Oplas

Oplas
Ipar



Anette berjalan memasuki lift khusus menuju lantai 40 dimana ruangan Keanu berada. Saat pintu lift akan tertutup tiba-tiba ada sebuah tangan menyelinap hingga kotak besi tersebut kembali terbuka. Sesosok laki-laki tampan dengan santainya masuk ke dalam lift.


Dia Keanu.


"Siang An," sapanya pada Anette.


"Siang pak," Anette sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Maaf aku lupa memberi tahumu, tadi aku ada sedikit urusan. Makananku pasti sudah dingin ya?" Tanya Keanu dengan suara seraknya.


"Iya, maaf pak, biat nanti saya ganti."


"Tak apa, ini salahku. Lagi pula aku sedang tidak nafsu makan."


Pintu lif terbuka, mereka sudah sampai.


Saat berjalan bersisian Anette mengamati wajah Keanu yang terlihat pucat. Apakah boss-nya tersebut sedang sakit?


"Maaf pak, apa bapak sedang sakit?" Tanya Anette.


Keanu tersenyum, "aku tidak apa-apa, hanya sedikit tidak enak badan."


"Tapi bapak wajah bapak pucat."


"Tak apa An."


Namun baru saja memasuki ruangan kebesarannya, Keanu memegangi kepalanya yang terasa sangat pening. Pandangannya seakan berputar dan menjadi hitam putih. Hingga akhirnya tak sadarkan diri, tubuh Keanu limbung ke lantai .


"Pak Keanu!" Panggil Anette panik.


Anette segera menopang kepala Keanu di pahanya. Ia menepuk-nepuk pelan pipi boss-nya tersebut namun tak kunjung respon.


"Pak, Pak Keanu," panggilnya.


Anette merogoh ponselnya lalu untuk menelfon Pak Robi. Ruangan ini kedap suara, Pak Robi tidak akan bisa mendengar suara teriakannya.


"Hallo An, ada apa?" Tanyanya di seberang sana.


"Tolong pak, Pak Keanu pingsan."


"Baiklah tunggu."


Pintu terbuka dan muncul lah Pak Robi. Mereka segera membawa Keanu menuju rumah sakit.


Keanu telah ditangani dokter. Saat ini ia masih belum juga bangun dari pingsannya. Sedari tadi pun Anette masih setia menunggu boss-nya tersebut di sisi brankar.


Tadi Anette sudah memberi tahu Juno soal keadaan sang kakak. Tadi laki-laki tersebut bilang jika ia akan segera ke rumah sakit.


Tanpa maksud lancang, dengan ragu Anette mengulurkan tangannya untuk mengusap kening Keanu yang berkeringat. Suhu tubuhnya masih panas.


Dokter bilang Keanu sangat kelelahan dan harus istirahat total seminggu penuh. Keanu memang sangat gila kerja. Maka dari itu betapa kagetnya Anette saat kemarin Keanu mengajaknya ke taman bermain, mungkin karena itu juga lah ia kelelahan.


Mata Anette terbelalak saat Keanu tiba-tiba menggenggam tangannya dan membawanya ke dada. Mata laki-laki tersebut perlahan terbuka.


"An," panggil Keanu.


"Iya kak aku di sini."


"Haus."


"Sebentar ya kak."


Anette melepas lembut genggaman tangan keanu lalu menuang segelas air yang tersedia di ruangan tersebut. Dengan telaten Anette membantu Keanu untuk minum.


"Dokter bilang Kak Keanu kelelahan dan harus istirahat total selama seminggu," ucap Anette.


Keanu menghela nafasnya, "huft, baiklah."


Keanu meraih kembali tangan Anette, "kau harus menemaniku di sini."


Sungguh, jantung Anette berdebar tidak karuan. Ada apa dengan jantungnya? apa ia mengidap penyakit jantung di usianya yang masih muda ini?


Anette berusaha menutupi kegugupannya dengan tersenyum. "Tentu, aku kan asisten Kak Keanu."


"Kakak makan ya, kakak kan belum makan dari pagi."


"Aku tidak nafsu makan An, lidahku pahit."


"Sedikit.. saja ya, biar aku suapi," ucap Anette berusaha membujuk.


"Baiklah, hufft kau seperti ibuku saja," cibir Keanu membuat Anette terkekeh geli.


Anette mengambil semangkuk bubur di atas nakas, "aaa."


Keanu memakan buburnya. Keningnya mengernyit tidak nyaman karena mulutnya yang terasa pahit. Namun berkat kemampuan Anette yang dapat membujuknya seperti yang biasa dilakukan ibunya membuat semangkuk bubur tersebut habis tidak tersisa.


"Maaf kak," ucap Anette sebelum mengusap sudut bibir Keanu dengan tissu.


Sudut bibir Keanu tertarik melihat wajah Anette.


"Terimakasih," ucap Keanu.


Anette tersenyum.


