Oplas

Oplas
Tidak Terduga



"Aku tahu ini tidak romantis dengan keadaanku yang seperti ini. An, aku menyukaimu. Jadilah kekasihku," ucap Keanu.


Anette tertawa hambar, "Kak Keanu lucu, sebaiknya kakak instirahat supaya cepat sembuh."


Tangan Anette membenarkan letak selimut Keanu.


"Aku serius An, jadilah kekasihku."


Anette membalas tatapan Keanu. Apakah kali ini Keanu benar-benar serius dengan ucapannya, atau hanya sedang bergurau semata?


"Dua bulan mengenalmu membuatku menyukaimu An. Demi Tuhan, aku benar-benar menyukaimu," ucap Keanu berusaha meyakinkan Anette.


"Tapi An berbeda dari Kak keanu, kita tidak sebanding. Aku yakin Kak Keanu bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari An."


Keanu mengecup telapak tangan Anette.


"Yang lebih baik memang banyak, tapi yang aku inginkan cukup kamu An. Berkatmu aku serasa kembali hidup, tidak seperti dulu."


"An takut Kak Keanu hanya bermain-main saja," Anette menundukkan wajahnya.


Keanu mengangkat dagu Anette agar menatapnya. Tatapan lelaki tersebut menjadi lebih serius pada gadis tersebut, "akan kubuktikan jika aku tidak bermain-main."


"Mulai saat ini kau kekasihku."


..


Di apartemennya, Juno sedang menyelesaikan rancangan suatu bangunan di laptopnya. Rancangan tersebut merupakan rancangan rumah impiannya jika suatu saat dirinya menikah. Rencananya dalam waktu dekat ini Juno akan merealisasikannya dari hasil menabungnya selama ini.


Juno menutup laptopnya dan meletakannya di atas meja nakas. Laki-laki itu membaringkan tubuhnya di ranjang dengan kedua tangannya yang dijadikan sebagai bantalan.


Karena merasa bosan akhirnya Juno membuka aplikasi instagram di ponselnya. Jujur saja Juno bukan tipe laki-laki narsis yang suka memamerkan wajah maupun harta di aplikasi tersebut. Isi feeds-nya pun hanya berisi foto-foto hasil jepretannya yang semuanya bertema hitam putih.


Juno menscroll  seluruh postingan dari teman-temannya tanpa melihatnya. Hingga tanpa sengaja ia merefresh postingan dan muncullah sebuah foto yang diunggah dari akun Keanu.


Foto tersebut berisi tangan mungil seorang perempuan yang Keanu genggam menggunakan tangannya yang masih terpasang infus.


Kita baru saja memulainya. Dengan ini, aku menyatakan bahwa gengaman ini takkan kulepas. Kau milikku.


Seperti itulah isi caption pada postingan tersebut.


Jantung Juno seakan berhenti berdetak saat menyadari jika tangan yang kakaknya genggam itu merupakan tangan Anette.


"Jadi mereka resmi berkencan?" Juno tertawa hambar.


..


Tidak terasa sudah seminggu Keanu diopname di rumah sakit. Hari ini ia sudah diperbolehkan untuk pulang.


Keanu ditemani Anette memasuki mansion pribadinya. Bangunan tersebut benar-benar besar, membuat Anette teringat akan rumahnya ketika kecil dulu. Gadis tersebut tersenyum kagum dengan mata meneliti setiap sudut rumah.


"Kau suka?" Tanya Keanu.


"Mansionmu sangat bagus dan rapi?" Ucap Anette memuji.


"Mau room tour bersamaku?"


Keanu mengulurkan tangannya pada Anette yang lagsung disambut baik oleh kekasihnya tersebut. Keduanya saling tersenyum seiring tangan yang saling menggenggam.


Mereka mulai mendatangi satu persatu ruangan di lantai satu. Di sana terdapat tiga kamar tamu ukuran besar, lima kamar mandi, sebuah bar dengan berbagai macam jenis minuman yang terpajang di rak khusus, dan terakhir dapur. Merena naik ke lantai dua menggunakan lift. Di lantai dua terdapat ruangan fitnes, perpustakaan, dan ruang teater. Di lantai tiga hanya terdapat tiga kamar tidur ukuran besar.


"Ayo An, kamarku ada di lantai empat."


Keanu menuntun Anette ke lantai empat. Tempat tersebut merupakan lantai khusus yang hanya bisa dimasuki Keanu menggunakan sidik jarinya.


Anette menatap kagum dengan apa yang ada di hapannya saat ini. Di sana terdapat sebuah mini bar, sofa santai, dan dua buah ruangan yang salah satunya mungkin kamar Keanu. Desain interiornya begitu memukau di mata Anette.


"Ayo, kutunjukkan kamarku."


Keanu menggandeng Anette memasuki kamarnya. Lagi-lagi Anette dibuat terpukau dengan kamar laki-laki itu. Seperti sebuah hotel dengan segala funiture yang tertata rapi di tempatnya. Sangat berbeda dengan kamar Juno yang selalu berantakan. Bayangkan saja, bahkan Anette pernah menemukan celana dalam segitiga milik laki-laki itu terjepit diantara laptop yang tertutup. Entahlah apa yang sebenarnya Juno lakukan.


