Oplas

Oplas
bab 43



Ekpresi ibu yang aneh pun segera berbisik yang membuat aku kaget "ibu tidak salah" teriakku.


"Kamu sekarang kan orang kaya" aku pun diam memikirkan ucapan ibu.


"Okey, nanti aku kasih info ke ibu. Sekarang lebih baik ibu balik ke kamar" sambil mendorong ibu keluar dari kamar dan menutup pintu kamar.


Ibu pun segera pergi dari kamar ku namun saat ibu berjalan ke kamarnya "Setannnnn" teriak mama mertua menutup wajahnya melihat ibu yang wajahnya penuh masker.


"Heiii aku manusia" kesal ibu. "Suara jelek ini" celoteh mama sambil membuka matanya.


Aku yang baru saja membaringkan tubuh di ranjang segera duduk mendengarkan teriakan mama mertua, aku keluar kamar melihat perdebatan mereka.


"Mending aku dengerin lagu aja, tidak akan selesai perang dunia ke tiga di rumah ini" celoteh ku menutup pintu kamar membiarkannya.


Pertengkaran itu membangunkan semuanya sehingga kakek yang kaget pun membawa sapu memukul mereka ibu dan mama sehingga pertengkaran itu berhenti karena ibu dan mama segera berlari masuk ke kamar mereka masing-masing, Hito yang tertawa pun menunjukkan jempolnya kepada kakek.


"Kek mereka berdua itu seperti kucing dan anjing, harus ada monster seperti kakek yang membuat mereka berhenti" ucap Hito hingga membuat kakek tertawa mendengarnya.


Bik Ija pun segera membantu kakek berjalan masuk ke kamarnya untuk istirahat tidur, keesokannya aku pun di ruang makan aku langsung mengambil makanan untuk kakek "Hiara gimana" tanya ibu sambil mengunyah makanannya.


"Ibu aku belum berbicara dengan dokter" jawabku berjalan pergi meninggalkan mereka.


Mama mertua pun penasaran "apa maksudnya dokter, apa yang akan dilakukan oleh wanita jelek di depan ku ini" celoteh mama dalam hatinya.


Meri yang keluar dari kamar pun segera mengulurkan tangannya, mama pun memberikan tangannya "ma bukan ini" kesal Meri.


"Apa?"


"Uang jajan ma, uang ku habis dan ATM sekarang tidak bisa di gunakan lagi karena aksesnya sudah di ganti sama kak Hiara" ucap Meri yang membuat mama kaget.


"Hah" mama pun mengambil hpnya dan melihat uang di rekeningnya 0 "apa ini uangku" kesal mama.


Saat aku masuk pun mama langsung berteriak "Hiara apa-apaan ini kenapa Meri tidak bisa menggunakan akses ATM nya sedangkan ATM mama ada 0."


Aku pun tersenyum "ma itu semua ulah papa, aku bahkan belum masuk ke perusahaan jadi gimana aku bisa mengatur itu semua" ucapku membuat mama dan Meri saling menoleh.


Mama pun pergi ke kamar di susul oleh Meri mengambil dompetnya yang berisi uang cas 2 juta rupiah "ini" memberikan 500 ribu kepada Meri.


"Ma, ini tidak cukup dan hanya ongkos taksi sekali lewat" kesal Meri "mama ngak punya uang cash kalo gitu kamu minta papa saja" mendengar ucapan mamanya itu Meri mengambil seluruh uang yang ada di tangan mama.


"Ma, ini cukup untuk hari ini" Meri pergi meninggalkan mama berlari keluar.


"Hei anak nakal, itu uang mama" teriak mama yang tidak di hiraukan oleh Meri.


Mama yang kesal pun tetap berjalan ke meja makan, ibu pun dengan cerewet nya "Hiara cepat katakan hari ini, ibu perlu perawatan untuk hari ini" aku yang kesal mendengar ucapan ibu pun segera mengambil hp dan menelpon dokter menceritakan apa yang di inginkan oleh ibu.


Dokter pun memberikan rencana kepadaku sehingga aku tertawa "kenapa tertawa" tanya ibu yang melihat aku senang.


"Wanita ini akan cantik karena dokter yang sudah mengoperasi Hiara, kalau dia cantik dan aku seperti ini bisa-bisa aku di ejek habis-habisan. Ini ngak boleh terjadi" ucap mama dalam hatinya.


"Hiara" panggil mama.


Aku pun menoleh menghentikan makanan ku "iya ma."


"Aku hari ini ikut juga yah menemui dokter itu" aku pun tersenyum mengangguk.


"Enggak, dia ngak boleh ikut. Semalam dia mengejekku jelek hari ini dia mau ikut, dia pasti tidak suka aku cantik makanya dia mau ikut-ikutan" ucap ibu.


"Hei, kamu itu mau di apakan saja tetap jelek" ejek mama.


"Aku akan cantik nanti, kamu iri sekali sampai mau ikut-ikutan."


"Siapa yang mau ikut-ikutan, aku sudah lama tidak ke dokter untuk perawatan."


"Kalau gitu pergi ke dokter lain jangan pergi ke calon menantuku."


"Wanita gila, Hiara itu masih istri dari anakku jadi jangan bilang orang lain menantu mu."


"Bodoh, siapa yang suka punya besan seperti kamu."


Aku pun berdiri "ayo kita pergi, hentikan pertengkaran yang tidak akan habis ini" aku berjalan ke kamar mengambil tas.


Ibu dan mama pun segera ikut ke kamar mengambil tas mereka dan berlari secepat mungkin mengejar ku yang masuk ke dalam mobil.


Aku yang duduk di mobil pun susul oleh Hito yang duduk di sampingku, Ibu dan mama yang hendak masuk pun saling toleh "duduk belakang, tidak usah protes" ucapku membuat mereka menurut.


Hito pun tersenyum "Selain kakek, kakak orang ke dua yang bisa menjinakkan mereka" bisik Hito yang membuat kami berdua sambil tertawa.


Mobil pun berhenti di depan klinik kecantikan praktek Dokter Nando "turun, sudah sampai" ucapku membuat mereka berdua bingung.


"Ini tempatnya" ucap Ibu.


"Iya, dokter sudah menunggu di dalam. Aku akan pergi jadi ibu dan mama duluan saja" mereka pun segera turun dari mobil dan masuk ke dalam di sambut ramah oleh karyawan di sana.


Mereka berdua menunggu sampai dokter Nando menghampiri mereka "calon mantu" teriak ibu membuat mama yang melihat itu pun sinis karena semua mata tertuju kepada mereka "apaan mantu-mantu, dasar ngak tau malu" ucap mama dalam hatinya.


"Ayo Bu dan Tante kita langsung saja" mereka pun mengikuti dokter ke ruangan terus di berikan sepasang baju oleh karyawan wanita di sana.


Selesai ganti baju mereka di bawa ke ruangan gym, ibu pun tercengang "apa ini mantu, kenapa ada alat-alat berat begini" pertanyaan ibu itu membuat mama tertawa terbahak-bahak .


"Apaan lu tertawa gitu, nanti keriput lu nambah" kesal ibu "lu tu yah norak, ini gym tempat fitness untuk olahraga" jawab mama.


"Mantu aku bukan mau olahraga tapi aku mau cantik" dokter yang mendengar itu pun tersenyum "Sebelum cantik bukannya harus kuat fisik dulu karena cantik itu membutuhkan tenaga jadi ibu dan Tante memerlukan waktu minimal 3 bulan untuk itu" jelas dokter.