang mic berkata "Iya itu aku" sehingga semua penonton menyoraki aku.