
Semua berubah sehingga takdir menyatukan Feri dan Hiara menjadi sepasang suami-istri dengan surat perjanjian Feri tidak boleh menyakiti Hiara karena seluruh harta kakek akan beralih tangan ke Hiara.
Feri pun menyetujui itu karena Feri yakin tidak akan menyakiti Hiara sebab Feri sudah punya segalanya dari kecerdasan, ketampanan dan ke sungguhan yang membuat Feri menjadi seorang sutradara terbaik di sini.
Tapi Lidia yang selalu merayunya membuat Feri menjadi laki-laki yang nafsu sehingga berani menikahi Lidia secara sirih dan diam-diam serta tidak pernah nafsu melihat Hiara yang berpostur besar itu, di tambah lagi Feri selalu mendengar perkataan orang yang mengatakan istrinya itu gemuk, jelek, gajah, ikan buntal dan lainnya.
Di penjara Feri hanya menangis "maaf" celotehan itu yang keluar dari mulutnya sepanjang hari.
Aku masuk ke dalam kamarku melihat-lihat perubahan yang ada di dalamnya, aku membuka seluruh isi lemari yang di penuhi oleh baju Feri "Baju ku sudah tidak ada yah" celoteh ku saat melihat satu buah koper di dalam lemari itu.
Aku mengambil koper itu meletakkannya di atas ranjang, saat membuka itu aku melihat seluruh baju ku dahulu yang sering aku gunakan.
"Ini baju kesayangan ku pemberian ayah" namun pintu kamar ku di buka oleh Hito yang berlari menghampiri aku "Kak ada yang datang mencari kakak" ucapnya menarik tanganku.
"Siapa?"
"Properti."
"Okey, kamu duluan kakak mau merapikan baju-baju ini" Hito segera pergi meninggalkan aku.
Aku yang keluar langsung menghampiri mereka "bagaimana Bu" tanya salah satu dari karyawan tersebut.
"Sesuai dengan perintah ku, ubah seluruh kamar sesuai dengan keinginan keluarga ku."
"Baik" mereka segera masuk ke kamar memulai pekerjaannya sesuai perintah ku.
Meri yang melihat itu segera menghampiri aku "Kak, kamarku sudah di ambil oleh orang tua kakak sekarang kakak mau mengubah seluruhnya. Itu kamar sesuai dengan keinginanku" kesal Meri sambil menunjuk-nunjuk ke arah ku.
Aku tersenyum puas "ajarkan jari telunjuk kamu itu untuk tidak menunjuk orang sembarangan, aku bukan Hiara yang dulu dan di sini aku yang berkuasa sama seperti kalian dahulu yang selalu berusaha merendahkan aku" ucapan ku itu menusuk hati Meri sehingga Meri tidak berani sedikit pun mengeluarkan kata sedikit pun, dengan kesal Meri pergi meninggalkan aku.
"Bik Ija" panggilku pada pembantu yang sudah menyiapkan minuman di atas meja untuk para karyawan yang bekerja di rumah.
"Ada apa non" tanyanya.
"Siapkan makanan sesuai dengan selera ibu dan ayah, kamu tanya ibu dan ayah mau makan apa" jawabku.
"Baik non" Bik Ija dengan wajah tersenyum pergi meninggalkan aku.
Bibik yang masuk ke kamar ibu dan ayah menanyakan sesuai dengan perintah ku, namun ibu segera menariknya mengajaknya duduk di kursi.
"Bik kamu jangan kerja berat-berat, kamu itu kan dari dulu orang yang membantu dan menyayangi anakku" ucap ibu.
Bik Ija hanya tersenyum "makasih bu, tugas saya bekerja melayani majikan saya agar bahagia. Saya menyayangi non Hiara karena dia orangnya baik" ucap Bik Ija membuat ibu tersenyum senang.
"Anakku itu memang yang terbaik bik, dia bisa gemuk seperti gajah itu dulu karena ayahnya selalu memberikannya makanan dari rumah makan Padang sehingga dia tidak memikirkan tubuhnya tapi bagaimana pun kondisinya dia anak yang baik tidak akan mengecewakan keluarganya."
Tiba malam hari kami semua berada di meja makan untuk makan bersama, aku mengambil nasi untuk kakek, ayah dan papa mertua ku.
"Kamu cucu terbaik" ucap kakek yang membuat Meri melihat itu kesal.
Dengan tidak sabar ibu dan Hito mengambil makan dengan banyak "Dikit banget" celoteh ibu menggunakan sendok dan garpu bahkan ibu meletakkan sendok dan garpu itu menggunakan tangannya untuk makan.
"Hei jaga sikap, jangan rakus" bisik ayah melihat ibu yang makan dengan lahap.
"Biarkan saja, ini kan rumah putriku jadi suka-suka aku" teriak ibu.
Kakek, aku dan papa mertua tertawa melihat ibu yang marah-marah "hei kalau di rumah orang kaya itu makan harus bersih dan rapi, jangan di biasakan cara kampungan di bawa kemari" celoteh mama mertua.
Ibu yang mendengar ocehan mama mertua itu kesal dan mengambil lauk yang ada di meja mama mertua sehingga dia kaget "kamu kan tidak mau makan dengan cara kampungan, jadi makan sedikit saja" ucap ibu.
Mama yang saat itu hendak marah di tahan oleh papa mertua "jangan cari keributan" bisiknya sehingga mama menahan emosinya itu.
Saat hendak mengambil daging yang tersisa satu lagi di depan mereka mama mengulurkan tangannya namun dengan sigap ibu mengambil makanan itu dan mengunyahnya, ibu tersenyum sambil menoleh ke arah mama.
Mama yang sudah tidak tahan lagi itu berdiri menghentikan makanannya "duduk" ucap kakek.
"Tapi pa."
"Duduk, sudah tradisi kita tidak boleh pergi kalau makanannya belum habis" ucapan kakek itu membuat mama duduk lagi dan segera makan makanannya.
Meri pun melihat ke arah Hito yang menikmati makanannya dengan lahap, Hito yang menoleh saat di lihat oleh Meri pun tersenyum "Kakak mau" ucap Hito memberikan makanan di tangannya.
"Ihhh jorok, mana mungkin aku mau makan dari tangan mu" celoteh Meri.
"Ya udah, kalau kakak ngak mau ngak usah lihat-lihat orang makan donk. Makan itu di nikmati bukan di lihati, aneh deh kakak kayak ngak pernah lihat orang makan" celoteh Hito sambil mengunyah.
Melihat itu aku pun tersenyum dan tidak khawatir apa yang akan di lakukan Meri dan mama mertua kepada keluarga ku karena keluarga ku akan lebih pandai menghadapi mereka berdua "udah Hito makan aja, kalau kurang nanti di tambahin" ucapku.
Selesai makan Santi dan Sinta membawa puding di atas meja makan "wah pencuci mulut ena itu k banget neh" ucap ibu dalam hatinya.
Saat itu aku memberikan puding kepada kakek, papa dan ayah untuk memakannya, Ibu dan Hito saat itu melihat ke arah mama mertua dan Meri.
"Aku harus ambil duluan sebelum manusia norak itu ambil lagi makanan tu" ucap mama mertua.
Saat Hito mengambil satu puding tinggal sisa 2 puding lagi, mama mertua yang ingin mengambil dengan cepat di dahulukan oleh ibu dengan gesit mengambil 2 puding. Satu di makannya dan satu di pegangnya sambil mengunyah tertawa.
Mama yang melihat itu kesal langsung berdiri meninggalkan meja makannya di susul oleh Meri yang mengikutinya dari belakang.