
Pagi ini Juno disambut oleh pemandangan indah yang masih bersembunyi dalam dekapannya. Juno sedikit merenggangkan pelukannya untuk memperhatikan wajah polos Anette yang mesih terlelap. Ditelusurinya wajah gadis itu menggunakan jari telunjuknya.
Saat SMA wajah itu terlihat aneh. Kulit pada sebagian wajahnya mengkriput seperti bekas luka bakar yang ditangani dengan tidak maksimal. Tapi sekarang wajah tersebut seakan balik keasalnya, seperti sebelah wajahnya yang memang baik-baik saja. Sangat cantik.
Juno tidak munafik, ia memang terpanah melihat wajah cantik Anette. Tapi bukan berarti hanya karena wajah tersebut membuatnya jatuh hati. Juno bukan laki-laki berpengalaman yang dapat dengan mudah dekat dengan perempuan. Ia tidak menyukai perempuan-perempuan yang selama ini memuja dan mengejarnya seperti dewa. Makannya hanya Monnie dan Gia wanita yang dapat berteman dengan Juno. Karena kedua wanita tersebut menganggapnya seperti manusia biasa.
Selain Monnie dan Gia, akhirnya Juno kembali menemukan Anette. Gadis biasa yang sepertinya dulu terlihat tidak menyukainya. Bersama Anettelah untuk pertamakalinya Juno merasakan yang namanya jatuh cinta sekaligus patah hati.
...
Wilona sedang mengetik kata demi kata yang terangkai menjadi sebuah cerita di laptopnya. Itulah yang biasa ia lakukan ketika memiliki waktu kosong seperti sekarang. Sebelum menikah, Wilona telah berhenti dari pekerjaannya sebagai manager keuangan di salah satu perusahaan besar di Tokyo, Jepang. Memang berat, karena ia telah merintis kariernya dari nol sampai benar-benar bisa sesukses ini.
Wilona menulis perjalanan kisah cintanya bersama Keanu. Mereka berpacaran sejak masih menduduki bangku SMA, namun saat lulus Wilona terpaksa mengikuti kedua orang tuanya yang harus pindah ke Jepang karena alasan pekerjaan. Selama berpisah, tidak ada kata putus diantara mereka. Maka dari itu Wilona memberanikan diri untuk menghubungi Keanu, betapa senangnya Wilona saat mengetahui jika nomor laki-laki itu masih aktif.
Semasa SMA hubungan mereka tidak diketahui siapa pun. Keanu bilang ia tidak ingin hubungan mereka menjadi konsumsi publik karena keduanya sama-sama murid populer di sekolah, mau pun di luar sekolah.
Bisa dikatakan hubungan mereka saat itu sudah melewati batas. Mereka sering melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Hanya dengan Keanu lah Wilona melakukannya. Maka dari itu hatinya sangat sakit ketika Keanu menuduhnya yang tidak-tida.
Sebelum menikah Wilona memang wanita yang suka pergi ke tempat hiburan malam. Tapi di sana ia hanya sebatas menghibur diri. Hidupnya terlalu sepi dan monoton sebelum kembali bertemu dengan Keanu.
"Aku kecewa Kee, mengapa kamu tega menuduhku seperti itu?" Lirih Wilona.
"Aku memang bukan wanita baik-baik. Tapi aku tidak sekotor yang kamu pikirkan."
Lagi-lagi air matanya kembali berjatuhan. Di tengah tangisnya, tiba-tiba ada sebuah e-mail masuk dari seseorang yang selama ini ia bayar untuk menyelidiki Keanu sejak sebelum pertemuan mereka. Saat itu Wilona sedang sibuk hingga tak sempat meminta hasil mata-matanya tersebut.
E-mail tersebut berisi foto-foto Keanu bersama dirinya? Ah tidak, itu bukan dirinya. Orang yang mirip dengan dirinya hanya Anette, kekasih Juno. Apa mereka sempat memiliki suatu hubungan?
Di sana tertera beberapa potret Keanu yang sedang makan di sebuah restauran, foto mereka di sebuah taman bermain, dan yang paling membuatnya terkejut adalah foto mereka yang sedang berpelukan di dalam mobil Keanu. Wilona membekap mulutnya tidak percaya. Tangisnya kembali pecah.
"K-kau menghianatiku..," lirih Wilona.