Eh- mengapa aku jadi membandingkan mereka, pikir Anette.


"Gimana, kau suka?" Tanya Keanu.


"Tentu, bahkan kamarmu lebih rapi dari kamarku yang seorang perempuan haha."


"Aku tidak suka berantakan, mataku sakit jika melihatnya," balas Keanu.


Keanu menggiring Anette menuju sofa yang letaknya berada di dekat jendela besar yang tirainya terbuka lebar hingga menampilkan pemandangan halaman belakang yang cukup luas. Mereka duduk bersisian.


"Sebaiknya Kak Keanu istirahat. Kakak kan baru keluar dari rumah sakit," ucap Anette memberikan saran.


"Ya Tuhan, An aku sudah bosan berbaring selama seminggu kemarin," ucap keanu merengek pada Anette.


Anette tidak bisa menahan tawanya.


Keanu mengelitiki pinggang Anette membuat sang empunya menggelinjang kegelian dan berusaha terlepas dari tangan keanu.


"Hahaha kak lepas, haha sudah-sudah aku menyerah saja."


Anette bersimpuh di lantai saat Keanu melepaskan kelitikannya. Nafasnya terengah-engah.


"Kak Keanu nyebelin!"


...


Siang ini Anette kembali masuk kantor mendampingi Keanu. Seperti pasangan yang sedang kasmaran pada umumnya, keduanya akan lengket seperti kertas yang diberi lem tikus. Namun keduanya akan tetap bersikap formal jika bertemu karyawan lain maupun kolega bisnis.


Seperti saat ini, keduanya sedang melakukan meeting di sebuah restaurant mewah. Secara diam-diam Keanu menggenggam tangan Anette di balik meja dan bertukar senyum.


Tiba-tiba ponsel Anette berdering. Dengan sopan Anette meminta izin pada Keanu untuk mengangkat telfon.


Ternyata Juno yang memanggilnya.


"Hi An," sapa Juno di seberang sana.


"Ada apa Juno?"


"Sepulang kerja kau harus ke apartemenku."


"Tapi Jun-"


"Tidak ada tapi-tapian!"


'TUT.. TUT..'


Panggilan tersebut terputus.


Dengan susah payah Anette merayu Keanu agar kekasihnya tersebut tidak mengantarnya pulang. Tidak tahu apa jadinya jika Keanu mengetahui jika kekasihnya berada di rumah adiknya sendiri.


Anette menekan bel walau sebenarnya ia sudah Juno sudah memberi tahu pasword unit apatemennya tersebut. Tidak sopan rasanya memasuki hunian yang bukan miliknya tanpa izin.


Anette memasuki apartemen setelah sang empunya membukakan pintu. Tanpa bicara lagi gadis itu mulai membersihkan bungkusan-bungkusan makanan ringan yang berserakan dimana-mana.


"An, ada yang ingim aku bicarakan," ucap Juno dengan nada serius.


"Membicarakan apa?" Tanya Anette tanpa menghentikan aktivitasnya.


Secara tiba-tiba Juno menarik tangan Anette agar menghadapnya. Laki-laki tersebut menatap Anette serius dengan alis menyatu.


"Apa kau benar-benar menerima Kak Keanu?"


"I-iya," jawab Anette gugup.


"An, apa kau pernah berpikir apa reaksi Kak Keanu jika mengetahui masa lalumu?"


Anette menggeleng, "jika kau tidak memberitahunya dia tidak akan tahu."


Juno terkekeh meremehkan, "ternyata kau tidak sepintar seperti yang selalu kakakku banggakan."


Juno semakin mendekati Anette lalu mengusap sisi wajah gadis tersebut.


Anette hanya bisa diam tak berkutik atas sikap mengintimidasi Juno.


"Dia bukan orang bodoh An, pasti saat ini ia sedang menyuruh orang kepercayaannya untuk mengumpulkan data tentangmu. Cepat atau lambat ia pasti menhetahuinya."


Pandangan Anette menjadi kosong. Benar kata Juno, cepat atau lambat Keanu pasti akan mengetahui rahasia besarnya tersebut. Ya Tuhan! Mengapa Anette menjadi bodoh seperti ini?!


"Kenapa, menyesal huh?" Tanya Juno mengejek.


"A-aku menyukainya Juno," lirih Anette.


"Lepaskan dia segera, sebelum kau merasakan sakitnya!" Tuntut Juno.


Anette menggeleng pelan dengan mata berkaca-kaca. Ini pertama kalinya dirinya berpacaran. Haruskah Anette mengakhiri hubungan yang baru terjalin beberapa hari tersebut.


"Sepertinya kau sangat keberatan. Memangnya sudah apa saja yang kau berikan padanya, apa dia sudah melakukan-,"


Anette menampar keras pipi Juno. Dengan air mata yang mengalir, Anette berlari meninggalkan apartemen tersebut.


Juno menatap kosong kepergihan Anette. Sedangkan di sisi lain, Anette bersandar di lift sambil memeluk tasnya disertai isak tangis.


"Hiks, ja-hat," lirih Anette.


...


Jomblo dari lahir hanya bisa ngelus dada.