
Setelah hampir 19 tahun Anette hidup di dunia, akhirnya ia merasakan apa itu patah hati. Semalam Anette benar-benar meluapkan tangisnya hingga tertidur dengan sendirinya. Alahasil pagi ini Anette terbangun tengan mata sembab yang terlihat cukup mengerikan.
Anette sedang berusaha menyamarkan mata sembabnya dengan make up walaupun itu terlihat sia-sia. Gadis itu menatap pantulan dirinya di depan cermin.
Video yang Juno tunjukan semalam benar-benar membuat Hati Anette sepeti ditusuk ribuan belati. Bagaimana tidak, video yang diambil dari jarak jauh itu menampilkan Keanu yang sedang bercumbu dengan seorang wanita di dalam mobil. Anette mengenali wanita itu, dia adalah gadis yang ada di buku diary milik Kranu. Wilona.
Di kantor Anette berusaha bersikap sebiasa mungkin pada Keanu. Ia tetap menyiapkan bubur ayam kesukaan laki-laki itu. Anette juga tetap membenarkan letak dasi Keanu seperti biasanya.
Begitu pun dengan Keanu. Bahkan laki-laki itu tetap menggoda Anette dengan kata-kata dan perlakuan romantisnya. Seperti saat ini, setelah menghabiskan sarapannya Keanu menarik tubuh agar duduk di pangkuannya.
"Sepertinya nafsu makanmu bertambah," goda Keanu pada Anette.
"Benar sekali, sekarang aku lebih berisi bukan?" Anette mengalungkan tangannya pada leher Keanu.
Keanu tertawa, "siapa bilang, sepertinya makanan yang kau makan hanya dicerna oleh pipimu yang chuby ini." Keanu menjepit gemas kedua pipi Anette nenggunakan telapak tangannya, membuat kedua pipi dan bibir gadis tersebut mengembul keluar seperti ingin tumpah.
Keanu mengernyitkan matanya, ia baru menyadari mata sembab kekasinya tersebut. Ibu jarinya menyentuh kantung mata Anette.
"Apa kau habis menangis?" Tanya Keanu khawatir.
Anette tersenyum dan mengangguk.
"Semalam aku habis menyelesaikan episode terakhir dari drama series yang kutonton," ucap Anette berbohong.
"Oh ya? Memang apa yang terjadi di akhir episodenya?" Tanya Keanu.
"Pada akhirnya si wanita harus merelakan si pria yang merupakan kekasihnya untuk kembali pada wanita masa lalunya. Ternyata pria tersebut menyukainya hanya karena wajahnya yang mirip dengan wanita masa lalunya tersebut," jelas Anette sambil menatap Keanu penuh luka.
Keanu merasa tersindir, ia menaruh curiga pada cerita Anette. Apakah gadis tersebut sudah mengetahui sesuatu tentang dirinya?
Keanu memang sepeka itu. Keanu kembali menatap Anette dengan lekat.
"An, apa kau mengetahui sesuatu?" Tanya Keanu.
Anette terdiam sejenak, setelah menghela nafas gadis tersebut mengangguk pelan.
"Apa saja?" Tanya Keanu.
"Wanita masa lalumu dan alasan kau memilihku," lihih Anette.
"Awalnya aku tidak sengaja menemui buku diary kakak di rak buku saat sedang merapikannya. Setelah melihat isinya aku berpikir mungkin itu hanya masa lalu kakak, t-tapi setelah mendapatkan kiriman video kakak yang sedang berciuman dengan seorang wanita yang sama dengan yang di buku membuatku semakin yakin kalau kakak hanya menjadikanku sebagai pelarian karena wajah kami yang sama," jelas Anette berusaha mengungkapkan isi hatinya.
Mata Anette berkaca-kaca.
"An aku bisa jelaskan semuanya," ucap Keanu.
"Itu yang aku inginkan," balas Anette.
Keanu menggenggam kedua tangan Anette dan menatapnya penuh sesal.
"Aku meminta maaf An. Sungguh! Aku tidak ada niatan untuk menyakitimu. Maaf, aku terlalu tertarik pada segala kesamaanmu dengan Wilona. Aku ********."
keanu mengeratkan genggamannya pada Anette yang mulai meneteskan air mata.
"Aku tidak ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian." Anette meggelengkan kepalanya. "Ayo selesaikan hubungan ini," pinta Anette dengan lirih.
Keanu menakup wajah Anette membuat kening mereka saling menyatu.
"Berbahagialah dengan orang yang tepat An," bisik Keanu sebelum mencium kening Anette sebagai sebagai salam perpisahan.
...
Sepulang kerja Anette dijemput oleh Juno atas kemauan laki-laki tersebut. Di sepanjang perjalanan keduanya tak ada yang membuka suara.