...
Wilona memasuki kantor Keanu. Banyak yang menyapanya sejak memasuki loby kantor. Wilona memberanikan dirinya untuk membuka pintu ruangan Keanu setelah mengetuknya. Di dalam sana Keanu sedang fokus dengan dokumen di tangannya.
Wilona duduk di kursi depan Keanu. Laki-laki tersebut tidak menyadarinya.
"Kee," panggil Wilona membuat Keanu tersadar akan keberadaannya.
"E-hi," balas Keanu sedikit terkejut.
Tanpa basa basi lagi Wilona menunjukan foto-foto semalam dari ponselnya. Keanu terkejut melihatnya.
"Bisa jelaskan sesuatu?" Ucap Wilona datar. Ia sedang menahan rasa sesak di hatinya.
"Dari mana kamu mendapatkannya?" Ucap Keanu balik bertanya.
"Itu bukan urusanmu! Cepat jelaskan Kee!" Seru Wilona tak sabaran.
Keanu memainkan pulpen di tangannya. "Aku sempat berkencan dengannya. Saat kamu tiba-tiba kembali, aku meyakinkan diriku bahwa ketertarikanku pada Anette hanya karena kemiripan kalian. Namun nyatanya aku benar-benar jatuh hati padanya," jelas Keanu.
"Lalu mengapa kau menikahiku?"
"Karena kau hamil."
"Kee, jika kamu merasa terbebani dengan pernikahan ini, lebih baik kita selesaikan saja," ucap Wilona berusaha tegar.
"Lalu bagaimana dengan kandunganmu?" Tanya Keanu.
Wilona tersenyum penuh luka, "kamu tidak yakin ini anakmu bukan?"
Keanu hanya diam.
"Kalau begitu aku pamit," Wilona beranjak berdiri. Namun baru saja melangkah ia kembali menoleh.
"Aku tunggu keputusanmu," ucapnya sebelum benar-benar pergi.
Sesampainya di mobil Wilona menumpahkan tangisnya. Hatinya benar-benar terasa hancur berkeping-keping. Jika sudah seperti ini ia tidak bisa berbuat apa-apa, tidak mungkin Wilona memaksakan kehendaknya agar Keanu tetap berada di sisinya.
...
"Sayang makasih ya kadonya," ucap Juno pada Anette di sisinya.
"Sama-sama, maaf aku cuma bisa ngasih pematik gitar itu," Anette merasa tak enak.
"Aku bisa membeli apa pun yang aku mau, tapi kamu tahu apa yang aku butuhkan," ucap Juno untuk msnghibur hati Anette.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju mall. Juno berencana untuk membeli gitar baru untuk menambah koleksinya. Padahal di apartemennya sudah banyak gitar yang terpajang di dinding kamar dan ruang TV. Laki-laki itu bilang ia meminpikan sebuah studio musik sendiri suatu saat nanti, tentu saja dengan jerih payahnya sendiri.
Sesampainya di mall mereka langsung menuju toko alat musik. Ia mencoba beberapa gitar sebelum akhirnya membeli sebuah gitar akustik berukuran sedang berwarna hitam.
"Kita mau kemana lagi?" Tanya Juno sambil merangkul Anette.
Mereka berjalan beriringan keluar dari toko musik.
Anette tersenyum lebar, "kalau makan aja gimana?"
Juno mencubit pipi Anette, "ayo."
Saat melewati ruko baby shop, mereka mendengar suara rintihan kesakitan serta teriakan panik dari dalam sana. Karena penasaran Anette meninggalkan Juno memasuki toko tersebut. Juno mengikuti langkah Anette.
Ternyata di dalam sana ada seorang wanita yang sedang tersungkur sambil memegang perutnya kesakitan, sepertinya wanita tersebut sedang hamil.
"Ada apa ya mbak?" Tanya Anette pada penjaga toko.
"Ibu ini sedang hamil dan perutnya kram. Dia susah untuk bergerak, kami sulit untuk mengefakuasinya," jelas si penjaga toko.
Anette mendekati wanita yang sedang kesakitan tersebut.
"Loh Kak Wilona!" Ucap Anette terkejut. Anette menoleh pada Juno. "Juno ayo bantu!" Ucap Anette yang sudah panik.
Juno mengangkat tubuh Wilona dengan hati-hati. Mereka berjalan keluar dari toko dikawal oleh security.
