Oplas

Oplas
bab 75



"Wanita norak ini, aku itu tidak makan sembarangan yah. Aku itu makan makanan yang bergizi dan kebetulan aku lagi pengen sekali makan masakan Hiara jadi kamu kenapa harus marah-marah ya, Hiara aja nggak marah-marah" jawabnya.


"Hei kamu itu menyuruh anakku yang jelas-jelas menolak, tapi kamu tetap memaksa. Hiara sekarang kamu masuk ke kamar dan tidur biar ibu yang akan hadapi mama kamu ini" ucap Ibu sehingga aku pun pergi meninggalkan mereka.


Kakek yang saat itu sedang istirahat terganggu dengan keramaian antara ibu dan mama di dalam rumah, yang tidak selesai bertengkar pun mengambil tongkatnya bicara mendekati ke arah mereka. Sehingga memukul kaki mereka berdua, mereka pun berteriak "aduh, aduh, sakit, sakit, sakit ahhhh."


"Kalian berdua itu kenapa harus bertengkar seperti ini, harusnya kalian berdua itu istirahat karena sudah malam hari" oceh kakek.


"Maaf ini gara-gara wanita ini nih, tuh buat kesal" tunjuk mama kepada ibu.


"Kesel apaan sih, ini semua gara-gara Kamu tahu nggak. Maksa-maksa anak kesayangan ku Hiara untuk masak, sedangkan dia itu perlu istirahat. Terus siapa yang tidak marah, pasti semuanya marah di paksa-paksa" jawab ibu.


"Tidak usah dengar ucapan wanita ini pa, aku itu minta tolong dengan Hiara bukan menyuruhnya dengan memaksa. Kalau dia tidak mau ya sudah."


"Hei tadi kamu itu mau maksa jadi tidak perlu lah kamu baik-baik seperti itu" mendengar jawaban mereka bertengkar lagi.


Hito yang saat itu pun keluar dari kamarnya saat mendengar pertengkaran pun segera mendekati kakek "kek kalau mereka masih bertengkar dan tidak nurut sama kakek mendingan kakek usir saja mereka berdua dari rumah Kakek ini, dari pada ganggu waktu istirahat kakek. Malam hari kan waktunya tidur bukan waktunya bertengkar" ucap Hito itu sehingga membuat Ibu pun emosi.


"Diammm, yang dibilang cucu ke sayangan ku itu benar kalau kalian berdua masih ribut di dalam rumah ini aku akan mengusir kalian berdua dari sini. Sekarang lebih baik kalian masuk ke kamar masing-masing" Ibu pun berjalan masuk ke kamar dan disusul juga sama mama yang berjalan masuk karena tidak ingin bertengkar.


Melihat itu pun Hito tersenyum senang, Meri pun segera mendekati kakek "apa, apaan ini kakek tidak perlu menurut apa yang di ucapkan bocil ini. Mendingan bocil ini saja dan keluarganya yang kakek usir" mendengar ucapan Meri itu pun kakek langsung memukul kaki Meri dengan tongkat.


"Aduh, kakek sakit" Hito pun tertawa melihat tingkah laku kakek memukulinya.


"Kamu berani mengusir keluarga ku dari rumah ku, lebih baik aku usir kamu dari pada mengusir cucu ke sayangan ku" omelnya ke pada Meri.


"Apa, penyakit kakek lagi kambuh yah. Kesayangan kakek itu Meri dan Kak Feri bukan anak ini" tunjuk Meri kepada Hito.


"Hei kamu itu siapa sih bicara sembarangan, dia ini cucu kesayangan ku Feri. Mendingan kamu pergi dari sini, dari hadapan ku sebelum aku pukul kamu dengan tongkat ini lagi" mendengar kakek yang marah itu pun Meri dengan kesal pergi.


Hito yang saat itu tertawa melihat penyakit pikunnya kakek, sehingga segera mengajak kakek masuk ke kamar "Kakek itu tidak usah marah-marah dengan wanita-wanita di rumah ini, lebih baik kakek banyak istighfar."