'CEKLEK'


Juno datang memasuki kamar inap VVIP tersebut dengan sebungkus makanan di tangannya.


"Hi An, sebaiknya kau makan dulu," Juno menyerahkan sebungkus makanan tersebut pada Anette.


"Cepat makan, jangan sampai kau sakit seperti dia," pandangan Juno mengarah pada Keanu.


"Baiklah."


Anette menuju sofa untuk memakan makanannya. Juno membuntuti gadis tersebut.


"Hey, kau ke seni untuk menjengukku bukan?" Ucap Keanu.


"Jangan percaya diri. Kau sudah besar, jadi untuk apa aku mengkhawatirkanmu."


"Dasar adik menyebalkan," cibir Keanu.


...


Dipagi harinya Anette kembali datang ke rumah sakit. Setelah mengetuk pintu Anette memasuki ruang rawat Keanu. Ternyata di dalam sana sudah ada Juno dan sepasang suami isteri paruh baya yang tak lain adalah orang tua Keanu.


Meski belum pernah bertemu langsung dengan sepasang suami isteri tersebut, Anette dapat mengenali wajah mereka karena fotonya yang terpajang di ruangan Keanu.


"Selamat pagi tuan, nyonya," sapa Anette seraya sedikit membungkkukkan tubuhnya.


"Selamat pagi, kau asisten Keanu bukan?" Tanya Wanita paruh baya tersebut.


"Iya nyonya."


Wanita paruh baya tersebut mengulurkan tangannya yang langsunh disambut baik oleh Anette.


"Kenalkan, namaku Jeon Hara dan dia Demian, suamiku."


"Namaku Anette nyonya."


Hara mengusap punggung Anette, "kau tampak masih sangat muda nak."


"Umurku 19 tahun nyonya," ucap Anette dengan polosnya.


Ucapan Anette membuat Hara menatap Keanu penuh tanya. Bagaimana bisa seorang gadis muda seperti Anette dapat lolos menjadi asisten pribadi Keanu sedangkan selama ini anaknya tersebut selalu menolak wanita-wanita cantik lulusan universitas ternama sebagai asistennya.


"Anette cukup cerdas mom, kinerjanya juga bagus," ucap Keanu membanggakan Anette.


Hara tersenyum. "Iya, momy yakin kok kamu tidqk akan sembarang milih orang." Hara kembali menatap Anette, "sebaiknya kamu memanggilku momy saja ya nak, rasanya seperti siapa saja aku dipanggil nyonya," ucap Hara merendah.


"Baik momy," balas Anette.


"Begitu pun denganku, panggil saja aku papa," tambah Demian seraya tersenyum.


"Baik papa."


"Serasa punya adik baru," cibir Juno paada kedua orang tuanya.


"Hahaha Kenapa, bukan kah kau ingin sekali punya adik?" Balas Demian


"Itu dulu pa."


"Sini An," Keanu menepuk sisi brankarnya mengisyaratkan Anette agar duduk di sisinya. Anette pun menurutinya.


"Tapi kalau Anette jadi kakak ipar kau mau kan?" Tanya Keanu menggoda sang adik.


"Sepertinya dia lebih cocok jadi adik iparmu," balas Juno tak kalah sengit.


Dalam hati Anette sedang memberilan peringatan untuk dirinya sendiri, Jangan terbawa perasaan An, mereka hanya bercanda.


Pipi Anette bersemu merah, ia tak tahu harus berbuat apa. Walau sesungguhnya Anette tahu jika kakak beradik tersebut hanya bermain-main saja.


"Sudah-sudah, ayo Juno antrar momy dan papa pulang," ucap Hara.


"Tapi mom-"


"Sudah ayo, biarkan Anette yang menemani kakakmu istirahat," sela Demian.


"Huh, baik Pa."


Juno menatap tajam Keanu yang sedang tersenyum licik di tempatnya. Ia dapat melihat ancungan jari tengah dari kakaknya tersebut. Hal tersebut membuat yang lain terkekeh melihatnya.


Juno dan kedua orang tuanya pun pergi meninggalkan ruangan VVIP tersebut.


"Apa sudah lebih membaik?" Tanya Anette.


Keanu tersenyum, "hanya sedikit pusing."


Anette membalas senyuman boss-nya tersebut.


"An, apa sebelumnya sudah ada yang menembakmu?" Tanya Keanu.


"Nembak?"


"Haha aku lupa jika kau masih polos. Maksudku, apa sudah ada laki-laki yang menginginkanmu sebagai kelasih?" Jelas Keanu.


Anette menggeleng cepat. Membuat kepolosan gadis tersebut sangat kentara.


Keanu tersenyum lega. Satu tangannya yang terbebas dari infus menggenggam tangan Anette.


"Aku tahu ini tidak romantis dengan keadaanku yang seperti ini. An, aku menyukaimu. Jadilah kekasihku," ucap Keanu.


...


Aku halu..