"Tahan ya kak, kita akan ke rumah sakit," ucap Anette pada Wilona.
"Sakit An..," lirih Wilona kesakitan. Bahkan wajahnya telah memucat.
Sesampainya di rumah sakit mereka menunggu di depan pintu UGD. Di dalam sana Wilona sedang ditangani oleh dokter. Juno mengotak-atik ponselnya dengan kesal.
"Kamu sudah menghubungi kak Keanu?" Tanya Anette pada Juno.
"Dari tadi tidak diangkat, tapi aku sudah mengirimkannya pesan," jawab Juno.
Anette terlihat masih shok dan panik. Juno meraih Anette ke dalam pelukannya.
"Kak Wilona akan baik-baik saja kan Jun?"
"Tentu saja, dia pasti kuat," balas Juno berusaha menenangkan sang kekasih.
...
Wilona sudah ditempatkan di kamar rawat VIP. Keadaannya benar-benar mengenaskan. Tubuh kurusnya terbaring lemah di atas brankar dengan tangan terinfus.
Sampai malam ini belum ada kabar dari Keanu. Di ruangannya saat ini Wilona hanya ditemani oleh Juno dan Anette. Tadi Hara dan Demian sudah menjenguknya.
Anette yang duduk di sisi brankar mengusap-usap lengan Wilona.
"Dokter bilang Kak Wilona kurang asupan makan dan stress berat. Untung saja tadi kakak cepat ditangani dokter," ucap Anette penuh rasa khawatir.
"Terimaksih ya An, Juno. Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika tidak ada kalian di sana," ucap Wilona dengan suara paraunya.
"Lain kali kakak jangan pergi sendirian, bahaya kalau terjadi apa-apa," ucap Anette mengingatkan.
Wilona terkekeh, "hahaha iya An."
"Gimana Juno, sudah ada kabar dari Kak Keanu?" Tanya Anette.
"Belum, ponselnya masih tidak aktif," jawab Juno.
"Kita menginap di sini saja ya, kamu tidak keberatan kan?" Tanya Juno seraya mengusap kepala Anette.
Anette tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginga yang tertata rapih, "tentu saja."
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Keanu masuk dengan nafas terengah-engah. Penampilannya sudah berantakan dengan lengan kemeja yang sudah digulung ke Atas.
"Kau dia baik-baik saja?" Tanya Keanu yang terlihat khawatir.
Wilona tertegun melihatnha. Apa Keanu benar-benar mengkhawatirkannya?
"Ya, dia baik-baik saja," ucap Wilona.
Walau masih meragukan anak dalam kandungan Wilona, Keanu tetap menaruh sedikit perhatian pada janin tersebut. Ya, hanya pada sang jabang bayi. Tidak untuk Wilona.
Juno memberi kode pada Anette mengajaknya untuk keluar dari ruangan tersebut. Mereka berdua keluar dari ruangan tanpa berpamitan.
Sepeninggalan Juno dan Anette, Keanu kembali memasangbwajah datarnya.
"Mengapa bisa kau seceroboh ini, hmm?" Keanu mencengkram wajah Wilona dengan kasar. "Gara-gara kau momy memarahiku untuk pertama kalinya. Puas kau!" Bentaknya.
Mata Wilona berkaca-kaca.
"Apa, mau menagis? Cih, selalu menggunakan air mata sebagai senjata!" Bentak Keanu saat air mata Wilona sudah mengalir bebas.
"Asshhh sakit Kee," ringis Wilona kesakitan.
"Mengurus diri sendiri saja kau tidak becus! Menyusahkan!" Makinya lagi.
"Maaf..," lirih Wilona.
Keanu melepaskan cengkramannya dengan kasar.
"Setelah mempertimbangkan ucapanmu tiga hari yang lalu, aku sudah membuat keputusan untuk menceraikanmu. Surat perceraian kita akan segera diproses," ucap Keanu.
"Kau tenang saja, aku akan tetap memberikan warisan untuk anak tidak jelas dalam kandunganmu itu."
Ucapan Keanu benar-benar menghancurkan hatinya Wilona sebagai seorang ibu.
"Pergi kau," ucap Wilona pelan. "Pergi!" Ucapnya lagi namun kali ini dengan berteriak.