Anette tidak bisa menahan tangisnya, ia menangis dalam diam sambil membuang wajahnya ke jendela di sampingnya. Sedangkan Juno, laki-laki itu sedang mati-matian menahan dirinya untuk tidak memeluk Anette.
Juno membawa Anette ke apartemennya. Sesampainya di parkiran basement Juno tidak langsung keluar dari mobilnya. Ia memperhatikan gadis di sampingnya yang ternyata telah tertidur pulas.
Karena tidak tega membangunkan Anette yang sepertinya sedang kelelahan, akhirnya Juno menggendong Anette seperti koala menuju unit miliknya.
Dengan hati-hati Juno merebahkan tubuh Anette di ranjang king size miliknya. Ia membuka sepatu dan kaos kaki Anette, lalu menyelimutinya sebatas leher.
Juno terdiam sejenak menatap gadis di hadapannya itu. Tangannya mengusap kepala Anette lalu mengecupnya.
Juno beralih pada ponsel Anette, ia mengirimkan pesan pada orang tua Anette agar tidak khawatir. Setelah itu ia beranjak keluar dari kamar.
Di pagi buta Anette terbangun dengan kepala yang terasa berat dan perutnya terasa melilit. Ia memperhatikan sekelilingnya yang gelap. Anette memegang perutnya yang terasa sakit melilit.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar dan menghidupkan saklar lampu. Orang itu Juno, laki-laki itu berjalan menghampiri Anette lalu duduk di tepian ranjang.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Juno khawatir melihat wajah pucat Anette.
Anette mencoba tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Ya, aku baik-baik saj- awhh," Anette meringis memegang bagiann perutnya.
"A-aku ingin ke toilet." Anette turun dari ranjang dengan langkah lunglai.
Baru tiga langkah Anette berjalan Juno segera merangkul pinggang Anette agar gadis tersebut bisa berdiri dengan baik.
"An, kau sedang datang bulan?" Tanya Juno dengan hati-hati.
"Hah?" Anette menoleh melihat roknya yang sudah bersimbah darah.
Anette juga melihat ke arah ranjang yang terdapat lumayan banyak bercak darah. Gadis tersebut terlihat panik sekaligus malu.
"Ju-Juno maaf aku tidak tahu. Biar kubersihkan dulu ranjangnya," langkah Anette ditahan oleh Juno.
"Biar aku saja. Lebih baik kau bersihkan dirimu terlebih dahulu," ucap Juno seraya mengusap punggung Anette.
Anette menggeleng.
"Tapi itu menjijikan Jun, biar ak-ahh Juno!" Anette terpekik kaget saat Juno secara tiba-teba mengangkat tubuhnya menuju kamar mandi.
"Bersihkan dirimu, biar nanti kubawakan baju ganti," ucap Juno sebelum keluar dari kamar mandi.
Sepeninggalan Juno, Anette memukul-mukul kepalanya sendiri. Ia sangat malu pada Juno yang sama sekali tidak terlihat marah padanya. Padahal noda darah pada sprainya lumayan banyak.
Di luar sana Juno mengganti sprai yang bersimbah darah mens Anette tanpa merasa jijik. Setelah itu Juno menelfon seseorang di seberang sana. Tidak butuh waktu lama, terdengar bunyi bel. Juno segera membuka pintu dan mengambil sebuah paper bag dari seorang laki-laki.
"Terimakasih Jamie, ternyata nyalimu cukup besar untuk mendapatkan barang-barang ini," ucap Juno pada laki-laki di hadapannya.
"Jika bukan karena upah besar yang kau berikan aku tidak akan melakukannya," dengus laki-laki bernama Jamie tersebut.
"Sudah sana!" Usir Juno seraya menutup pintunya tepat di depan wajah Jamie.
Dengan kesal Jamie menendang pintu apartemen tersebut.
Juno mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. "An, ini bajumu," panggil Juno.
Pintu tersebut terbuka sedikit. Anette menyembunyikan tubuhnya di balik pintu dan mengembulkan wajah pada celah pintu yang sedikit terbuka.
Anette meraih paper bag yang Juno sodorkan padanya. "Terimakasih," Anette kembali menutup pintunya.
Pipi Anette bersemu melihat isi paper bag di tangannya. Di dalam sana terdapat; satu pak pembalut, satu set pakaian dalam wanita, serta mini dress rumahan berwarna baby pink.
Anette segera memakai pakaiannya. Semuanya terlihat pas di tubuhnya yang mungil namun berisi di tempat yang tepat.
Anette merasa heran, bagaimana bisa Juno mengetahui ukuranku?