"Baiklah mantan istriku," ucap Keanu mengejek Wilona sebelum keluar dari ruangan.
"Biarkan mereka menyelesaikan urusan rumah tangganya An," ucap Juno berusaha menahan Anette yang ingin masuk ke dalam.
"Tapi ucapan Kak Keanu sangat keterlaluan Juno, keadaan Kak Wilona sedang lemah!"
Anette dan Juno terkejut melihat Keanu keluar dari ruang rawat Wilona dengan wajah datar. Laki-laki tersebut melewati keduanya begitu saja.
Dengan cepat Anette kembali masuk ke dalam ruangan. Di sana Wilona sedang terdudhk sambil menangis. Anette segera menghampiri Wilona dan memeluknya. Tidak bermaksud ikut campur, ini hanya sebuah bentuk simpati sebagai sesama perempuan.
"Hiks, dia akan menceraikan aku," ucap Wilona dalam isakannya.
"Sstttt, tenangkan diri kakak. Aku yakin kakak kuat," ucap Wilona berusaha menenangkan.
Anette benar-benar tidak menyangka Keanu bisa melakukan hal sejahat ini.
Setelah lama menangis akhirnya Wilona bisa tertidur setelah meminum obat dari dokter. Anette tidak tega melihat wajah sembab wanita yang sangat mirip dengan dirinya tersebut.
Juno dan Anette berbaring di sofa yang sama. Juno memeluk tubuh Anette untuk menjaga agar tidak terjatuh.
"Jangan terlalu dipikirkan. Aku tidak ingin kamu terbawa stress." Juno mengusap kerutan pada kening Anette.
"Kamu tidak akan seperti itu kan?" Tanya Anette khawatir.
"Tentu saja, aku bukan pecundang seperti ******** itu."
"Janji?" Anette menyodorkan jari kelingkingnya.
Juno terkekeh lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Anette. Sama-sama jari kelingking namu dengan ukuran yang berbeda.
"Janji," balas Juno seraya mengecup puncak kepala Anette.
Mereka mulai terlelap dalam mimpi masing-masing.
...
Setelah tiga hari dirawat Wilona sudah bisa pulang. Karena khawatir Anette menawarkan Wilona agar tinggal di rumahnya, lebih tepatnya memaksa. Akhirnya Wilona menyetujuinya, ia membawa barang-barang seperlunya dari apartemennya.
Rachel menyambut senang kehadiran Wilona. Walau awalnya beliau sempat terkejut lantaran wajah Wilona sangat mirip dengan putri sematawayangnya. Anette membantu Wilona menata baju-bajunya di lemari.
"Ibumu sangat baik. Oh ya, di mana ayahmu, apa beliau juga mengizinkanku tinggal di sini?" Tanya Wilona.
Anette menampilkan senyumnya. "Atahku sudah lama meninggal Kak."
"Maaf."
Anette menggeleng. "Tidak apa-apa."
"An ayo ajak Wilona makan!" Teriak Rachel dari arah dapur.
"Buna sudah berkumandang, ayo kak," ajak Anette menggandeng tangan Wilona menuju meja makan.
"Maaf ya nak, buna cuma masak seadanya," ucao Rachel tak enak hati.
"Ah tidak tante, justru aku yang merepotkan," balas Wilona.
"Panggil buna saja. Kau sama sekali tidak merepotkan, justru buna senang karena rumah ini terasa ramai. Anette kan jarang berada di rumah," ucap Rachel.
Anette membantu mengambilkan lauk untuk Wilona.
"Ayo yang banyak makannya. Kau lagi hamil bukan?" Tanya Rachel.
"Iya buna, jalan tiga bulan," jawab Wilona.
Mereka melanjutkan makan dalam diam. Dalam hati Wilona mengucap syukur. Sudah lama sekali ia tidak merasakan kebersamaan seperti ini. Orang tuanya sangat mengikuti culture Jepang yang ambius dalam bekerja walaupun usianya sudah tak muda lagi.
Di rumah sederhana ini, Wilona jauh lebih merasa bahagia dibandingan apartemen mewahnya yang sesalu sepi.
...
Di hari Minggu pagi ini Anette mengajak Wilona untuk berjalan santai di taman kota yang letaknya dekat dari rumahnya. Dokter bilang hal tersebut bagus untuk kehamilan.
"Hamil itu rasanya kayak gimana kak?" Tanya Anette dengan exited.
"Setiap ibu hamil berbeda-beda, kalau aku selama tiga bulan ini lumayan nguras tenaga karena mual-mual. Bisa nelen air putih saja sudah bersyukur. Tapi dibalik itu semua aku ngerasa kebahagian yang sulit diungkapkan dengan kata-kata."
Wilona menoleh pada Anette. "Kenapa, kamu mau hamil juga?" Tanya Wilona menggoda Anette.
"Issh kak, nikah saja belum. Tapi.. rasanya setiap ngeliat wanita hamil, aku terbawa bahagia, tidak tahu kenapa," ucap Anette.
Wilona tertawa, "tanda-tanda keibuan tuh biasanya."
Tiba-tiba Anette merasakan rangkulan di punggungya. Ia menoleh dan mendapati Juno yang ikut berjalan di sampingnya.
"Loh kamu di sini juga," ucap Anette.
Juno merenggangkan tubuhnya. "Iya nih, sudah lama aku gak olahhraga."
Anette terkekeh, "jauh banget olahraga sampai ke sini segala."
Juno memajukan bibirnya. "Tadi aku ke rumah kamu mau ajak kamu olahraga bareng, eh taunya kamu sudah pergi duluan," ucap sedikit Juno merajuk.
"Hahaha maaf, lagian gak bilang-bilang si," Anette menepuk punggung Juno. "Sudah sana lari, aku menemani Kak Wilona saja."
"Ya sudah, dah.." Juno pun mulai berlari peegi mengitari taman kota.
"Kalian lucu sekali," ucap Wilona sambil terkekeh geli.
"Lebih tepatnya dia menyebalkan," timpal Anette.
Dua anak kecil berlari berkejaran melewati Anette dan Wilona.
"An, boleh aku menanyakan sesuatu?" Tanya Wilona.
"Tanya apa kak?"
"Emm bagaimana perasaanmu pada Keanu saat ini?" Tanya Wilona yang membuat Anette terkejut.
"Kakak sudah mengetahuinya?"
Wilona mwngangguk. Raut kesesihan sangat nampak di wajahnya.
"Aku sudah tidak mempunyai perasaan apa pun padanya," jelas Anette.
"Benarkah?"
Anette mengangguk seraya tersenyum.
"Awalnya aku sangat kecewa pada Kak Keanu karena hanya menjadikanku pelarian. Ia menyukaiku karena kemiripan kita kak. Aku memutuskannya, aku tidak ingin menjadi orang ketiga di antara kalian." Anette menyibak anak rambutnya ke belakang telinga.
"Hubunganku dengan Juno sempat putus karena rasa sakit yang masih ku pendam. Tapi pada akhirnya Juno berhasil meyakinkanku. Saat ini aku sudah benar-benar iklas," lanjut Anette.
Wilona terlihat menundukan kepalanya. "An, Keanu masih mencintaimu," lirih Wilona.
"Kak, Kak Keanu tidak pernah mencintaiku. Dia hanya-"
"Dia mencintaimu An, itu yang dia katakan padaku!" Potong Wilona membuat orang-orang di sekitarnya menoleh padanya.
Anette terkejut mendengarnya. Ia menuntun Wilona agar duduk di bangku taman yang sedikit sepi.
"Dia baru menyadari perasaannya. Dia akan menceraikanku..," lirih Wilona dengan bahu bergetar.
Anette mengusap bahu Wilona. Berusaha menenangkannya. Efek hormon kehamilan membuat Wilona sulit mengendalikan emosinya yang selalu berubah-ubah seorang bipolar.
"Kak, perasaanku padanya sudah mati. Maaf jika keberadaanku menjadi penghalang dalam hubungan kalian. Sungguh aku tidak bermaksud," ucap Anette berusaha meyakinkan Wilona.
Wilona meraih tangan Anette dan menggenggamnya.
"Kamu gadis baik-baik, dan kamu cantik. Wajar saja jika banyak yang menyukaimu," ucap Wilona dalam isakannya.
Anette menggeleng. "Tidak kak, wajah yang kakak lihat saat ini palsu. Aku melakukan operasi plastik. Aku palsu kak..."
Wilona terkejut mendengarnya.
...
Ternyata yang cantik dari lahir pun belum tentu bahagia.