Anette keluar dari kamar mandi. Di sana ranjang sudah kembali tertata rapi. Sprai putih yang terkena noda darah kini telah digantikan dengan sprai berwarna hitam. Aneh, mengapa Juno terlihat biasa saja menghadapi darah mensnya. Bahkan Anette sendiri tidak bisa tenang setiap menghadapi darah datang bulannya sendiri.
Anette berjalan keluar dari kamar. Tenyata Juno sedang rebahan di sofa sambil menonton cartoon sepongeboob. Juno segera bangkit dari rebahannya saat melihat Anette datang menghampirinya. Gadis pucat itu duduk lesehan di atas karpet berbulu yang berada di bawah sofa.
"Apa masih sakit?" Tanya Juno.
"Lumayan. Terimakasih ya, maaf aku merepotkanmu," balas Anette.
"Santai saja, itu bukan masalah besar." Tangan Juno terulur mengusap kepala Anette.
"Kau tidak merasa jijik?" Tanya Anette.
Juno terkekeh, "untuk apa merasa jijik. Menstruasi itu normal untuk perempuan."
Anette menyandarkan tubuhnya di tepian sofa. Juno juga kembali merebahkan tubuhnya sambil memeluk bantal sofa.
"An, bagaimana hubunganmu dengan Kakakku?" Tanya Juno.
"Sudah berakhir," jawab Anette dengan singkat.
"Pantas saja kemarin kau terlihat galau sampai tertidur pulas di mobil," sindir Juno untuk menggoda Anette.
Anette memukul betis Juno. "Dasar menyebalkan," makinya pada Juno.
"Hahaha, sana lanjutkan tidurmu," ucap Juno.
"Kau saja, kau belum tidur bukan? Lagi pula dua jam lagi aku akan pulang dan bekerja."
"Aku bisa tidur di sini An. Oh ya, kau tidak perlu ke kantor, semalam aku telah mengajukan surat pengunduran diri untukmu pada Kak Keanu."
Ucapan Juno tersebut membuat Anette memutar tubuhnya menatap Juno. "Apa kau bilang? Ya Tuhan, aku masih membutuhkan pekerjaan itu Juno," ucap Anette sedikit menaikan nadanya.
Juno mengubah posisinya menjadi duduk.
"An dengarkan aku, kau tidak akan baik-baik saja di sana. Coba pikirkan keadaan hatimu nantinya." Juno memegang kedua bahu Anette yang naik turun menahan emosi.
"Kau bisa bekerja denganku, sebagai asistentu," lanjut Juno.
"Jun, aku takut Kak Keanu berpikir yang tidak-tidak karena kau selalu membelaku. Kau ingat bukan, ia juga pernah melihatku ada di sini." Anette terlihat cemas.
"Mengapa kau terlalu mempedulikan perkataan orang lain An?! Kau hidup untuk dirimu, bukan untuk orang lain. Apa itu juga yang memmbuatmu melakukan prubahan pada wajahmu?!" Bentak Juno yang membuat tubuh Anette bergetar dan matanya berkaca-kaca.
"Benar! Karena aku lelah dihina dan direndahkan karena wajahku. Hiks, kau tidak tahu bagaimana rasanya saat aku tidak mempunyai teman. Mereka menjauhiku! Aku hanya ingin keberadaanku dihargai selayaknya orang normal pada umumnya!" Balas Anette tak kalah emosi.
Juno sadar jika ucapannya barusan salah. Ia meringsut ke bawah memeluk Anette.
"Maaf, maaf ucapanku keterlaluan."
Anette memukul-mukul punggung lengan Juno. Hanya sebentar, karena tubuhnya terasa lemas. Barang untuk menggerakan tangannya saja Anette sudah tidak sanggup. Matanya juga semakin sayu.
"An hey! An kau baik-baik saja bukan?!" Juno meraih tangan Anette dan memukul-mukulkannya ke wajahnya sendiri.
"Ayo pulul aku An, pukul!"
Kali ini kesadaran Anette benar-benar hilang. Juno membawa Anette ke kamarnya lalu memanggil dokter keluarganya.
Sekitar setengah jam, akhirnya dokter tersebut sampai dan langsung memeriksa Anette.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Juno.
"Gadis ini sepertinya terlalu banyak pikiran dan kelelahan, ditambah saat ini ia sedang datang bulan. Ini vitamin yang harus kau tebus di apotik." Dokter itu memberikan secarik kertas.
"Ingat, jangan membuatnya stress atau pun melakukan aktivitas berat."
"Terimakasih dok." Juno menyalami tangan dokter itu.
Sepeninggalan sang dokter, Juno ikut berbaring di sisi Anette. Ia memeluk tubuh mungil gadis itu dan mengecup keningnya lama.
"Maaf," lirih Juno.
...
Makannya gak usah sok tahu masalah orang jelek! Eh-Curhat kwk.